Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Tauhid, Inti Da`wah Para Rosul


Alloh Subhanahu wa Ta'ala tidaklah menciptakan manusia, lantas ditelantarkan, dibiarkan begitu saja hidup tanpa tujuan.

“Apakah manusia mengira bahwa mereka ditelantarkan dan didiamkan saja?.” (QS. al-Qiyamah: 36).

Imam Syafi'i saat menafsirkan ayat ini mengatakan, “Tidak diperintah dan tidak dilarang?” (Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid).

Akan tetapi Alloh Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)

Ibadah harus didasarkan pada tauhid. Ibadah tanpa tauhid, tidak bernilai sama sekali, dianggap batil. Siapa yang tidak mengakui tauhid, dianggap tidak beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala. Dari sini jelas sudah, apa tujuan da’wah para rosul bagi setiap umatnya, karena yang menjadi tujuan Alloh Subhanahu wa Ta'ala pastilah juga menjadi tujuan para utusan-Nya.

Semua Nabi dan Rosul, inti seruan da’wahnya sama. Tidak ada yang beda. Dari zaman Nabi Adam Alaihi Sallam hingga Nabi dan Rosul terakhir, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Semuanya menda’wahkan tauhid dan melarang ibadah kepada selain Alloh Subhanahu wa Ta'ala.

“Dan tidaklah Kami utus seorang rosul sebelum kamu (Muhammad), kecuali telah Kami wahyukan kepadanya bahwa sesungguhnya tiada Ilah (sesembahan yang benar) kecuali Aku, maka sembahlah Aku.”(QS. al-Anbiya [21]: 25).

Tauhid merupakan inti dan dasar dari seluruh tata nilai dan norma Islam, sehingga Islam dikenal sebagai agama tauhid. Da’wah Tauhid bukan hanya da’wah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, tetapi merupakan da’wah setiap nabi dan rosul yang diutus Alloh Subhanahu wa Ta'ala (QS. al-Anbiya': 25)
Nabi Nuh menda’wahkan tauhid (QS. al-A'raf [7]: 59). Nabi Hud menda’wahkan tauhid (QS. Hud [11]: 50). Nabi Sholih menda’wahkan tauhid (QS. Hud [11]: 61). Nabi Syu'aib menda’wahkan tauhid (QS. Hud [11]: 84). Nabi Musa menda’wahkan tauhid (QS. Thoha [20]: 13-14). Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ismail juga menda’wahkan tauhid (QS. al-Baqoroh [2]: 133). Juga Nabi Isa da’wahnya adalah tauhid (QS. al-Maidah [5]: 72).

Semua Nabi membawa risalah Islam dan menyerukan Islam yang murni. Menyerukan peradaban robbani. Menyeru hidup di bawah aturan-aturan wahyu nan suci. Mempersembahkan kehidupan secara keseluruhan untuk Alloh Subhanahu wa Ta'ala. Sampai-sampai, perang pun dikumandangkan demi tegaknya tauhid.
Walaupun terkadang di masa dan kaum tertentu ada masalah khusus yang akut, tetap, da’wah para nabi tak pernah bergeming, terus menda’wahkan tauhid. Tauhid adalah sumber kebahagiaan, keamanan, keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan sejati. Apabila nilai-nilai tauhid dilanggar, segala masalah sudah pasti cepat sekali menyebar tanpa terkendali.

Terhadap penyembahan berhala, homoseksual, tirani durjana, kecurangan dalam timbangan, keglamoran kehidupan dunia yang membuat lena, para nabi memulai, mengiringi, bahkan ujung seruannya adalah da’wah tauhid. Artinya, apapun masalah yang menimpa umat, semua harus dihadapi dengan da’wah tauhid.

Gambaran da’wah tauhid merupakan pemandangan yang sangat luar biasa mengagumkan. Pemandangan pertarungan yang mendalam, di tengah-tengah kancah kehidupan, sepanjang sejarah manusia. Bertempur dengan iblis dan bala tentaranya. Berinteraksi dengan alam semesta. Berinteraksi dengan makhluk hidup. Berinteraksi dengan al-Mala’ al-A’la (alam tinggi) dan malaikat-malaikat-Nya. Sebab pejuang tauhid didukung oleh segenap penghuni langit dan bumi. Sorak-sorainya terdengar jelas membahana oleh telinga iman, lantunan doa dukungannya terlantunkan hingga ikan di lautan, semut di peraduan. Tak ada yang absen untuk memberi dukungan.

Sejarah telah mencatat bagaimana kelompok mulia ini, dengan arahan dan instruksi dari Alloh Subhanahu wa Ta'ala, berusaha menyelamatkan kafilah manusia dari jurang, karena setan telah menyeret ke dalamnya dengan dibantu oleh setan-setan manusia yang sombong dari menerima kebenaran di setiap zaman.
Musuh besar dari da’wah tauhid ini adalah thogut. Menjauhi, membenci, memusuhi para thogut dan para pengikutnya adalah separuh dari inti da’wah para nabi.

“Dan sesungguhnya telah Kami utus seorang rasul pada setiap ummat agar mereka menyeru, Beribadahlah kalian semua kepada Alloh dan jauhilah thaghut.”(QS. an-Nahl [16]: 36).

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh Rahimahulloh berkata, “Sesungguhnya Dia telah mengutus seorang rosul kepada setiap kelompok manusia dengan kalimat yang tinggi, “Beribadahlah kalian kepada Alloh dan jauhilah thaghut”, yang artinya adalah beribadahlah kalian hanya kepada Alloh semata dan tinggalkan peribadatan kepada selain-Nya.”

Thoghut, dijelaskan Ibnul Qayyim, segala sesuatu yang diperlakukan hamba hingga melebihi batas, seperti disembah, diikuti atau ditaaati (dalam hal yang melanggar syariat). “Thogut yang disembah seperti patung, berhala, keris, jimat, dan lainnya. Thogut yang diikuti seperti ulama-ulama sesat, rahib-rahib, tokoh-tokoh agama batil, dan sebagainya. Thogut yang diaati seperti Fir’aun dan penguasa-penguasa, emir, presiden yang tidak mengikuti Kitabulloh, dan seterusnya.

Di depan mata kita, berbagai thogut telah mereduksi Islam dari akar kehidupan rakyat dan umat. Di tengah-tengah kemelaratan rakyat yang massif, hiruk-pikuk maksiat, dahsyatnya persaingan duniawi, musuh-musuh da’wah saling merebut wilayah jajahan, menghegemoni dunia, memeras kekayaan alam, menjadikan umat sebagai sapi perahan.

Bukan hanya merampas kekayaan dan sumber daya alam semata, tetapi para penjajah itu merampas keyakinan umat Islam, dan digantikan dengan nilai-nilai thogut (sekuler, liberal, nasionalis). Umat Islam yang berusaha berjuang, berda’wah, menjaga kemurnian mereka dipandang secara rasis.

Para penjahat itu bukan hanya memiskinkan rakyat dari materi, tetapi yang lebih kejam lagi, mereka memiskinkan nilai-nilai yang sangat berharga bagi kehidupan umat, yang dapat memberikan ketenteraman, kebahagiaan, dan masa depan mereka, yaitu Islam. Inilah sebuah kejahatan yang tiada taranya.
Posisi da’wah kita sangat jelas, dan tak pernah berubah, apapun yang terjadi. Kita akan senantiasa terus meniti jalan da’wah yang telah digariskan dengan jelas oleh para nabi.

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alloh, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am [6]: 90)

Bangkitlah saudaraku..!! Bergeraklah bersama dalam satu barisan yang teratur! Kokohkan harokah ini! Kelak kita akan menyaksikan tumbangnya para pendusta di setiap akhir perjalanan dan keselamatan orang-orang mukmin setelah diberi peringatan.

Sumber

~

Meninggikan Kalimatulloh


Kalimatulloh (Syahadah laa ilaaha illalloh) atau kalimah Alloh adalah kalimat yang paling tinggi. Tidak ada yang lebih tinggi melebihi kalimat ini. Sering juga disebut sebagai kalimah tauhid dan kalimah taqwa. Al-Qur’an menggambarkan kalimah tauhid ini sebagai kalimah toyyibah yaitu kalimah yang teguh dan kuat. Meninggikan kalimatulloh berarti meletakkan ketinggian itu pada tempat yang semestinya.

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Alloh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimah thoyyibah) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya.” (QS. Ibrahim: 24-25)

Islam dengan segala konsep dan hukumnya adalah manifestasi dari kalimat laa ilaaha illalloh. Islam sebagai dien mempunyai konsep yang jelas, lengkap dan dapat dibuktikan kebenarannya. Segala tata aturannya langsung berasal dari Alloh, Dzat yang paling mengetahui seluk-beluk kebutuhan manusia. Semua hukum Islam, apabila diterapkan dalam kehidupan, akan menghasilkan manfaat yang luar biasa.

Sedangkan konsep, sistem atau hukum selain Islam buatan manusia selalunya tidak lengkap, tidak jelas dan bersifat berubah atau sementara. Konsep Islam dilandasi oleh syahadat, sedangkan selain Islam landasannya adalah pemikiran jahiliyah. Pemikiran jahiliyah sebagai landasan dari konsep hukum selain Islam merupakan kalimat syirik yang menjadi saingan konsep, sistem dan hukum Islam.

Contoh konsep syirik jahili adalah materialisme, kapitalisme, komunisme, nasionalisme dan isme lainnya. Isme-isme ini tidak mempunyai landasan yang kuat dan efek penerapannya pun minim manfaat, bahkan madharatnya berkuadrat-kuadrat. Pantaslah Alloh Ta’ala menyebutnya sebagai kalimah khobitsah yang lemah dan tidak kuat.

“Dan perumpamaan kalimat yang buruk (kalimah khobitsah) seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Alloh meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Alloh menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 26-27)

Pertempuran dua kalimat ini akan selalu mengabadi. Dari dulu sampai dengan hari ini bahkan nanti. Medan perangnya bernama da’wah. Semua nabi dan rasul datang untuk mengingatkan manusia agar kembali meninggikan kalimat Alloh dan menegakkan hukum-hukum-Nya serta meninggalkan segala kalimat syirik jahili yang bersumber dari hawa nafsu yang menyimpang.

Semua da’i mengorbankan segalanya demi tingginya kalimat ini. Sedang Iblis beserta bala tentaranya telah bersiap menghadang, memalingkan, bahkan merekrut sebanyak-banyaknya agar bergabung bersama mereka menghadang para pejuang tauhid. Di sini tidak ada logika penonton. Kalau tidak merekrut ya… terekrut.
Bukan hal yang mengherankan apabila perjuangan meninggikan kalimatulloh menemui banyak fitnah dan rintangan yang tak bertepi.

Upaya pemalingan dari kalimat agung nan indah ini pernah terjadi di zaman Rosululloh . Ibnu Hisyam menyebutkan, jika Rosululloh sedang duduk-duduk di majelis dalam rangka berwasiat tentang Alloh, mengingatkan manusia, maka seusai beliau melakukan itu, an-Nadhar berkata kepada orang-orang, “Demi Alloh ucapan Muhammad tersebut tidak lebih baik dari ucapakanku ini.” Kemudian dia mengisahkan kepada mereka cerita raja-raja Persia, Rustum, dan Asvandiar.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, an-Nadhar membeli seorang budak perempuan. Maka, setiap dia mendengar ada seseorang yang tertarik terhadap Islam, dia segera menggandeng-nya menuju budak perempuannya tersebut, lalu berkata kepada budak perempuannya, “Hidangkanlah untuknya makanan serta bernyanyilah untuknya. Ini adalah lebih baik dari apa yang ditawarkan oleh Muhammad kepadamu.” Maka turunlah firman Alloh :

“Dan diantara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Alloh.” (QS. Luqman: 6)

Nabi Musa ketika memperjuangkan kalimat ini di depan tirani zaman itu, malah difitnah. Alloh menyebutkan pernyataan Fir’aun:

“Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabb-nya karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.”

Lihat, thogut zaman itu tiba-tiba begitu peduli dengan keamanan dan agama rakyatnya. Padahal, sebelumnya, dia lah perusak agama dan pembuat onar. Fakta diputarbalikkan, disebut Musa-lah yg menukar agama mereka dan mengajak untuk membuat kerusakan. Dari rekaman sejarah di dalam al-Quran ini jelas sudah bahwa salah satu cara para penguasa diktator untuk menghancurkan gerak da’wah Islamiyah adalah dengan membuat opini seolah-olah para dai merupakan bagian dari orang-orang yang mengajak pada kehancuran dan kebinasaan.

Usaha-usaha tersebut menjadi semakin mulus dengan dukungan media informasi yang ada dalam genggaman mereka. Sementara umat masih dalam kebodohannya karena da’wah belum seluruhnya menyentuh kehidupan mereka. Pada akhirnya penguasa semakin leluasa menggebuk dan menghancurkan para dai.

Fenomena semacam ini terus berulang dari zaman ke zaman dalam bentuk dan sarana yang bermacam-macam. Maka bagi para dai yg ikhlas harus berupaya mengantisipasi kenyataan-kenyataan tersebut sebagaimana kemampuan Musa membendung kekuatan Fir’aun. Babak akhir menentukan Musa tampil menjadi pemenang dalam memperjuangkan kalimatullah.

Perjuangan dan pergerakan menuju cahaya illahi, demi tegaknya Islam menjadi rahmatan lil alamin yang akan menguasai dunia dengan keselamatan dan kemuliannya tidak akan pernah berhenti. Sebab Islam adalah Way Of Life, Islam adalah Problem Solving, Islam adalah sebuah Ideologi. Dengan Islam kita semua akan menjadi mulia. Kita umat yang mulia dengan Islam. Mari kita berjuang bersama demi tegaknya hukum Alloh dengan Islam.

Hidup merupakan pertarungan pemikiran, pertarungan keyakinan, pertarungan antara keimanan dan kekufuran. Maka jiwa harus mantap dengan keyakinan untuk meninggikan kalimat Alloh, untuk menjadikan agama hanya untuk Alloh, untuk menjadikan hukum-hukum hanya kepada Alloh, supaya tidak ada sekutu yang disembah, supaya tidak ada seorang pun yang disembah selain Dia, supaya ketundukan kepada syari’at Alloh menjadi sempurna. Dengan makna ini tentu merupakan pertarungan segala aspek, sebab mewajibkan agar tidak boleh ada pengaturan seluruh urusan manusia kecuali syari’at Islam.

Pejuang agama tauhid adalah mujahidnya Alloh, dengan jihad umat Islam akan mulia, ditakuti dan disegani oleh musuh-musuh islam. Tapi sayang, umat zaman sekarang telah banyak yang terpedaya oleh manisnya kata Demokrasi, kebebasan, dan paham sesat lainnya yang sengaja ditiupkan langsung kepada hati dan pemikiran umat Islam.

Banyak hal yang patut kita renungkan, bagi diri kita, anak-anak kita dan umat kita. Banyak hal yang harus kita kerjakan. Semuanya agar mereka kelak dapat meninggikan kalimat Alloh di muka bumi. Sesungguhnya, jika kita dan umat kita meninggikan kalimat Alloh di muka bumi, maka Alloh akan meninggikan martabat mereka di hadapan manusia di seluruh dunia. Lebih-lebih di hadapan orang-orang kafir dan musyrik.

Kita lihat Rosululloh setelah mendirikan negara Islam di Madinah al-Munawarah dan memancangkan tiang-tiang negara, beliau kemudian mengutus utusan-utusan kepada para raja dan menyeru mereka (para raja itu) kepada Islam.

Kita lihat Rosululloh dan para Khalifah sesudah beliau mengutus para pengemban da’wah, para mujahidin dan pasukan untuk menyeru manusia kepada iman untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya dan berperang untuk menundukkan berbagai negeri dan para penduduknya kepada kekuasaan Islam. Hal itu merupakan da’wah untuk menjadikan penghambaan hanyalah kepada Alloh dan penentuan hukum hanyalah bagi Alloh. Kita adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk seluruh ummat manusia, pengikut Muhammad , nabi akhir zaman, dan pemimpin para mujahid.

Hai, kaum muslimin pelopor kebangkitan Islam. Di tanganmulah kebangkitan Islam akan tercapai, dan kemuliaan islampun juga ada ditanganmu.

“Siapa saja yang berperang agar kalimat Alloh menjadi satu-satunya yang tinggi, itulah fi sabilillah” (HR. Bukhori Muslim)

Sumber : Intisari HASMI

~

Islam Liberal, Bangkitnya “Islam Protestan”

Seorang Luthfi Asy-Syaukani (dosen Universitas Paramadina Jakarta), tokoh Jaringan Islam Liberal yang menjadi moderator di e-group pernah mengutarakan (tanggal 13-03-2001) tentang tujuan berdirinya Islam Liberal : “Saya melihat bahwa mayoritas umat Islam yang ada sekarang adalah Islam ortodoks, baik dalam wajahnya yang undamentalis maupun konservtif. Islam liberal datan sebagai sebuah bentuk protes dan perlawanan terhadap dominasi itu. Ketika kita mengatakan “bebas dari” dan “bebas untuk”, kita mmposisikan diri menjadi seorang yang “protestan” yang berusaha mencari hal-hal yang baik dari warisan agama dan membuang hal-hal yang buruk. Saya membayangkan semangat protestanisme itu adalah semangat yang seluruhnya bersifat positif, seperti yang dijelaskan dengan sangat bagus oleh Weber. Dalam bayangan saya, “Islam liberal” adalah sebuah gerakan reformasi (dalam semangat protestanisme klasik) yang berusaha memperbaiki kehidupan umat Islam, baik menyangkut pemahaman keberagamaan mereka maupun persoalan-persoalan lainnya (politik, ekonomi, budaya, dll)”.

Dari ucapan tokoh Islam Liberal diatas bisa dilihat tujuan JIL (jaringan Islam Liberal) adalah mem-protestan-kan Islam sebagaimana Martin Luther pernah mem-protestan-kan Kristen Katholik di Barat…..Bahkan Islam Liberal hendak mereformasi Islam sampai ke akar-akarnya. Maka bisa kita lihat perbedaan Islam yang dibawa Muhammad dengan Islam Liberal, mulai dari aqidahnya, undang-undangnya, fiqih, dan mu’amalahnya, seperti yang akan dibahas pada penjelasan berikutnya.

Pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta kristen asal Irak dan guru besar Universitas Birmingham Inggris berkata : “Sudah tiba saatnya untuk melakukan kritik teks terhadap Al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani” (Buletin of the Jahn Rylands Library Manchester, 1927, XI:77)

Sebagai langkah konkrit, salah seorang dari mereka yang bernama Taufik Adnan Amal tengah membuat Qur’an Edisi Kritis, yakni Al-Qur’an Edisi Revisi. Luar Biasa!! Bukan hanya terjemahannya yang hendak diubah, namun Nash Arab-nya pun juga hendak diubah! Seakan-akan mereka hendak menjawab tantangan Allah dalam QS. Al Baqarah 23-24.

Usaha ini sebenarnya telah ditempuh oleh para orientalis pendahulu Islam Liberal yang dengan susah payah mengumpulkan hingga 30.000 manuskrip lembaran yang (konon katanya) berisi ayat-ayat Al-Qur’an untuk membuktikan bahwa mushaf Utsmani (yang kita baca hari ini) tidak layak diyakini keasliannya. Namun Allah menggagalkan tipu daya mereka. Disebutkan oleh Gerd-R Puin dalam The Qur’an as Text : “rencana Bergstrasser, Jeffery, dan Pretzl untuk mempersiapkan Al-Qur’an Edisi Kritis tidak terwujud, dan kumpulan manuskrip dengan berbagai variannya telah musnah karena Bom pada Perang Dunia II”. Subhanallah..

Slogan yang sering mereka gunakan adalah “Beragama untuk manusia”. Artinya, segala penafsiran terhadap Qur’an harus sesuai dengan keinginan dan hasrat manusia pada umumnya. Maka tafsirnya diambil dari tokoh-tokoh humasisme. Siapa sajakah mereka? Yakni Socrates, Plato, Aristoteles, dan bahkan Karl Marx yang notabene Atheis!! Apakah mereka mengira orang-orang kafir itu lebih manusiawi daripada para Shahabat Nabi? Lebih manusiawi dari Nabi? Mereka juga menggembor-gemborkan tafsir model Hermeneutika. Yakni metode tafsir yang dulu dipergunakan oleh para teolog Yahudi dan Kristen untuk meneliti kehidupan para penulis kitab suci Yahudi dan Nasrani, untuk menentukan layak dan tidaknya mereka sebagai penulis Kitab Bibel, mereka itu antara lain seperti Markus, Matius, Lukas dan Yahya. Istilah Hermeneutika sendiri diambil dari kata “hermen”, yaitu nama seseorang dalam mitologi Yunanai, yang bertugas menyampaikan dan menafsirkan pesan-pesan dewa di Gunung Olympus ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia. Cara penafsiran yang sama (model Hemeneutika) hendak mereka terapkan terhadap Al-Qur’an! Seolah-olah mereka tidak mempercayai Nabi sebagai penafsir makna Al-Qur’an dari Allah kepada umat manusia. “Dan barangsiapa yang berbicara tentang (menafsirkan) Al-Qur’an dengan pikirannya sendiri, maka dipersilahkan menempati tempat kedudukannya di neraka” (HR. Tirmidzi).

Upaya-upaya mereka dalam membuat kekacauan dalam kehidupan beragama umat Islam saat ini antara lain dengan mengupayakan berbagai macam cara, sehingga Islam ini dirusak mulai dari permukaannya hingga pada dasarnya (aqidahnya). Upaya-upaya tersebut antara lain:

Memberangus Sunnah Nabawiyah, yaitu intinya adalah dengan menuduh shahabat Abu Hurairah r.a, sebagai orang yang tidak tsiqah (tidah terpercaya) dan seorang pemalas. Disebut demikian karena Abu Hurairah adalah orang yang tidak punya pekerjaan dan kebiasaannya adalah mengikuti Nabi kemanapun Nabi pergi. Hal tersebut sebenarnya salah kaprah, karena ibaratnya seorang mahasiswa yang sering mengikuti kelas dosennya, maka mahasiswa tersebut adalah mahasiswa yang amat sangat rajin. Demikian pula Abu Hurairah. Apabila Abu Hurairah tidak dipercaya, maka akan ada ribuan hadits (+ 5000an hadits) yang akan dihapus. Naudzubillah..
Mendewakan Akal. Semua yang ada dalam Qur’an harus sesuai dengan akal manusia. Apabila tidak sesuai, maka tidak dipakai. Seperti itulah mereka orang-orang JIL. Sehingga dengan demikian, Syariat Islam tidak akan pernah dapat ditegakkan apabila manusia menafsirkan firman-firman Allah sesuai akal. Akal manusia harus tunduk terhadap Wahyu Allah.
Fikih Serba Boleh / Fikih Sesuai Selera. Karena berlandaskan Agama Untuk Manusia, maka apapun yang diinginkan manusia, agama harus memperbolehkan. Maka tidak heran apabila orang-orang Islam Liberal itu membela mati-matian orang-orang seperti Waria, membela adalnya Lokalisasi PSK, Penjudi, dan lain sebagainya.
Pluralisme Agama / Penyamarataan semua agama. Mereka mengatakan semua agama itu baik. Maka tidak boleh ada agama yang menganggap paling baik. Artinya, semua agama sama. Padahal Allah menetapkan dalam QS Ali Imran 85, Islam agama yang diterima Allah.
Penyamarataan soal Gender. Posisi pria dan wanita dianggap sama pada semua lini kehidupan, sehingga terjadilah Imam Sholat seorang wanita, Adzan dilakukan oleh wanita, dll. Padahal Islam menetapkan keadialan Gender itu dengan lebih baik, sesuai kodrat manusia.
Trend Nikah Beda Agama dan Nikah Sesama Jenis (Gay – Lesbian). Karena Islam Liberal menganut Agama sesuai selera manusia, maka dibolehkanlah hal tersebut diatas. Padahal Nikah beda Agama itu dalam Islam hukumnya dianggap Zina.
Itulah mereka Orang-orang Islam Liberal (di Indonesia dikenal sebagai Jaringan Islam Liberal alias JIL). Mereka menganggap seolah-olah mereka lebih benar dari orang Islam saat ini, bahkan mereka menganggap keislaman mereka lebih benar daripada para shahabat Nabi. Sesungguhnya mereka telah terjatuh pada kesesatan yang sama seperti halnya Iblis dahulu, yang dikisahkan dalam QS Al Baqarah: 34. Iblis merasa api lebih tinggi daripada tanah, padahal tidak ada ketetapan Allah mengenai hal tersebut. Islam Liberal juga sama kasusnya, mereka mengira pemikiran mereka lebih utama daripada pemikiran shahabat, bahkan Nabi. Apabila ditinjau lebih jauh lagi, sesungguhnya mereka adalah korban dari konspirasi zionisme kafir Yahudi.

Umat Islam, waspadalah!! Musuhmu telah mengepungmu dari berbagai arah dan dari berbagai bidang kehidupan. Persiapkanlah dirimu, kuatkanlah Aqidahmu, karena hanya dengan Aqidah yang kuat, kaum muslim bisa membedakan, mana kawan, mana lawan

Sumber: http://misbahonline.wordpress.com/2011/05/12/islam-liberal-bangkitnya-islam-protestan/

~

Menegakkan Negara Islam

Akhir-akhir ini merebak isu NII KW 9, yang sebenarnya sudah lama ada di Indonesia. Sudah bukan rahasia isu NII KW 9 muncul kembali didalam sandiwara negeri ini yang di dalangi oleh pemerintahan sendiri. Negara Intelejen Indonesia ini cukup banyak mendapat dukungan dari berbagai parpol demi mendulang suara maupun lembaga pemerintahan.

NII KW 9 merupakan sebuah lembaga untuk memgkaburkan bagaimana indahnya Negara Islam. Lembaga ini memang di rancang orang dan badan yang membenci Negara Islam. namun adapulang sebagian para pemikir Islam mengatakan :”Kami terjun dalam pemilu dalam rangka mendirikan negara Islam.”

Persoalannya adalah bagaimana mungkin orang yang di awal langkahnva menginjak- nginjak Islam dapat menegakkan negara Islam dan menerapkan hukum syariat sementara dia sendiri adalah orang yang pertama kali mengalah dalam perkara syariat? Bukankah undang-undang pemilu adalah bagian dari UU sekuler yang diimpor dari Eropa?

Jawabnya :Tentu sebagaimana telah lalu.Bila mereka benar-benar ingin menegakkan negara Islam sesuai dengan ucapan mereka, kenapa mereka tidak memulainya dengan menolak pemilihan umum? Dan mengatakan, kami tidak menerima pemilu karena ia adalah sistem thaghut. Kami tidak pernah mendengar seorang pun dari mereka membantah bencana ini. Bahkan dengan tunduknya mereka kepada UU (barat) dalam perkara pemilu berarti mereka telah siap untuk berkompromi setiap kali mereka hendak memperbaiki hukum- hukum demokrasi. Bagaimana mungkin mereka ridha diatur oleh hukum ala barat lalu mengatakan, kami akan menegakkan hukum Allah? Ini semua hanya slogan kosong belaka.

Dan ini kami anggap sebagai sikap merendahkan diri dan memang mereka selalu mengalah. Sekedar contoh, mereka mengatakan :”Kami akan menegakkan negara Islam.”Dan mereka terus menggembar-gemborkan kalimat ini dalam beberapa masa kemudian kita tidak mendengar apapun melainkan mereka telah memiliki slogan baru yakni :”Sesungguhnya kami tidaklah menginginkan kecuali perbaikan sesuai dengan kadar kemampuan.”

Mereka mengalah dari rencana menegakkan negara sampai akhirnya menghendaki perbaikan menurut kadar kemampuan mereka. Padahal tidak diragukan lagi bahwa wajib bagi tiap kaum Muslimin untuk memperbaiki apa yang mereka mampu. Ayat ini adalah ucapan Nabiyullah Syuaib Alaihis Salam pada asalnya. Lantas mereka menjadikan agama dan ayat semata-mata hanya sebagai kumpulan slogan omong kosong.

Slogan terakhir yang mereka serukan merupakan bukti dari sekian banyak sikap mengalah mereka. Bisa diambil kesimpulan bahwa mereka telah gagal dalam memberikan gambaran yang lemah sekitar penegakkan daulah Islam. Dan mereka terus meniti tangga-tangga untuk mengalah. Kami sangat khawatir mereka akan menghilangkan yang masih tersisa pada mereka yakni Islam karena penyimpangan- penyimpangan dimulai sedikit demi sedikit hingga lepas semua. Maha Benar Allah yang telah berfirman “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.” (QS. An Nur : 21)

Perhatikanlah akhir dari “orang yang menginginkan perbaikan menurut kemampuannya”, ia memerintahkan untuk menyelisihi syariat dengan dalih kemaslahatan. Dan dia mengalah dari satu kebenaran merupakan sebab diturunkannya azab Allah di dunia dan di akhirat.

Allah Azza wa Jalla berfirman :”Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat(hati)mu niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.” (QS. Al Isra : 73-75)

Kalau begitu, apa artinya mengalah dan manfaat apa yang bisa diambil bila sikap mengalah ini mendatangkan azab Allah yang buruk di dunia dan di akhirat?

Firman Allah Azza wa Jalla :”Dan pastilah azab di akhirat lebih pedih dan lebih kekal.” (QS. Thaha : 127)Juga firman Allah lainnya :”Dan sesungguhnya azab di akhirat lebih hina sedangkan mereka tidaklah ditolong.” (QS. Fushilat : 16)

Orang-orang kafir di sini tidak menuntut kepada Nabi kita agar meninggalkan agamanya karena mereka tahu bahwa Nabi tidak akan melakukan hal itu. Namun mereka menuntut Nabi agar mengalah (memberi konsesi) meski dalam sebagian kecil kebenaran. Rabb kita telah menganugerahkan kepada Nabi kita dengan anugerah kebaikan dan pemahaman yang lurus serta ketegaran dan perlindungan ketika menghadapi orang-orang musyrik. Ayat ini memberikan faidah bahwa menggaet tokoh pimpinan dan penguasa agar mereka menjadi pelopor terdepan dalam barisan dakwah dalam takaran dakwah kepada Allah tidaklah diperbolehkan karena mengalah dalam perkara agama ini walau dengan dalih untuk mewujudkan kemaslahatan dakwah tidaklah diperbolehkan. Allah Azza wa Jalla telah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia :”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati- hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al Maidah : 49-50)

Al Quran Al Karim telah memperingatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari sikap mengalah kepada siapapun dan kekuasaan manapun, baik di bawah kendali orang- orang yahudi maupun musyrik. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam diminta untuk tidak keluar dan tidak goyah berhukum dengan hukum Allah Azza wa Jalla bahkan Allah mengancam Nabi-Nya dengan ancaman yang sangat keras dan siksa yang sangat menyakitkan apabila terjadi padanya kelancangan dalam menisbatkan hukum yang tidak difirmankan dan disyariatkan oleh-Nya.Allah berfirman :”Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.” (QS. Al Haqqah : 44-46)

Sungguh rugi orang yang menyangka bahwa dia akan hidup dengan selamat sementara pada saat yang sama dia banyak mengalah dalam perkara-perkara yang berkait dengan Islam. Padahal dia menempati kedudukan sebagai da’i, ulama, dan figur yang diteladani. Dan mereka belum juga berhenti dan terus menerus mengalah dalam berbagai perkara keislaman. Kepada Allah-lah tempat mengadu.

Sumber: Berbagai Sumber

~

Menyemai Jihad, Menuai Kemenangand


Jihad Sebuah Kemuliaan
Mengapa Alergi Jihad?

Tentang orang-orang anti jihad, yang menganggap jihad sebagai aksi radikal, telah ada sejak dahulu kala. Sejarah Islam telah mencatat orang-orang yang alergi jihad. Mereka bukan sekedar orang-orang kafir, malah yang paling berbahaya adalah mereka mengklaim diri sebagai muslim.

Pada zaman Rasulullah misalnya, telah ada orang-orang yang antipati terhadap jihad. Salah satunya diabadikan oleh Allah dalam firmannya,

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلاَفَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لاَ تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

“Orang-orang yang tidak ikut perang itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah: “Api neraka jahannam lebih panas,” jika mereka mengetahui.” (Qs. At-Taubah: 81)

Pada dekade berikutnya, seiring bermunculannya sekte-sekte sesat, sikap antipati dan alergi jihadpun tumbuh subur. Dalam disertasi doktoralnya yang berpredikat mumtaz (cumlaude), Ahammiyatul Jihad fi Nasyri ad-Dakwah al Islamiyah (Urgensi Jihad dalam Penyebaran Dakwah Islam), DR. ‘Ali bin Nafi’ al-Ulyani menyebutkan beberapa kelompok yang memiliki aqidah alergi jihad. Beberapa sekte itu ialah,

  • Murji’ah. Sekte ini menafikan jihad.
  • Shufiyah, muncul di awal abad 3 H.
  • Qadiyaniyah, muncul saat penjajah Inggris menguasai India. Sekte ini bekerja untuk kepentingan Inggris, dan mendaulat penguasa Inggris sebagai Amirul Mukminin yang sah.


Sebab utama yang membuat ketiga kelompok di atas benci jihad adalah kecacatan dalam masalah aqidah.

Hari ini, jihad menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kebanyakan manusia. Dalam benak mereka, tak terkecuali muslim, seakan-akan jihad seperti Drakula. Tergambar dalam pikiran mereka ketika disebutkan kewajiban jihad; darah, pembantaian, perbudakan, penjarahan dan gambaran-gambaran mengerikan lainnya.

Tidak hanya masyarakat awam yang menganggap jihad sebagai aksi yang mengerikan, banyak para da’i dan pemuka Islam pun berpandangan demikian. Walau tidak menyatakan secara jelas lewat lisan bahwa mereka benci jihad, seperti halnya orang awam, tetapi sikap dan muatan perkataan cukup menjadi bukti bahwa mereka alergi jihad.

Untuk itu, da’i-da’i yang loyal pada kepentingan salibis dan pemerintah-pemerintah boneka yang menjadi antek-antek zionis Yahudi dan salibis Amerika, baik baik berafiliasi langsung atau tidak langsung, mereka mengusahakan berbagai propaganda untuk menghalangi pelaksanaan jihad dan tersebarnya ideologi jihad. Da’i-da’i “salafi” misalnya, mengusahakan segudang syubhat untuk membuat kabur ibadah jihad di mata umat. Mulai dari statemen “tidak ada jihad tanpa izin imam”, “jihad tidak sah sampai ada tarbiyah dan tashfiyah”, “jihad lintas negara tidak ada contoh dari salafus sholeh” dan lain-lainnya.

Sebenarnya inti dari syubhat-syubhat yang dilipstik dengan dalil-dalil syar’ie ini adalah satu; penihilan aktifitas dan ideologi jihad. Syaikh Abu Mush’ab as-Suuri, menulis salah satu ungkapan ulama saudi, Abdul Muhsin al-Ubaikan yang melarang muslim melawan pasukan salib Amerika,

“Amerika hanya menghancurkan (pihak) yang menyerang mereka di Iraq. Seandainya orang-orang kafir ditetapkan sebagai penguasa atas kaum muslimin maka mereka adalah waliyul amri yang sah.” (Perjalanan Gerakan Jihad, 229)

Meninggalkan Jihad: Fitnah Besar

Ada sementara kalangan meyakini bahwa jihad dalam makna perang merupakan fitnah, banyak pertumpahan darah dan menciderai sisi kejiwaan manusia. Mereka tidak sadar, jika statemen itu bermakna mencela Allah dan Rasul-Nya. Sebab, Rasulullah memaknai jihad dengan perang bersenjata dengan segenap perangkatnya, seperti telah beliau praktekkan.

Ketika manusia meninggalkan jihad karena khawatir fitnah, saat itu mereka sedang terjatuh dalam fitnah, yaitu fitnah yang muncul karena enggan berjihad. Pada peristiwa Tabuk, orang-orang munafik meminta izin kepada Rasulullah untuk tidak ikut perang. Alasan yang mereka kemukakan adalah khawatir terkena fitnah. Justru Allah mengatakan, keengganan mereka untuk berjihad, merupakan fitnah tersendiri.

“Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah.”(at-Taubah: 49)

Ibnu Taimiyah berkata, “Karena dalam aktifitas jihad dan amar makruf nahi munkar terdapat ujian dan cobaan yang membuat seseorang terfitnah (diuji), maka sebagian orang meninggalkan kewajiban jihad dan amar makruf nahi munkar dengan alasan; agar selamat dari fitnah. Persis seperti alasan orang-orang munafik dulu, “Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah.” Justru saat ia meninggalkan kewajiban jihad, ia tertimpa penyakit hati, imannya lemah dan ini merupakan fitnah yang lebih besar daripada fitnah saat berjihad…

(Sebaliknya) Allah menegaskan bahwa jihad akan menghapus fitnah, “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah (Qs. Al-Baqarah:193).” Jadi siapa saja yang meninggalkan perang yang diperintahkan oleh Allah dengan alasan khawatir akan fitnah, sungguh pada saat itu ia telah jatuh dalam fitnah itu sendiri, yaitu fitnah yang berupa; hati sakit, rasa was-was dan (dosa) meninggalkan perintah Allah untuk berjihad.” (Fatawa, 28/ 165-167)

Orang yang berpandangan miring tentang ibadah jihad, sejatinya telah termakan provokasi kaum Orientalis yang bertujuan menghancurkan Islam dengan mendiskreditkan syariatnya lewat gambaran kengerian syariat Islam dan bar-barnya jihad. Sementara, mereka menutupi kekejaman pasukan Salib saat memerangi umat Islam. Pembantaian, penjarahan dan pemerkosaan selalu mengiringi invasi Kristen dan kafir lainnya.

Sedangkan jihad memiliki adab dan aturan yang jelas yang tidak boleh dilanggar oleh setiap prajurit Islam. Dalam pembahasan fikih Islam, terdapat bab Fikih Jihad yang di dalamnya dibahas pula adab dan etika jihad. Dalam jihad, ada larangan membunuh wanita, anak, pendeta dan orang tua dengan syarat; selama mereka tidak terlibat dalam peperangan. Ada larangan membakar pohon, menghancurkan bangunan dan perbuatan-perbuatan nista. Ada perintah untuk menepati janji, berbuat baik kepada tawanan dan lain sebagainya.

Adab dan aturan jihad membedakan antara perang dalam Islam dan perang dalam pandangan ideologi lain. Tentu jihad lebih beradab dan perang yang dilancarkan orang-orang kafir sangat biadab.

Permusuhan Abadi

Satu hal yang dicatat oleh DR. Ali al-Ulyani sebagai dasar dalam merangkai pemahaman tentang jihad, yaitu harus ditanamkan dalam benak tiap muslim bahwa hubungan yang ditakdirkan antara kebenaran (al-haq/ Islam) dengan kebatilan (al-bathil/ kekafiran) adalah selalu bermusuhan. Saling mengalahkan, saling menguasai adalah takdir hubungan antara al-haq dan al-bathil.

وَلاَ يَزَالُوْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوْكُمْ عَنْ دِيْنِكُمْ

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) memurtadkanmu dari agamamu.” (al-Baqarah: 217)

Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengutusmu (Muhammad) untuk mengujimu dan menguji orang lain denganmu.” (HR. Muslim)

“Allah menguji nabi Muhammad melalui perintah-Nya untuk menyebarkan risalah Islam, bersungguh-sungguh untuk berjihad. Dan Allah menguji manusia dengan mengutus Nabi Muhammad, sehingga akan ketahuan siapa yang beriman, taat kepada Allah dan siapa yang tidak beriman, menyelisihi beliau lalu memendam permusuhan abadi kepada beliau.” (Syarh Shohih Muslim, 9/247)

Jihad Adalah Ibadah

Di sisi lain, orang-orang beriman wajib meyakini bahwa jihad adalah ibadah yang dibebankan atas setiap pundak muslim yang mukallaf dan mampu.

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu.” (QS. At-Taubah: 123)

Melalui ibadah jihad, seorang muslim memiliki peluang besar untuk masuk jannah. Meninggalkan jihad, maknanya mengabaikan pintu jannah. Membenci jihad, maknanya membenci derajat yang paling tinggi di surga, yang tidak bisa didapatkan oleh orang-orang yang absen dari aktifitas jihad.

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk ( tidak ikut berperang) tanpa uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka…dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (Qs. An-Nisa’: 95)

Imam Bukhari meriwayatkan,


“Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Tunjukkan kepadaku amal yang bisa menyamai jihad..!” “Saya tidak mendapatkannya,” jawab Rasulullah. “Mampukah kamu; jika seorang mujahid keluar (untuk berjihad), kamu masuk masjid lalu sholat tanpa henti, tanpa istirahat dan kamu berpuasa terus menerus, tidak berbuka…?” jelas Rasulullah lebih lanjut. “Siapa yang mampu seperti itu…?” guman laki-laki tadi.”

Ketika ditanya manusia manakah yang paling utama..? Rasulullah menjawab, “Seorang mukmin yang berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwanya.” (HR. Bukhari)

Rasulullah berkata kepada Abu Sa’id al Khudri, “..Dan selain itu, ada amal yang membuat derajat seorang hamba dinaikkan seratus tingkat, jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya sejauh jarak langit dan bumi.” “Amal apa itu wahai Rasulullah” tanya Abu Sa’id penasaran. “Berjihad di jalan Allah, berjihad di jalan Allah.” (HR. Muslim)

Akhirnya, harus disadari oleh setiap muslim bahwa jihad adalah ibadah. Maka, tak patut kita mencela ibadah. Jika ada aksi jihad yang dianggap merusak tatanan dakwah dan masyarakat, tak boleh buru-buru menyalahkan jihad. Atau, karena ingin menghindari dampak buruk dari ‘aksi jihad’, lalu jihad diselewengkan maknanya ke makna-makna lain yanga tak berdasar sama sekali. Sikap yang bijak ialah mengevaluasi ‘aksi jihad’ tersebut, sudahkan memenuhi syarat atau memang masyarakat telah antipati terhadap jihad dan loyal kepada kekafiran, thaghut serta antek-anteknya.

Adaptasi: Ahammiyatul Jihad karya DR. Ali al-Ulyani dan Limadza al Jihad tulisan Abu Bashir
Sumber: An Najah Media

~

Mp3 Kuliah Syarah Risalah Asy-Syahid Abu Musab Az-Zarqawi (Takkan Kubiarkan Islam Dihancurkan) Ustadz Muhammad Al-Muhajir

Mp3 Kuliah Oleh Syarah Haidst Pilihan Jihad, Ustadz Muhammad Al-Muhajir

eBook Akhlak Mujahidin


“Tak jarang di hadapan manusia dia tidak diperhitungkan. Jika di tengah orang banyak tak menarik perhatian dan jika dia tidak hadirpun tidak ada yang menanyakan keberadaannya. Karenanya, ketika dia meminta izin untuk suatu keperluan, dia tidak di izinkan. Jika suatu saat dia mengajukan rekomendasi atas seseorang kepada pimpinanya, rekomendarinya di tolak. Orentasi jihadnya untuk mencari keridhoan Allah subhaanahu wa ta'aalaa”- Akhlaq Mujahid

Akhlak Mujahidin.doc  

~

eBook Wasiat Kisah Para Syuhada

eBook Keras Kepada Murtadin dari Asy-Syeikh Abu Musab Abdul Wadud




Asy-Syeikh Abu Musab Abdul Wadud

(Amir Tandzim Al-Qaeda Maghribi)

Syaikh Abu Musab Abdul Wadud_Keras Kepada Murtadin.doc  

Sumber: Khatab Media Publication

~

eBook Kepada Kaum Muslimin dari Mufti Mujahidin Kaukasus


~

Buku-Buku Asy Syahid Yusuf Al-Uyairi

eBook Wasiat Asy Syahid Khattab (Mantan Amir Mujahidin Antarabangsa Kaukasus)



Asy-Syahid Khattab (Mantan Amir Mujahidin Antarabangsa Kaukasus)

Asy Syahid Khattab_Wasiat.doc

Sumber: Khatab Media Publication

~

Buku-Buku Syeikh Aiman Az Zawihiri (Timbalan Amir Tandzim Al-Qaeda)

Buku -Buku Amirul Mujahidin Syeikh Abu Abdillah Usaamah Bin Laadin (Amir Tandzim Al-Qaeda)

BUku-Buku Asy Syahid Dr. Abdullah Azzam (Pengasas Tandzim Al-Qaeda)

Temuramah dengan Jeneral Awwal, Tandzim Al-Qaeda Bahagian Asia Tenggara

Kepada kaum muslimin, kami menyeru supaya mereka tetap bertaqwa kepada Allah dan bergabunglah atau berjamaahlah dengan golongan Siddiqin di Pattani Darussalam atau di manasaja bumi Jihad lainnya. Ini sesuai dengan firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 119:

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan bergabunglah kamu dengan orang-orang yang Siddiqin. (Surah At-Taubah ayat 119)

Persoalannya, siapakah golongan siddiqin? Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam surat Al-Hujurat:

Orang-orang Mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan nyawanya di Jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang siddiqin (benar). (Surat Al-Hujurat ayat 15)

Kesimpulannya, Siddiqin ialah golongan Mujahidin.

Justeru itu, wahai ummat, jangan biarkan dunia menipu kamu hingga kamu melupakan Allah, Rasulullah saw dan Jihad Fi Sabilillah. Jihad di Pattani Darussalam adalah Fardhu ‘Ain untuk semua kaum muslimin. Kamu harus datang dan berjihad ke sini walaupun tanpa keizinan pemimpin jamaahmu. Bahkan, keizinan ibu dan ayah serta pemberi hutang juga tidak diperlukan dalam situasi jihad Fardhu Ain seperti di Pattani Darussalam sekarang. Kamu harus berjihad walaupun terpaksa mendatangi bumi-bumi Jihad dengan berjalan kaki. Bukankah Allah telah menjanjikan Azab untuk kamu sekiranya kamu meninggalkan Jihad:

Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, kami akan siksa kamu dengan azab yang pedih… (Surat At-Taubah ayat 39)

Wahai Ummat! Mengapa kamu masih berpeluk tubuh. Sekedar mengetahui kondisi Mujahidin, melihat video dan foto mereka serta berforum tentang mereka tanpa berjihad dengan senjata, itu bukanlah ajaran dari dien ini bahkan hal tersebut tidak membebaskanmu dari kewajiban berjihad. Sementara munafiq juga ikut melakukan hal yang sama. Allah Taala telah berfirman dalam surah Al-Ahzab:

Mereka mengira bahwa golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi, dan jika golongan-golongan (yang bersekutu itu) datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun (tempat-tempat aman daripada peperangan) bersama orang arab baduwi sambil menanyakan (yaitu mengambil tahu) berita tentang kamu. Dan sekiranya mereka berada bersamamu, mereka tidak akan berperang melainkan sebentar saja. (Surah Al-Ahzab ayat 20)

Maka bersegeralah wahai ummat. Mencukupkan diri bergelimang dengan buku dan pengajian dien dan meninggalkan Jihad, bukan caranya untuk memahami dien ini. Berjihadlah di Pattani Darussalam dan kamu akan lebih memahami dien ini. Dengan Jihad Fi Sabilillah, kamu akan difaqihkan tentang urusan dien ini dengan pemahaman akidah yang jelas melalui praktik perlawanan bersenjata antara Iman dan Kufur, sesuatu yang tak akan kamu peroleh dalam buku manapun atau pengajian di kelas apapun. Allah Ta’ala telah berfirman dalam surat at-Taubah:

“Dan tidak sepatutnya orang Mukmin itu pergi semuanya ke medan perang (ketika Jihad bukanlah Fardhu Ain). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (berjihad) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (yang tidak pergi berjihad) agar mereka dapat menjaga dirinya (setelah mendapat pengajaran-pengajaran berupa hikmah dari orang-orang yang balik dari medan jihad). “(Surah At-Taubah ayat 122)

Wahai ummat, kaum Muslimin di Pattani Darussalam ditindas akidah dan nyawa mereka dengan begitu dahsyat sekali. Bantulah mereka dengan berperang Fi Sabilillah. Jadilah pelindung dan penolong paling berani untuk mereka.

Mengapa kamu tidak berperang membela orang yang lemah baik lelaki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, Ya tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang dzalim penduduknya. Berilah kami pelindung dari sisiMu, dan berilah kami penolong dari sisiMu. (Surah An-Nisa’ ayat 75)

Insyaallah dengan berperang di jalan-Nya, kemenangan, syurga dan keridaan dari Allah, pasti menjadi milikmu:

Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di Jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridaan dan syurga. Mereka memperoleh kesenangan yang kekal didalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, di sisi Allah terdapat pahala yang besar. (surat At-Taubah ayat 20-22)

Ya Allah,

Berilah kemenangan kepada Mujahidin.
Teguhkan tapak kaki mereka.
Tepatkan bidikan peluru mereka.
Satukan hati-hati mereka.

Hanya kepada Engkau kami mengabdikan diri.
Hanya kepada Engkau kami kembali.

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!


Temuramah dengan Muhajir dan Mujahid Pattani Darussalam, Asy Syaikh Abu Ubaidah.pdf  

~

Mp3 Kuliah Oleh Syarah Surah At Taubah, Ustadz Muhammad Al-Muhajir

Ketika Yang Mati Menjadi Hidup dan Yang Hidup (Sesungguhnya) Telah Mati


Orang yang (telah) mati menjadi hidup karena kata-katanya, karena hal yang telah ditulis oleh tangan mereka. Mereka menjadi hidup karena kata-kata yang benar yang mereka tegaskan, dan keteguhan dari sikap mereka (semasa hidup), meski mungkin jasad mereka hancur dan ruh mereka naik ke langit.
Kata-kata yang telah mereka tulis oleh tangan mereka akan bertahan dan bangkit hidup, serta membangkitkan harapan, setelah mereka mengorbankan dirinya, harta miliknya, darah dan kehidupannya demi apa-apa yang mereka tuliskan, yang merupakan pencerminan konsisten dari nilai-nilai teguh yang mereka yakini, dan prinsip-prinsip kokoh yang tertanam dalam diri mereka demi Din Islam ini. Pada saat itu (ketika mereka mengorbankan dirinya demi kata-katanya), kendati mereka gugur, Islam dan kaum Muslimin akan berjaya melalui mereka. Para pembela iman akan dimuliakan sementara para pembela syirk dan berhala akan dihinakan. Kehidupan akan dihormati dan diagungkan. Darah dan pengorbanan mereka adalah bahan bakar dan suluh api yang akan mengangkat gelapnya kezholiman dan menyingkap hilang kesedihan dan derita. Keadilan akan menang dan kaum tertindas akan terbela. Ruang-ruang penjara akan kosong dan orang yang terbelenggu akan bebas. Tak akan ada lagi kehilangan hak, korupsi ataupun sogokan.
Sementara orang yang hidup (sesungguhnya) mati, meski engkau melihat tubuh mereka masih berjalan di atas bumi, mereka tidak punya kehidupan. Mereka mati (meski jasadnya hidup) karena kematian hati. Dan hati mereka mati karena hidup mereka di dunia hanya sekedar memenuhi tuntutan nafsunya, kenyamanan dirinya, dan ambisi dunianya. Yang jadi perhatian mereka hanyalah berapa gaji mereka dari pekerjaan, berapa gaji mereka dari khutbah dan fatwa yang mereka sampaikan, gaji yang mereka dapatkan setelah mereka menunjukkan keangkuhannya terhadap Islam beserta segenap pembelanya yang jujur. Mereka membelakangi (Islam) dan harga yang dibayar sangat murah: beberapa dirham dan sedikit ketenaran yang mengkilap karena digosok/dibasuh oleh darah orang-orang mulia dan merdeka. Mereka tersungkur di hadapan Rabbul Alamin di tengah-tengah majelis mereka, di jaringan televisi satelit mereka, ketika mereka tenggelam dalam kubangan kesalahan yang menjebak mereka dari ujung kaki hingga ubun-ubun! Mereka menyingkirkan ummat dari Islam, menyesatkan mereka dan membuat mereka jahili. Dari lisan mereka keluar tuduhan keji, siapa saja yang menentang mereka disematkan label buruk orang tersesat atau anak muda bodoh ingusan. Mereka bicara mengelu-elukan kebaikan orang-orang yang menghancurkan Din, tetapi diam membisu terhadap kelakuan buruk kaum durjana itu dan kekejian yang mereka lakukan dalam memerangi agama. Maka tidak mengejutkan, mereka menjadi alat pemukul di tangan kaum durjana. Bagi mereka, para ahlul haq dan orang yang teguh di atas keyakinan dikatakan sebagai penyesat dan ahlul bid’ah. Di mana saja kaum pengecut itu berlalu, bumi berguncang… perpecahan dan konflik merekah, ketika mereka berkhutbah tentang kondisi ummah dan nasib Kaum Muslimin. Islam dan Muslimin akan diperhinakan, kehidupan hanya menghadapi kekejaman dan keterpurukan. Tidak ada yang mereka tawarkan kecuali sikap menyerah, menghambakan diri, dan menjadi obyek penderita.
Negeri-negeri akan dijajah, dan Al Quran dinistakan. Seluruh nilai-nilai kesucian akan dicemari, para akhwat muslimah yang suci diperkosa, kehormatan akan dibinasakan, dalam rangka menghidupkan kembali Laka’ ibnu Laka’ di atas tulang belulang orang-orang suci, kaum mulia, dan ummat yang tak berdosa. Di tangan mereka (kelak) Islam akan diluruhkan, seperti pakaian yang dicuci hingga warnanya memudar, lalu tak akan ada lagi shoum atau zakat; atau ketulusan akan dipahami.
Tetapi mereka akan menemui taqdir yang buruk dan akhir yang jelek, bi idznillahil wahidil Ahad, di tangan Allah Yang Maha Pemurah, sebagai buah dari apa yang sentiasa mereka lakukan terhadap Ummah, atas setiap ceceran darah yang mereka tumpahkan bersama fatwa mereka, atas setiap sikap bisu yang mereka lakukan tentang Al Haq, dan kegigihan mereka mengemas kepalsuan. Aduhai sungguh malang… karena tetap saja mereka merasa telah melakukan kebaikan: “Mereka menjadikan indah perbuatan buruk yang mereka lakukan, sehingga kemudian mereka merasa bahwa mereka berada di atas kebaikan…” Ibnu Abi Duwat (ia adalah manusia celaka yang menebarkan fitnah khalqil Quran) memperoleh penghidupan (dari para sulthan) di atas kubangan darah Al Buwaity (salah seorang murid Imam Syafi’i, semoga Allah melimpahkan kasih sayang padanya). Meskipun ia (Ibnu Abi Duwat) sangat terkenal karena ilmunya, kefasihannya berbicara dan sikap royalnya, tetapi ia tidaklah lebih dari manifestasi niyat yang rusak, dan aqidah yang busuk, sehingga ilmu serta kefasihannya tidak bermanfaat untuknya, dan ia kemudian menemui akhir hidup yang tragis diakibatkan bagaimana ia mengkritisi, mengolok-olok, dan menimpakan bencana kepada ahlul iman dan ahlul haq.
Sayyid Quthb (bersamanya adalah Abdullah Azzam, setiap kali tersebut nama di antara dua orang ini, hati saya menangis. Pent), seseorang yang dipercaya kata-kata dan tulisannya akan dapat dimusnahkan, dan ajarannya akan terhapus dari hati dan jiwa manusia. Tetapi ternyata, kata-kata Beliau hidup, seakan dipahat di atas batu cadas yang kokoh. Sementara kata-kata dari mereka yang mencoba menghancurkan kehormatan Beliau, tulisan Beliau, tenggelam dalam kematian, bahkan (secara tak sadar) mereka terpesona oleh kata-kata Beliau, tulisan Beliau. Ada lagi kalangan yang lain, yang mencuri darinya, berlagak seakan kata-kata Beliau adalah buah pemikiran mereka. Allah menyingkapkan topeng mereka, mempermalukan mereka, dan meruntuhkan istana-istana mereka. Mereka itu sesungguhnya telah mati meski mereka masih hidup, sementara Sayyid Qutbh hidup (sentiasa) meskipun Beliau telah berpulang ke hadlirat Allah.
Sayyid Quthb membayar kata-katanya dengan darahnya. Sementara orang-orang yang lain, memperoleh bayaran karena khutbah mereka, buku dan tulisan mereka, yang mereka tujukan untuk merendahkan Sayyid Quthb. Lalu yang lain lagi, yang mencuri kata-kata Beliau, lalu mengumpulkan bayaran dari rumah-rumah penerbitan, atau mempromosikan diri mereka atas nama Sayyid Quthb dan memperoleh reputasi di jaringan stasiun media dengan mengkritisi Beliau: Sayyid Quthb hidup meskipun Beliau telah wafat, sementara mereka (pada hakekatnya) telah mati meskipun mereka masih hidup.
Banyak putra-putra dari Da’wah ini hidup, dan kata-kata mereka hidup bersama mereka, ketika mereka membangkitkan ke tengah ummat kemuliaan dari Din Islam, sehingga ajaran agama yang haq ini diterima dan diterapkan oleh masyarakat. Orang-orang sholeh dan jujur berkumpul di sekeliling mereka, dan pada hari-hari itu kesucian tidak tercemari oleh rusaknya dunia, dan tidak dikotori oleh penyimpangan yang diakibatkan oleh tingkah laku, atau khayalan, atau fatwa tambal sulam favoritisme (mis: sikap oportunistik atas nama maslahat da’wah.pent). Kata-kata kebenaran dan ketulusan merupakan pencerminan konsisten dari niyat ikhlash dan iman yang kokoh. Maka mereka hidup dan kata-kata mereka hidup menjadi menara cahaya dan mercusuar penunjuk, lalu orang-orang sholeh dan beriman mengikuti jejak langkah mereka.
Pengikut yang lain dari Da’wah ini hidup, dan mereka (pernah) mendapatkan tempat yang mulia dan penghormatan di hati ummat. Kemudian tiba-tiba ujian melanda mereka, lalu penghormatan dan pemuliaan ini berganti dengan kematian, penderitaan berkepanjangan, yang membuat hati mereka menjerit dan diri mereka merintih (mengeluhkan) derita dan pengepungan maut. Berharap mungkin ada orang yang mendengarkan dan memberikan perhatian atas hal ini…
Lalu sekonyong-konyong semua menjadi hampa, semua kenangan, ingatan tentang kemuliaan dan penghormatan yang (pernah) bersemayam di hati ummat ini, kesemuanya hilang, manakala orang-orang ini, setelah mengalami berbagai ujian dan cobaan, lalu memilih kehidupan (keselamatan) dari tubuh mereka daripada hidupnya kata-kata mereka, dan setelah mereka memilih prinsip dan ide barat, pendekatan logika (mendahului prinsip Syariat) dan dalil-dalil rasionalisme. Mereka mengklaim, demi meraih kemaslahatan dan untuk menarik dukungan (lebih luas kepada da’wah) manusia kebanyakan, membujuk hati para pendukung bid’ah dan penyimpangan, mereka merasa harus ‘menyesuaikan sedikit’ jalan perjuangannya, dan ‘menurunkan sedikit’ prinsip-prinsip ideologi yang (pernah) mereka anut. Mereka perlahan melepaskan nilai dan prinsipnya; maka kaum sekularpun mulai berkumpul di sekeliling mereka. Mereka pun kini menjadi kawan yang sangat menguntung kaum sekularis dan liberal, dan lewat kata-kata mereka sendiri, mereka tanpa sadar telah menjadi sekular juga. Mimbar-mimbar mereka adalah jaringan MBC dan IBC, dan mereka pun menjadi ulama fiqh ‘yang memudah-mudahkan’ (menggampang-gampangkan, Fuqoha At Tasawwul). Maka orang-orang sholeh dan jujur pun meninggalkan mereka. Tidak ada yang tersisa menyertai mereka, kecuali beberapa kalangan (awam) yang tertipu, orang yang tergoda/terpesona, kaum sekular, liberal, dan demokrat. Mereka perlahan mati meski mereka masih hidup. Fatwa-fatwa mereka disebarkan di kalangan tentara marinir <span>[1]</span> , oleh kalangan yang kasar; orang-orang yang menyerah kalah dan khianat, orang-orang yang takluk. Mereka bertemu di jaringan satelit dan mengkritisi orang-orang yang medan amalnya adalah arena Jihad dan istisyad (kesyahidan). Burung pipit tak akan bergabung kecuali dengan kawanan pipit.
Ahmad bin Hanbal (Sang Imam Ahlu Sunnah) telah berpulang ke rahmatullah, demikian juga sang pemuka fitnah Ibnu Abi Duwat (pemimpin fitnah khalqil Quran) telah mati dan Bishir Al Misri (syaikhnya Mu’tazilah) juga telah mati. Tetapi apa yang telah ditulis Ahmad bin Hanbal tetap hidup, karena Beliau menebus seluruh apa yang ditulis tangannya dan apa yang ditegaskan lisannya, dengan dirinya. Kata-kata Ahmad bin Hanbal menjadi hidup, ketika Beliau menebusnya, bersama setiap jengkal penyiksaan yang merencah tubuhnya, belenggu yang mengikat leher serta tangannya, dan pemenjaraan yang Beliau alami. Dan seluruh memori tentang Beliau hidup sentiasa hingga hari ini, sebagai bahan pengajaran dan teladan nyata.
Ibnu Abi Duwat dan orang-orang yang menyertainya (sesungguhnya) telah mati meski mereka hidup, ketika mereka menukar kemuliaan dengan menikmati fasilitas di istana-istana sulthan sambil mendengarkan jeritan dan rintihan Ahmad bin Hanbal. Nilai dan keyakinan mereka mati bersama-sama mereka dan mereka tidak punya hal berharga apapun (untuk dikenang oleh generasi selanjutnya) kecuali sikap mengemis, kezholiman, menjilat penguasa, penghambaan, dan mencintai hawa nafsu. Apa lagi yang masih layak dibanggakan dari sisa-sisa kebenaran? Ibnu Abi Duwat mati terpenjara dalam tubuhnya sendiri, yang lumpuh dan sekarat selama empat tahun (sebelum ia benar-benar mati), tidak mampu digerakkan barang sedikitpun.
Adapun Ibnu Taimiyah, maka memori tentang Beliau seakan abadi, bi idznillah, hingga Allah kelak akan mewarisi bumi ini kepada segenap hambaNya yang sholeh. Beliau menyampaikan pesan dan tadzkirahnya tentang istighotsah, tetapi kalangan ahlul bid’ah tidak menyukainya, karena hal itu telah menjadi kebiasaan mereka di mana saja. Lalu Ali bin Yaqub Al Bakari menyerang Beliau, menuduhnya kafir, dan menuntut agar Beliau dibunuh. Tetapi kemudian penguasa menghimpun kekuatan dan mendorong rakyat, menggerakkan mereka melawannya (al Bakari). Maka kini berganti, dialah kemudian yang dicerca, dikutuk, dan dipenjara. Rakyat berhimpun hingga dalam jumlah yang banyak untuk melawannya. Rakyat menyerangnya hingga ia akhirnya terpaksa melarikan diri. Lalu bumi dirasakan sempit oleh al-Bakari hingga ia tidak dapat menemukan tempat meminta perlindungan kecuali kepada Ibnu Taimiyah. Al-Bakari akhirnya lari berlindung ke rumah Ibnu Taimiyah. Allah telah memuliakan Ibnu Taimiyah dan memori serta segenap pesan Beliau hidup abadi. Sementara musuh-musuhnya mati, dan ikut mati bersama mereka segala ide dan keyakinan mereka.
Ada orang-orang yang rela menebus kata-kata dan tulisan mereka dengan pengorbanan. Mereka tidak mencari makan darinya (tulisan, kata-kata, khutbah, atau fatwa) pun juga tidak mengemis lewat tinta yang dituliskan pada buku mereka. Mereka menghindari hal yang meragukan (syubhat) dan menolak hal yang dilarang (muharramat). Mereka tidak mencari penghidupan dari ‘mencatut’ usaha orang lain ataupun menghina dan mencaci mereka. Mereka tidak menerima harga dunia dan kenikmatannya yang rendah dan menipu ini. Mereka campakkan kesemua itu di belakang punggungnya. Sebaliknya orang yang berlawanan dengan kaum mulia itu, maka diakibatkan mereka suka mengutuk, menghina, dan mengkritisi kaum yang menggenggam Al Haq, iman dan Jihad, dan karena mereka lebih suka mengelu-elukan kaum yang sesat dan menyimpang, maka mereka dilupakan, tenggelam bersama ditutupnya lembar sejarah.
--------------------
[1] maksudnya tentara marinir Amerika. Ingat kasus fatwa salah seorang ulama terkenal yang saat ini berdomisili di Qatar, yang menyebutkan bolehnya muslim Amerika yang kebetulan berdinas di militer Amerika untuk ikut dalam tugas ‘memerangi teror’ ke Afghanistan, yang menyebabkan muslim Amerika tersebut harus memerangi saudara Muslimnya yang lain, yaitu Mujahidin dan Imarah Islam Afghanistan. Padahal ikut membantu orang kafir dalam rangka memerangi Islam dan ummatnya adalah salah satu dari 10 Pembatal Keislaman. Pent
Sumber :group Facebook Kataibul Iman

~

eBook Fiqih Jihad