Tampilkan postingan dengan label Fatwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fatwa. Tampilkan semua postingan

Bebaskan Tawanan - Anjuran Kepada Kaum Muslimin di Indonesia

Kepada: Seluruh Kaum Muslimin Terutamanya Kaum Muslimin di Indonesia

Assalamualaikum,

Perkara: Bebaskan Tawanan! – Anjuran Kepada Kaum Muslimin di Indonesia

Segala puji bagi Allah yang menganugerahkan Jihad Fi Sabililah sebagai peneguh kemuliaan Kaum Muslimin serta shalawat dan salam atas Nabi Muhammad Sallallahualaihi Wasallam yang menjadi ikutan terbaik bagi ummah ini.

Amma Ba'du,

Daripada Abu Musa, dia berkata bahawa Rasulullah Sallallahualaihi Wasallam bersabda: Bebaskan tawanan, berilah makanan kepada orang yang lapar dan jenguklah orang yang sakit. (Sahih Jamius Saghir)

Pada 3 Julai 2008, Pihak Polis Kerajaan Thagut Indonesia telah membuat sidang media dan didalam majlis itu, mereka mendakwa telah menangkap beberapa orang kaum Muslimin yang dikatakan merancang melakukan letupan di beberapa tempat di Indonesia.

Penangkapan mereka adalah sesuatu yang tidak harus dipandang sepi. Umat Islam harus bereaksi. Mereka yang tertawan telah memberikan sesuatu untuk Islam. Apa pula sumbangan kita? Paling tidak kita harus berusaha membebaskan mereka. Bukan dengan perundingan untuk membebaskan mereka semata-mata tetapi juga dengan peggunaan senjata.

Adakah penangkapan demi penangkapan oleh Kerajaan Thagut Indonesia harus dibiarkan begitu sahaja? Adakah kita mahu penjara-penjara di Indonesia terus-menerus dipenuhi dengan Mujahidin dan penyokong-penyokong Mujahidin? Adakah kita sanggup hidup terus menerus dalam keadaan yang selesa, dengan segala kemewahan dan kesenangan hidup, sedangkan mereka yang tertawan terpaksa hidup dalam penderitaan? Dan, adakah kita nanti hanya mahu menangisi dan memuji tokoh-tokoh jihad semisal akhi Imam Samudera, setelah dia syahid dibunuh Pasukan Penembak tanpa mahu melakukan sesuatu untuk memastikan pembebasannya?

Justeru, bangunlah wahai jiwa. Bangunlah daripada kelemahan kamu. Kami menganjurkan kaum Muslimin, terutama di Indonesia, untuk melakukan apa-apa sahaja cara yang syarie untuk menyelamatkan seluruh Ikhwanul Mujahidin yang sedang tertawan. Antara cara yang dianjurkan ialah:

Menyerang penjara/tempat Ikhwanul Mujahidin ditawan untuk membebaskan mereka jika ada kemampuan untuk melakukan penyerangan sebegitu;
Menawan tebusan daripada kalangan Polis atau Tentera Kerajaan Thagut Indonesia supaya mereka dapat dijadikan tukaran untuk Mujahidin yang tertawan;
Menawan tebusan daripada kalangan pelancong asing terutama daripada Amerika Syarikat, Thailand atau sekutu-sekutunya untuk dijadikan tukaran untuk Mujahidin yang tertawan di Indonesia;
Memulakan penyerangan hendap terhadap Polis atau Tentera Kerajaan Thagut Indonesia secara berkala dan kerap dalam usaha mengugut mereka agar mereka membebaskan keseluruhan Mujahidin yang tertawan.

Justeru, apa yang perlu ialah mengumpulkan kekuatan dan bertindak. Percayalah kepada Allah. Dia pasti membantu orang-orang yang beriman:

Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (Dien) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Surah Muhammad ayat 7)

Kepada pihak-pihak yang meninggalkan jihad dan tetap tidak mahu menyelamatkan kaum Muslimin yang tertawan dengan pelbagai alasan, misalnya dengan mengatakan “Indonesia aman, Jihad hanya dibolehkan di tempat konflik”, kami katakan: “teruslah dengan alasan palsu itu, dan itu tidak lain hanya akan membawa kamu kepada kehinaan.” Adakah aman namanya jika ada kaum muslimin yang tertindas? Adakah aman namanya jika pemerintah akan menawan/menangkap kita hanya lantaran Iman dan Jihad kita?

Apa pun, peluang masih terbuka. Bukan sekadar untuk memberikan makan anak dan isteri Mujahidin yang tertawan. Yang lebih penting, bebaskan yang tertawan itu sendiri. Itulah kewajiban kita. Laksanakannya atau kita pasti menerima kesannya.

Dan kemenangan itu milik Allah seluruhnya.

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

As-Syeikh Abu Ubaidah Hafizahullah



Sumber: Khatab Media Publication

~

Kapolri, Jaksa Agung, dan Ketua Mahkamah Agung Murtad

Ada hal yang amat penting saat pembacaan eksepsi dalam sidang ustadz Abu Bakar Ba'asyir yang digelar hari kamis (24/2) kemarin. Dalam pembacaan eksepsi tersebut Ustadz Abu Bakar Ba'asyir menyatakan bahwa Hakim, JPU termasuk Densus 88 yang beragama Islam telah murtad dari Islam.

Pasalnya mereka tidak menghiraukan tadzkiroh ustadz Abu Bakar Ba'asyir untuk tidak menuntut mereka yang melakukan ibadah I'dad di Aceh dengan pasal terorisme. Mengingat syari'at i'dad begitu gamblang dalam Surat Al-Anfal ayat 60, maka menuntut orang yang melaksanakan i'dad dengan dakwaan teroris sama dengan mengolok-olok Allah dan RasulNya. Berikut kutipan eksepsi yang disampaikan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir:

"Saya sudah peringatkan hal ini kepada kapolri, jaksa agung, ketua mahkamah agung dan Ka.Densus 88 agar mencabut tuduhan ibadah i'dad di Aceh ini sebagai perbuatan teror karena tuduhan itu berarti melecehkan Allah, rasulNya dan ayat-ayatNya dan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dan agar mengingatkan bawahannya masing-masing agar tidak menuduh ibadah I'dan di Aceh sebagai perbuatan teror dan memperlakukan pemuda-pemuda Islam yang mengamalkan I'dad itu dengan ketentuan syariat.

Tetapi tadzkiroh saya tidak dihiraukan, buktinya bawahan mereka mengikuti jejak densus 88. Para jaksa mendakwa orang-orang yang ibadah I'dad di Aceh dengan undang-undang teroris, para hakim pun mengadili dengan undang-undang teroris, ini berarti kapolri, jaksa agung dan ketua mahkamah agung dalam menilai ibadah I'dad di Aceh sebagai perbuatan teror sependapat dengan musuh Allah densus 88. Maka saya yakin bahwa kapolri, jaksa agung dan ketua mahkamah agung juga melecehkan Allah, ayat-ayatNya dan rasulNya, maka berdasarkan ayat dalam surat At-Taubah ayat 65-66 yang tersebut di atas mereka dinyatakan murtad. (Na'udlu billah min dzalik). Demikian pula tim jaksa yang mendakwa orang yang mengamalkan ibadah I'dad di Aceh dan majelis hakim yang mengadili mereka dengan udang-undang teroris juga tersangkut perbuatan terkutuk meleceh Allah, ayat-ayatNya dan rasulNya, maka mereka terkena keputusan Allah menjadi murtad.

Mungkin tim jaksa dan majelis hakim beralasan hanya melaksanakan ketentuan atasan. Alasan ini tidak diterima oleh Allah, sebab dalam Islam ada ketentuan dalam perintah dan ketentuan-ketentuan atasan bila maksiat tidak boleh ditaati.

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "mendengar dan taat (kepada amir/atasan) wajib atas muslim baik dalam keadaan senang atau tidak senang selama tidak diperintah dalam kemaksiatan, apabila diperintah dalam kemaksiatan tidak boleh mendengar dan (tidak boleh) taat." (HR. Bukhari dan Muslim).

Kalau nekat mentaati perintah pimpinan yang jelas maksiat akan menyesal diakherat kelak, seperti diterangkan oleh Allah Ta'ala dalam firmanNya :

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا رَبَّنَا آَتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرً

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata:"Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan Kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (QS. Al-Ahzab : 66-68)

Dan FirmanNya :

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul". Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (QS. Al-Furqan: 27-29)

Dalam persoalan ibadah i'dad di Aceh ini maka terjadi adalah jaksa menuntut hukuman bagi orang yang sedang ber-ibadah dan hakim menghukum orang yang sedang ber-ibadah bahkan orang yang sedang beribadah ini dilecehkan sebagai teroris sungguh besar dosa anda."

Demikian pernyataan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir dalam eksepsinya yang beliau bacakan sendiri dalam sidang di PN Jaksel. Dan perlu diketahui bahwa begitu banyak konsekwensi bagi orang yang murtad baik di dunia maupun di akhirat, diantaranya adalah halal darahnya sebagaimana sabda Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam;

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالثَّيِّبُ الزَّانِي وَالْمَارِقُ مِنْ الدِّينِ التَّارِكُ لِلْجَمَاعَةِ

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan: "Tidak halal darahnya orang muslim yang bersaksi tiada tuhan yang berhak diibadati selain Allah dan aku adalah rasul Allah kecuali dengan salah satu dari tiga hal; zina muhshan, qishash, keluar dari Islam". (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Source : Link download eksepsi Ustadz Abu Bakar Ba'asyir:
http://www.4shared.com/get/Ye7Cdvfj/EKSEPSI_Ust_Abu.html

Sumber: Ar Rahmah Media

~

Kekafiran Penguasa dan Pembuat Undang-Undang Positif

Oleh: Fadhilah Syaikh Hamud bin Abdullah Uqala Asy-Syua’ibi Hafizhahullah

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhu.
Pada masa sekarang ini, di dunia Islam, baik itu di Arab maupun selainnya telah banyak orang yang bersandar kepada hukum positif, sebagai pengganti dari hukum (syari’at) Allah, bagaimanakah hukum bagi para penguasa seperti itu? Kami memohon jawaban jawaban yang memuaskan dengan dalil-dalil syar’iyah dari Al-Qur’an dan As-sunnah dan pendapat-pendapat para ulama.
Jawab:


Segala puji bagi Allah,shalawat dan salam atas seutama-utama para Nabi dan Rasul, nabi kita Muhammad s.a.w, dan para sahabatnya, semuanya…amien.
Sesungguhnya Allah Subhaanahu Wa-Ta’ala, ketika mengutus nabi-Nya Muhammad s.a.w, dengan membawa dien yang lurus ini, yang mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya, padahal manusia di waktu itu berada dalam kegelapan berupa kejahilan dan kesesatan,mereka tenggelam dalam lautan Khurafat dan taqlid membabi buta, yang semua itu merupakan warisan dari nenek-moyang terdahulu, dalam seluruh urusan mereka, dalam masalah aqidah dan ibadah, dan keputusan dan mahkamah, maka semua itu didasarkan atas kesyirikan terhadap Allah Subhaanahu Wa-Ta’ala. Mereka menjadikan pohon-pohon dan bebatuan, malaikat, jin dan manusia, serta yang lainnya sebagai tandingan selain Allah. Manusia di kala itu mendekatkan diri kepada apa yang telah disebutkan tadi dengan perbuatan yang perbuatan tersebut tidak patut dilakukan kepada selain Allah, misalnya penyembelihan, nadzar dan lainnya.

Adapun mengenai hukum-hukum dan ketetapan, maka tidak kurang kesesatan dan kerusakan mereka dari kesesatan dalam beribadah. Mereka mempercayakan urusan mereka kepada Thaghut-thagut, dukun-dukun dan tukang ramal. Mereka menjadikan semua itu sebagai tempat berwali sesama manusia, dalam seluruh masalah yang timbul di antara mereka, baik dalam masalah harta benda,darah,masalah seksual dan selainnya.
Mereka mengisi setiap aspek kehidupannya dengan hukum-hukum para thaghut itu. Jika suatu hukum telah ditetapkan,maka hukum itu tidak terbantahkan, berlaku mutlak, tidak berlaku kritik, tidak peduli apakah yang menetapkan itu jahat lagi Zhalim. Ketika Allah mengutus Muhammad s.a.w dengan membawa syari’at yang suci ini, maka syari’at tersebut menghapuskan adat kaum musyrikin,taqlid dan segala bentuk penetapan hukum. Jadilah ibadah hanya ditujukan kepada Allah s.w.t semata-mata, hukum-hukum dan ketetapan dibatasi hanya kepada Syari’at Allah:

Firman Allah:

“Sesungguhnya hukum itu milik Allah, Dia memerintakan agar kamu tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya (Ayat). Firman-Nya :”sesungguhnya hukum itu hanya milik Allah” menunjukkan pembatasan hukum hanya kepada syariat Allah, dan firman-Nya :”Dan Janganlah kamu beribadah kecuali hanya kepada-Nya” menunjukkan bahwa Allah s.w.t membatasi Ibadah yang dilakukan oleh manusia hanya kepada Allah s.w.t saja, dengan sebaik-baik cara pembatasan, ini merupakan an-nafyu (peniadaan) dan Al-itsna (pengecualian), maksudnya: Dilarang beribadah, kecuali hanya kepada Allah.

Sesungguhnya mereka yang mempelajari Kitabullah, akan mendapati banyak ayat yang menunjukkan wajibnya berhukum kepada apa yang Allah turunkan, yang merupakan syari’at yang suci, kepada Nabi Muhammad s.a.w:

 1. “Dan barangsiapa tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”

Ayat suci ini merupakan nash tentang kafirnya barangsiapa berpaling dari hukum Allah dan Rasul-Nya kepada selainnya.

Orang-orang bodoh dari kalangan murjiah modern memalingkan pengertian ayat tentang kafirnya penguasa (hakim) yang menghukumi dengan hukum selain apa yang diturunkan oleh Allah ini, mereka mengatakan: Ayat ini diturunkan kepada Yahudi, hukum dalam ayat itu tidak mencakup diri kita.

Ini menunjukkan kejahilan mereka dengan kaedah usul, yang diletakkan oleh para ulama tafsir, ulama hadits dan ulama ushul fiqih, yaitu, bahwa ‘Al-Ibrah Bi-’Umuumil Lafzhi, Laa Bikhushuusis Sabab” ( Pengambilan pelajaran/ibrah itu berdasarkan keumuman lafal, bukan berdasarkan sebab khusus turunnya ayat), jika suatu hukum telah turun dengan sebab tertentu, maka ayat itu tidak hanya terbatas terhadap sebab turunnya, bahkan ayat tersebut meliputi dan mencakup terhadap siapa saja yang termasuk dalam kata ‘Barangsiapa’. Maka kata ‘Barangsiapa’ dalam ayat tersebut dalam sighah (bentuk) umum, sehingga hukumnya tidak terbatas pada sebab turunnya ayat berkenaan, kecuali jika ada keterangan lain dari syari’at yang menerangkan kekhususan ayat tersebut. Misalnya dalam sabda Rasulullah s.a.w, ketika salah seorang sahabat radhiyallaahu ‘anhu bertanya:

Wahai rasulullah, sesungguhnya aku lebih suka berqurban dengan anak kambing betina daripada anak kambing jantan, bolehkah begitu wahai Rasulullah? Lalu beliau s.a.w menjawab: dibolehkan hanya untukmu, akan tetapi tidak boleh untuk seseorangpun setelah kamu”

Dan mereka (yaitu Murji-ah) berkata pula: “Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.anhuma, bahwasanya ia ditanya tentang tafsir ayat : “Dan barangsiapa tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itu termasuk orang-orang yang kafir”, lalu ibnu Abbas berkata: Kufrun Duuna Kufrin, dan dalam riwayat lain: bukan kafir sebagaimana mereka maksudkan.

Jawaban untuk masalah ini ialah kami katakan bahwa: Hisyam bin Hujair, meriwayatkan atsar ini dari Thaawus dari Ibnu Abbas. Pembicaraan tentang ini terjadi sebelum adanya imam-imam hadits seperti Imam Ahmad, Yahya bin Ma’in selain mereka berdua. Terdapat riwayat lain yang bertentangan dengan hadits dari Thawus ini, dimana riwayat tersebut lebih kuat, yang datang dari Abdullah bin Thawus. Ia (Abdullah bin Thawus) meriwayatkan dari ayahnya (dari Thawus) bahwa Ibnu Abbas, ketika ditanya tentang tafsir ini Ia menjawab: yang dimaksud adalah kafir!.

2.“Maka demi Rabb (Tuhan) mu, tidak dikatakan beriman sehingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai pemutus hukum terhadap masalah yang ada di antara mereka, kemudian tidak terdapat dalam hati mereka keberatan terhadap apa yang kamu putuskan, dan mereka berserah diri sepenuh-penuh penyerahan” ( An-nisa:65)

Ayat ini menjelaskan tentang tidak adanya Iman terhadap siapa yang tidak menghukumi dengan syariat Allah, karena Allah bersumpah di dalamnya, bahwa seseorang tidak ada imannya sampai di dalam dirinya terdapat Tiga sifat sebagai berikut:

1. Berhukum kepada syari’at Allah.
2. Tidak terdapat rasa berat dalam dirinya dalam hal tersebut, bahkan ia ridha dengan hukum Allah.
3. Ia berserah diri sepenuhnya kepada hukum Allah dan ridha dengannya.

Kaum Murjiah itu, disamping memalingkan pengertian ayat tentang kafirnya penguasa yang berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, mereka juga memalingkan ayat yang menunjukkan tidak adanya Iman bagi mereka yang tidak berhukum dengan selain hukum Allah. Mereka katakan: yang dimaksud penafian (peniadaan) iman dalam ayat tersebut adalah tidak adanya kesempurnaan Iman, bukan peniadaan dalam arti yang sebenarnya.

Orang-orang bodoh itu tidak mengerti bahwa asal kalimat dalam bahasa Arab itu adalah arti yang sebenarnya, tidak dapat dipalingkan kepada pengertian Majaaz (kiasan), kecuali jika ada dalil lain yang wajib memalingkan dari pengertian asal yang jelas kepada pengertian yang lain. Maka dalam konteks ayat diatas, dalil apa, dan qariinah (dalil pembanding) apa yang mengharuskan memalingkan arti asal ini yang menyebutkan tiadanya Iman kepada ‘tiadanya kesempurnaan Iman’ ?

3. “Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang menyangka bahwa mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa-apa yang diturunkan sebelum kamu. Mereka hendak berhukum kepada Thaghut, padahal mereka telah diperintah untuk mengingkari thaghut. Syaitan hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh. Dan jika dikatakan kepada mereka marilah berhukum kepada apa yang Allah turunkan dan kepada Rasulullah, maka kalian lihat orang-orang munafiq itu menghalangi manusia dengan sekuat-kuatnya dari mendekati kamu ” (An-Nisa (4):60-61)

Ayat yang mulia ini menerangkan bahwa barangsiapa berhakim kepada Thaaghuut, atau menghukumi dengan hukum thaghut, maka telah hilang iman dari dirinya, dengan dalil firman Allah “Mereka menyangka beriman”, artinya jika mereka masih terhitung sebagai orang-orang beriman, tentulah tidak disebutkan “mereka menyangka mereka beriman”, ketika Allah menggambarkan mereka dengan kalimat “Mereka menyangka mereka beriman”, berarti menunjukkan bahwa keimanan mereka terhadap Allah telah hilang dalam arti yang sebenarnya.

Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala “Padahal mereka telah diperintahkan untuk mengkafiri (mengingkari)nya. Dan syaitan hendak menyesatkan mereka dengan penyesatan yang jauh”,ini pun merupakan dalil bahwa iman telah hilang dari diri mereka. Akan semakin jelas kafirnya orang yang berhukum kepada Thaghut, atau menghukumi dengan hukum thagut dengan memahami sebab turunnya ayat tersebut; para mufasirin menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah, bahwa suatu ketika terjadi sengketa antara Yahudi dan non Yahudi. Yahudi itu berkata: “Kita angkat masalah ini kepada Rasulullah” tapi yang bukan Yahudi itu malah berkata: “Kita adukan saja masalah ini kepada Ka’ab Al-Asyraf Al-Yahuudi”, maka turunlah ayat ini.

Asy-Sya’abi berkata, terdapat sengketa antara seorang dari kalangan munafiqin dan seorang Yahudi, si Yahudi ini berkata; Kita angkat masalah ini kepada Nabi Muhammad, karena dia tahu bahwa Nabi Muhammad s.a.w tidak mungkin menerima risywah (suap),tapi si munafiqin malah berkata: “Kita berhukum saja kepada Yahudi, karena dia tahu bahwa Yahudi mau menerima suap, lalu mereka berdua sepakat untuk mendatangi seorang dukun di Juhainah, dan mereka berdua berhukum kepadanya, lalu turunlah ayat..”Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menyangka…”. Atsar ini datang dari Asy-Sya’bi, jikalaupun di dalamnya terdapat kelemahan, akan tetapi syahid (saksi) yang berbeda-beda yang memperkuat kedudukannya. Diantara kesaksian hadits yang menyebabkan turunnya ayat ini ialah bahwa Umar bin Khaththab r.a membunuh lelaki yang tidak ridha dengan keputusan Nabi Muhammad s.a.w. Jikalah orang itu tidak murtad, tentu saja Umar bin Khaththab r.a tidak membunuhnya.
Sebagaimana diriwayatkan dari Urwah bin Zubair, bahwa dia berkata: Dua orang lelaki bersengketa dan mengangkat masalah mereka kepada Rasulullah s.a.w.Lalu beliau memenangkan perkara salah satu diantara mereka. Lelaki yang kalah dalam perkara itu berkata : “Kami adukan masalah ini kepada Umar r.a, lalu Rasulullah s.a.w bersabda: “Ya. Berangkatlah kalian kepada Umar” keduanya lalu berangkat dan mendatangi Umar. Lelaki yang menang dalam perkara itu berkata: “Wahai Ibnul Khaththab; Sesungguhnya Rasulullah s.a.w memenangkan perkaraku, tapi dia ini (lawan perkaranya) berkata: ‘kita adukan saja masalah in kepada anda” Lalu rasulullah mengembalikan perkara ini kepada anda, Umar lalu bertanya kepada lelaki yang kalah berperkara : “Apa betul demikian?”, “Ya’, jawab lelaki itu. Umar berkata: “Tetaplah kalian di tempat masing-masing, sampai aku kembali dan menetapkan urusan kalian berdua” Ia lalu keluar dengan membawa pedang terhunus, dan memenggal orang yang berkata :”Kita adukan saja kepada Umar”

Jalan cerita yang berbeda dalam kisah diatas tidak mempengaruhi kepastian hal tersebut, karena berbilangnya riwayat mengenai itu. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala : Dan apabila dikatakan kepada mereka ;”Marilah kepada apa yang Allah turunkan dan kepada Rasul, kalian akan lihat orang-orang Munafiq itu menghalangi manusia dengan sekuat-kuat halangan dari padamu” menunjukkan bahwa orang-orang yang menghalangi dari hukum Allah dan Rasul-Nya dan berpaling daripadanya lalu berhukum dengan hukum selainnya, maka dia adalah Munafiq, dan munafiq -dalam konteks ini- adalah kafir.

Sebagaimana orang yang berhukum kepada undang-undang positif adalah kafir, seperti telah disebutkan terdahulu, maka mereka yang membuat undang-undang dan menetapkan dengannya adalah termasuk kafir juga. Karena dengan pembuatan syari’at dan penetapan undang-undang untuk manusia, berarti dia telah menjadi sekutu bagi Allah S.W.T dalam masalah pensyariatan. Firman Allah: Apakah mereka memiliki tandingan-tandingan yang membuat undang-undang buat mereka dalam masalah dien (agama) dengan apa yang tidak mendapat izin dari Allah?”. Firman Allah yang lainnya: “Dan tidaklah ia patut memiliki satupun sekutu dalam masalah hukum”. Firman Allah yang lainnya: “Mereka menjadikan pendeta-pendeta mereka dan rahib-rahib mereka sebagai Arbab (tuhan-tuhan) selain Allah” Ketika Adi bin Hatim mendengar ayat ini, ia berkata : ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya kami tidak menyembah mereka” Rasulullah s.a.w lalu menjawab: “Bukankah mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan lalu kamupun ikut mengharamkannya, dan bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan lalu kamupun ikut menghalalkannya?” “Betul”, jawa Adi bin Hatim, lalu Rasulullah s.a.w bersabda: “Itulah bentuk penyembahan/peribadatan mereka”

Teranglah dari ayat suci dan hadits tentang Adi bin Hatim, bahwa At-Tahlil (penghalalan) dan At-Tahrim (pengharaman) dan tasyri’ (pensyariatan) adalah merupakan kekhususan bagi Allah s.w.t, maka barangsiapa menghalalkan atau mengharamkan atau mensyariatkan apa-apa yang menyalahi syari’at Allah, berarti dia telah menjadi sekutu bagi Allah dalam kekhususannya .

Dari ayat-ayat terdahulu dan komentar kami tentangnya, jelaslah bahwa barangsiapa yang berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan dan berpaling dari syari’at Allah dan hukum-Nya, maka dia kafir terhadap Allah yang Maha Agung, dia telah keluar dari Islam. Demikian juga orang-orang yang semisal itu, yang membuat UU positif bagi manusia, karena sesungguhnya jika dia tidak ridha terhadapnya tentulah dia tidak akan berhukum dengannya. Banyak dari kalangan penguasa yang memiliki ‘kepentingan’ tertentu yang ‘menomorsekiankan’ hukum Allah dan berusaha merubah hukum,atau malah membuangnya.

Jika kita katakan bahwa mereka ,para penguasa itu ,tidak membuat hukum dan tidak membuat syari’at untuk bangsa mereka, lalu siapakah yang menetapkan kewajiban kepada rakyat supaya komitmen dengan hukum tersebut dan sekaligus mengenakan sanksi terhadap orang yang menyelisihinya?
Ini tidak jauh berbeda, persis sebagaimana keadaan Tartar, dimana Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim rahimahumaallaahu menukil ijma’ bahwa mereka adalah kafir. Bangsa Tartar tidak membuat dan menetapkan syari’at Ilyasiq, tetapi yang membuatnya adalah salah seorang dari penguasa mereka, yaitu Jengis Khan, maka keadaan penguasa hari ini, sama dengan keadaan penguasa di masa Tartar.

Karena itu, semakin jelas bahwa pelaksana hukum selain apa yang Allah turunkan menjadi kafir dengan sebab:

1. Sebab pertama, dari sisi tasyri’ (pensyariatan), jika dia membuat syari’at.
2. Kedua, dari segi hukum, jika dia berhukum.

Diatas telah disebutkan nash-nash yang menunjukkan kafirnya orang yang menghukumi dengan undang-undang positif (undang-undang buatan manusia). Sekarang akan saya sebutkan pendapat para ulama tentang kafirnya orang-orang yang menghukumi dengan uu positif:

Pertama: Syaikhul Islam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Fatawa 3/267
Ketika seseorang menghalalkan apa yang menurut Ijma adalah haram, dan sebaliknya mengharamkan apa yang menurut ijma adalah halal, atau mengganti syari’at yang telah ijma’ akan kebenarannya, maka orang tersebut telah kafir berdasarkan kesepakatan para fuqaha (ahli fiqih)

Dia berkata pula dalam Al-Fatawa 35/372:
Ketika seorang alim meninggalkan apa yang telah diketahuinya dari kitabullah dan sunnah rasul-Nya dan mengikuti hukum penguasa yang menyalahi hukum Allah dan rasul-Nya, maka ketika itulah dia murtad dan kafir, ia layak dihukum di dunia dan akhirat.

Kedua : Ibnu Katsir berkata dalam Al-Bidayah wan-Nihayah 13/119:
Barangsiapa meninggalkan syariat yang telah mantap yang diturunkan kepada nabi Muhammad, penutup para nabi, alaihis Sholaatu was Salaam, dan berhukum kepada selainnya, yaitu syari’at yang telah terhapus (hukum kafir), maka dia kafir. Lalu bagaimana dengan orang yang berhukum kepada hukum Ilyasiq dan lebih mendahulukannya daripada hukum Islam? Barangsiapa melakukan hal tersebut, maka dia telah kafir berdasarkan Ijma’ kaum Muslimin.

Ketiga : Berkata syaikh kami, Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqithi rahimahullah, setelah ia menyebut nash-nash yang menunjukkan kafirnya orang-orang yang menghukumi dengan hukum buatan manusia (hukum positif):

Dengan nash-nash samawiyah (yang diturunkan dari langit, Alqur’an) yang telah kita sebutkan, akan nampak sejelas-jelasnya bahwa orang-orang yang mengikuti undang-undang buatan manusia yang telah disyariatkan oleh Syaitan di atas lidah-lidah wali-wali syaitan, yang semua itu menyelisihi apa yang telah disyariatkan oleh Allah Jalla Wa Alaa’ di atas lisan Rasul-Nya ShallaLlaahu ‘Alaihi Wasallam, maka tidak diragukan lagi tentang kekafiran dan kesyirikan mereka,(hal ini dapat diketahui oleh semua orang) kecuali bagi orang yang telah Allah tutup dan butakan penglihatannya dari melihat cahaya wahyu.

Keempat : Syaikh kammi, Muhammad bin Ibrahim Aalu Syaikh dalam komentarnya terhadap firman Allah: “Maka demi Rabbmu, tidak beriman…” (An-Nisa:65), ia berkata: Allah S.W.T telah menganggap tidak ada iman bagi siapa yang tidak berhukum kepada Nabi s.a.w dalam masalah yang timbul diantara mereka, ini suatu penafian muakkad (tegas) dengan mengulangi aadatun nafiy dengan sumpah. Demikian yang dikatakan olehnya rahimahullah, dalam ta’liqnya mengenai ayat ini.

Saya sendiri menghadiri halaqahnya, rahimahullah, selama bertahun-tahun. Saya mendengarnya berkali-kali, lebih dari sekali, ia sangat menekankan benar masalah ini, beliau menjelaskan tentang kafirnya siapa yang berhukum kepada selain syariat Allah, sebagaimana ia jelaskan dalam risalah Tahkiimul Qawaaniin .

Kelima : Syaikh kami, syaikh Abdul Azin bin Bazz Rahimahullah, dalam risalahnya : Naqadah Al-Qaumiyah Al-Arabiyah hal 39 menyebutkan tentang siapa yang menjadikan hukum yang menyelisihi Al-Qur’an ,maka ini adalah kerusakan yang besar, dan merupakan kekafiran yang nyata, murtad secara terang-terangan, sebagaimana firman Allah: “”Maka demi Rabb (Tuhan) mu, tidak dikatakan beriman sehingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai pemutus hukum terhadap masalah yang ada di antara mereka, kemudian tidak terdapat dalam hati mereka keberatan terhadap apa yang kamu putuskan, dan mereka berserah diri sepenuh-penuh penyerahan” ( An-nisa:65) dan firman Allah: ‘Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah, bagi orang-orang yang yakin..sampai kepada kata-kata: dan setiap negara yang tidak berhukum dengan hukum Allah, dan tidak menyerahkan urusan kepada hukum Allah, maka negara tersebut adalah negara Jahiliyah, Kafir, Zhalim fasiq sesuai dengan nash ayat muhkamat (tegas) ini, wajib bagi orang Islam untuk membencinya dan memusuhiny Karena Allah, dan haram bagi kaum Muslimin memberikan wala (lebih luas dari sekedar loyalitas) dan menyukainya, sampai negeri itu beriman kepada Allah Yang Maha Esa, dan berhukum dengan syariat-Nya. Selesai

Apa yang telah saya sebutkan dari nash-nash dan pendapat para ulama, cukup kiranya untuk menjelaskan bahwa melaksanakan hukum positif adalah kafir. Dan menetapkan uu positif sebagai hukum adalah kafir kepada Allah Yang Maha Agung. Sekiranya saya nukil lagi pendapat-pendapat para ulama ummat ini dan imam-imamnya dalam bab ini, niscaya akan panjang lagi pembicaraannya. Semoga jawaban ini mencukupi bagi penanya. Dan shalawat ata nabi kita Muhammad dan keluarganya, dan sahabatnya semua.

Didiktekan oleh A.Hamud Bin Uqala Asy-Syu’aibi.

~

Thoghut Menurut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan: “Thoghut itu pengertiannya umum; maka setiap apa yang diibadahi selain Alloh dan dia rela dengan peribadahan itu, baik berupa sesuatu yang disembah atau diikuti atau ditaati selain ketaatan kepada Alloh dan rosulNya adalah thoghut. Thoghut itu banyak dan kepalanya ada lima:

Pertama; Syetan yang menyeru untuk beribadah kepada selain Alloh, dalilnya adalah:

ألم أعهد إليكم يابني آدم أن لاتعبدوا الشيطان إنه لكم عدو مبين

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu”, (QS. 36:60)

Kedua; Seorang penguasa yang dzolim yang merubah hukum-hukum Alloh. Dalilnya adalah:

ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل إليك وماأنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت وقد أمِروا أن يكفروا به ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيداً

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. 4:60)

Ketiga; Orang yang memutuskan perkara dengan selain apa yang diturunkan Alloh. Dalilnya adalah:

ومن لم يحكـم بما أنـزل اللـه فأولئــك هم الكافرون

Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-oang yang kafir. (QS. 5:44)

Keempat; Orang yang mengaku mengetahui hal-hal yang ghoib selain Alloh. Dalilnya adalah :

عالـم الغيب فلا يُظهر على غيبه أحداً، إلا من ارتضى من رسول، فإنه يسلك من بين يديه ومن خلفه رصداً

(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. 72: 26 – 27)

Dan Alloh berfirman:

وعنده مفاتح الغيب لايعلمها إلا هو، ويعلم مافي البر والبحر، وماتسقط من ورقة إلا يعلمها ولا حبة في ظلمات الأرض ولا رطب ولا يابس إلا في كتاب مبين

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melaimkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. 6:59)

Kelima; Orang yang diibadahi selain Alloh dan dia rela dengan ibadah itu. Dalilnya adalah:

ومن يقل منهم إني إله من دونه فذلك نجزيه جهنم، كذلك نجزي الظالمين

Dan barangsiapa diantara mereka mengatakan:”Sesungguhnya aku adalah ilah selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam, demikian Kami memberi balasan kepada orang-oramg zhalim. (QS. 21:29)

(Dinukil dari Risalah Ma’na Ath-Thoghut, tulisan Muhammad bin Abdul Wahhab, yang terdapat dalam Majmu’atut Tauhid cet. Maktabah Ar-Riyadl Al-Haditsh, hal. 260.)

~

Fatwa-Fatwa Ulama Tentang Nasyid-Nasyid Islami

1. Fatwa Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah
Beliau memiliki beberapa fatwa, kami akan coba sampaikan empat fatwa.


Fatwa 1:

سماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز

س: ما حكم استماع أشرطة الأناشيد الإسلامية؟
جـ- الأناشيد تختلف فإذا كانت سليمة ليس فيها إلا الدعوة إلى الخير والتذكير بالخير وطاعة الله ورسوله والدعوة إلى حماية الأوطان من كيد الأعداء والاستعداد للأعداء ، ونحو ذلك ، فليس فيها شيء .
أما إذا كان فيها غير ذلك من دعوة إلى المعاصي واختلاط النساء بالرجال أو تكشفهن عندهم أو أي فساد كان فلا يجوز استماعها .



Beliau ditanya: “Apa hukum mendengarkan kaset-kaset nasyid Islami?

Beliau menjawab:

“(Hukum) Nasyid memiliki perbedaan. Jika nasyid tersebut benar, tidak ada di dalamnya kecuali ajakan pada kebaikan dan peringatan pada kebaikan dan ketaatan kepada Allah dan RasulNya, serta ajakan kepada pembelaan kepada tanah air dari tipu daya musuh, dan menyiapkan diri melawan musuh, dan yang semisalnya, maka tidak apa-apa. Ada pun jika di dalam nasyid tidak seperti itu, berupa ajakan kepada maksiat, campur baur antara laki-laki dan wanita, atau para wanita membuka auratnya, atau kerusakan apa pun, maka tidak boleh mendengarkannya.” (Selesai fatwa pertama)

Fatwa 2:

سماحة الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز رحمه الله :

الأناشيد الإسلامية مثل الأشعار؛ إن كانت سليمة فهي سليمة ، و إن كانت فيها منكر فهي منكر ... و الحاصل أن البَتَّ فيها مطلقاً ليس بسديد ، بل يُنظر فيها ؛ فالأناشيد السليمة لا بأس بها ، والأناشيد التي فيها منكر أو دعوة إلى منكرٍ منكرةٌ ) [ راجع هذه الفتوى في شريط أسئلة و أجوبة الجامع الكبير ، رقم : 90 / أ [



Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata:

“Nasyid-nasyid Islam itu seperti sya’ir-sya’ir. Jika dia benar isinya, maka dia benar. Jika di dalamnya terdapat kemungkaran, maka dia munkar .... wal hasil, memutuskan hukum nasyid secara mutlak (general/menyamaratakan) tidaklah benar, tetapi mesti dilihat dulu. Maka, jika nasyid-nasid tersebut baik, maka tidak apa-apa. Dan nasyid-nasyid yang terdaat kemungkaran atau ajakan kepada kemunkaran, maka dia munkar.” (Lihat fatwa ini dalam kaset tanya jawab, Al Jami’ Al Kabir, no. 90/side. A) (selesai fatwa kedua)

Fatwa 3:

السؤال: كثر الكلام حول موضوع الأناشيد الإسلامية، والناس في حيرة حول هذا، وجاءت أسئلة بخصوص هذا الموضوع،أكثر من سؤال، فنرجوا من سماحتكم التفضّل ببيان ذلك وتوضيحه؟؟
فأجاب سماحة الشيخ عبد العزيز بن باز- رحمه الله :


الأناشيد الإسلامية فيها تفصيل، لا يمكن الجواب عنها مطلق، لا بد يكون فيها تفصيل؛ فكل شِعر أو أنشودة، سواء سمي أناشيد إسلامية أو غير ذلك، لابد أن يكون سليماً مما يخالف الشرع المطهّر، فإذا كان سليماً مما يُخالف الشرع المطهر في مدح قيمة الأخلاق كالكرم والجود، في الحث على الجهاد في سبيل الله، في الحث على حماية الأوطان من الأعداء، في الحث على الإخلاص لله في العمل، في الحث على بر الوالدين، وعلى إكرام الجار، على غير هذا من الشؤون الإسلامية، بأساليب واضحة ليس فيها ما يخالف الشرع المطهّر، فليس فيها بأس مثل ما قال الشافعي-رحمه الله- في الشعر- هو كان على خير نسق-: حسنه حسن، وقبيحه قبيح .
قال النبي صلى الله عليه وسلم: " إن من الشعر حكمة ".
الله قال-جلا وعلا-: " والشعراء يتبعهم الغاوون*ألم تر أنهم في كل واد يهيمون * وأنهم يقولون مالايفعلون * إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وذكروا الله كثيراً....... "الآية.
فهؤلاء مُستَثنَون..إذا كان شعره سليماً، داخلاً في العمل الصالح..فهو مُستثنى.
ومن كان شعره ليس داخلاً في ذلك بأن يدعو إلى ما يُخالف الشرع، فإنه لا يكون أمره طيباً، ولا ينبغي أن يُسمح له، بل ينبغي أن يُترك حتى يكون شعره موافقاً لشرع الله، سليماً مما يُخالفه.
فكل أنشودة أو أناشيد ينبغي أن تُعرض على أهل العلم،على لجنة من أهل العلم ينظرونها، ويُنقّحونها، فإذا نقّحوها وبيّنوا أنها جائزة تُقدّم للمدرسة أو لغير المدرسة.. ولا تُقبل من كل أحد هذه الأناشيد بل تُنظر فيها من لجنة، إذا كانت من جهة المعارف فمن جهة المعارف، وإذا كانت من جهة المعاهد فمن جهة المعاهد..من أي جهة تكون هذه الأناشيد ؛لا يُسمح بها حتى تُعرض على لجنة من أهل العلم والبصيرة، المعروفين بالاستقامة والعلم بالشرع حتى ينظروا فيها، لأن التساهل فيها قد يُفضي إلى شرٍّ كثير..فلا بد أن تُعرض على أهل العلم الذين يُعرف فيهم العلم والفضل والغيرة الإسلامية..[كلمة غير واضحة]
فيها، ويبينون مافيها من خلل، ثم يوجِّهون أهل الأناشيد إلى ماهو الأفضل..فقال السائل: طبعاً من رأي سماحتكم أن لا تطغى هذه الأناشيد على الإنصراف عن سماع القرآن الكريم، لأن بعض الإخوة يشتكي بأنها صرفتهم عن سماع القرآن والذكر؟؟

فقال سماحة الشيخ ابن باز-رحمه الله-: لابد أن يكون لها وقت خاص قليل، ما تشغلهم عما هو أهم، لا عن دروسهم، ولا عن القرآن، ولا عن الذكر، فيكون لها وقت قليل.. لكن إذا أُريدت يكون لها وقت، إما قبل الدروس ، أو بعد الدروس، أو في أثناء الدرس، إذا كان في هناك فائدة، تتعلق بالمصلحة الإسلامية، على ما يُوجّه اللجنة، لجنة العلماء، على توجيه اللجنة التي تختص بهذا الشيء، تنظر فيه، إما أن تقول تُفعل، أو لا تُفعل، أو تكون في وقت كذا، أو في خمس دقائق، أو في عشر دقائق، أو في أقل أو في أكثر..[ثم انقطع الصوت] ثم قال الشيخ ابن باز: إذا كانت إسلامية فهي إسلامية، وإذا كانت ليست إسلامية وهي مباحة فهي مباحة على حسب، قد تكون أناشيد شيطانية

فقال سائل:لكن ياشيخ بالنسبة للتسجيلات الإسلامية-جزاهم الله خير- عندهم الكثير منها وخالية من الموسيقى، وفي بعض منها شيء مختلط[غير متأكدة] بالموسيقى، والموسيقى حرام؟
فقال الشيخ ابن باز-رحمه الله-: ما أدري والله، أنا ما عندي خبر منها ، لكن القاعدة موافقة الشرع ومخالفته، الذي فيها موسيقى تُمنع.



Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya:



“Banyak perbincangan seputar nasyid-nasyid Islam, manusia nampak kebingungan tentang masalah ini, dan telah datang pertanyaan ini secara khusus sebagai tema yang paling banyak ditanyakan, maka kami berharap kepada Anda untuk memberikan penjelasan tentang persoalan ini?”



Syaikh menjawab:

“Nasyid-nasyid Islami ini, di dalamnya perlu ada perincian. Tidak mungkin menjawabnya secara general (memukul rata). Harus dibahas secara rinci. Maka, semua sya’ir atau nasyid, baik yang dinamakan nasyid Islami atau selainnya, harus bersih dari hal-hal yang bertentangan dengan syariat yang suci. Jika nasyid bersih dari hal-hal yang bertentangan dengan syariat, berupa pujian terhadap akhlak yang terpuji, seperti kedermawanan, anjuran untuk berjihad fisabilillah, anjuran melindungi tanah air dari musuh, anjuran ikhlas dalam beramal, anjuran berbakti kepada orang tua, memuliakan tetangga, dan perilaku islami lainnya, dengan cara yang jelas dan tidak ada di dalamnya pertentangan dengan syariat, maka hal itu tidak mengapa. Sebagaimana komentar Imam Asy Syafi’i –rahimahullah- tentang sya’ir, dan ucapan beliau ini adalah mutiara yang bagus, katanya: “kebaikannya adalah baik, dan keburukannya adalah buruk.”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya di antara sya’ir itu terdapat hikmah.”

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah .... (QS. Asy Syu’ara (26): 224-227)

Mereka inilah yang mendapatkan pengecualian, jika sya’irnya baik, maka itu termasuk amal shalih, maka mereka inilah yang dikecualikan.

Tetapi jika sya’irnya tidak termasuk yang seperti ini, lantaran mengajak kepada hal-hal yang bertentangan dengan syariat, maka itu bukanlah perkara yang baik, dan tidak seharusnya bertoleransi dengannya, bahkan wajib meninggalkannya hingga sya’ir tersebut sesuai dengan syariat Allah Ta’ala.

Hendaknya setiap nasyid diserahkan kepada ulama atau lembaga ulama untuk menilai dan mengoreksinya. Maka, jika sudah dikoreksi, dan mereka membolehkan untuk disampaikan di sekolah atau selain sekolah ... Janganlah diserahkan kepada tiap orang untuk menilai nasyid ini, tetapi hendaknya dinilai oleh lembaga. Jika yang menilai adalah dari lembaga ilmu pengetahuan umum maka mereka menilai dengan sudut pandangnya itu, jika yang menilai dari lembaga pesantren maka mereka juga akan menilai dengan sudut pandangnya. .. dari sudut apa pun cara pandang menilai nasyid-nasyid ini: tidaklah diberi kelapangan sampai dikembalikan kepada lembaga ahli ilmu dan pengetahuan, yang sudah diketahui keistiqamahannya terhadap syariat, karena menggampangkan masalah ini akan membawa kepada keburukan yang banyak .. maka harus dikembalikan kepada ulama yang mereka dikenal keilmuan, keutamaan, dan kecemburuannya terhadap Islam ... (ucapan tidak jelas) .. mereka menjelaskan cacat apa saja yang ada padanya, lalu mengarahkan para penasyid kepada apa yang lebih afdhal ..

Lalu Penanya berkata: Tentu .., diantara pendapat Anda janganlah berlebihan terhadap nasyid-nasyid ini, hingga memalingkan dari mendengarkan Al Quran, karena sebagian ikhwah ada yang mengeluh, bahwa nasyid telah memalingkan mereka dari mendengarkan Al Qran dan dzikir?

Syaikh bin Baz menjawab: “Dia semestinya memiliki waktu khusus yang sedikit saja, jangan sampai nasyid menyibukkan mereka dari hal yang lebih penting, baik dibanding pelajaran mereka, dibanding Al Quran, dan dibanding dzikir, maka hendaknya nasyid itu porsinya sedikit saja .. tetapi jika engkau menghendaki waktu khusus untuknya, baik sebelum belajar, atau setelahnya, atau ketika belajar, jika hal itu ada manfaat yang terkait dengan maslahat islam yang telah diarahkan oleh lembaga ulama yang secara khusus memberikan perhatian dalam masalah ini. Baik yang dikatakan oleh mereka untuk dilakukan atau tidak dilakukan, atau pada waktu sekian , atau selama lima menit atau sepuluh menit, atau lebih sedikit atau juga lebih lama .. “ (lalu suara terputus).

Kemudian, Syaikh bin Baz berkata: “Nasyid yang Islami maka dia islami, yang tidak islami maka dia boleh pada kadar tertentu, jika berlebihan maka menjadi nasyid syaithani.”

Berkata penanya: “Tetapi Ya Syaikh, kaitannya dengan perusahaan rekaman Islam –semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada mereka- banyak di antara nasyid-nasyid yang tanpa musik, dan sebagiannya sudah dicampur dengan musik ... (suara tidak kuat), dan musik itu haram?

Syaikh menjawab: “Saya tidak tahu, demi Allah, saya tidak punya info tentang itu. Tetapi, yang jadi kaidah adalah: ‘sesuai dengan syariat dan bertentangan dengan syariat’, jika pakai musik maka itu terlarang.” (selesai fatwa ketiga)

Fatwa 4:


سماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز

س: يقول ابنتي تذهب إلى الروضة رياض الأطفال ولكن من بين الأشياء التي يؤدونها في الروضة أن المدرسة تفتح لهم المسجل وتسمعهم الأناشيد الغير مبتذلة مثلا عن الأم والوطن وما شابه ذلك ولكن تلك الأناشيد تكون مصحوبة بالموسيقي فهل يجوز لي أن أدع ابنتي تذهب وهل يكون على ذنب إذا استمعت لمثل ذلك؟
ج- هذا غلط من المدرسة أما سماع الطفلة الأناشيد السليمة فلا حرج في ذلك وهكذا الطفل وهكذا غيرهما من الأناشيد التي ليس فيها محرم إنما هي للتشجيع على الأخلاق الفاضلة أو ما يتعلق بواجب الوطن عليهم وواجب دولتهم ونحو ذلك أما اصطحابها بالموسيقي فهذا غلط ولا يجوز والواجب على القائم على الروضات منع ذلك حتى لا يبقى هناك مانع من مجيء الأطفال إليهم فعليك أنت وإخوانك أن تتصلوا بالمسئولين عن هذه الروضات حتى يمنعوا هذا الشيء لأن هذا لا حاجة إليه ويربى الأطفال الصغار على حب الموسيقي والتلذذ بها واستماعها بعد ذلك فالطفل على ما ربي عليه فعليكم أن تتصلوا بالمسئولين بهذا عن المدارس حتى يمنعوا ذلك وحتى تسلم هذه الروضات مما يخالف شرع الله سبحانه وتعالى.



Penanya berkata:

“Anak putri saya pergi ke taman sekolah TK, tetapi di sana sekolah menyambutnya dengan berbagai sambutan diantaranya adalah rekaman nasyid yang diperdengarkan kepada mereka, bertemakan semangat berkorban kepada ibu dan tanah air misalnya, dan sejenisnya. Tetapi pada nasyid tersebut diiringi dengan musik, apakah boleh bagi saya membiarkan anak saya pergi ke sana, dan apakah berdosa jika dia mendengarkan hal seperti itu?”

Jawab Syaikh:

“Itu merupakan kesalahan sekolah. Ada pun bagi anak-anak puteri mendengarkan nasyid-nasyid yang baik maka tidak mengapa hal itu. Begitu pula tidak mengapa bagi anak-anak putera dan selain mereka, yakni nasyid-nasyid yang tidak mengandung keharaman. Nasyid yang menggelorakan terbentuknya akhlak yang mulia, dan apa-apa yang terkait dengan kewajiban mereka terhadap tanah air dan negara. Ada pun iringan musik, maka itu kesalahan dan tidak boleh, dan wajib bagi penjaga taman untuk mencegahnya, sampai tidak ada lagi hal-hal yang menghalangi anak-anak untuk datang ke sana. Maka, anda dan saudara anda wajib menyampaikan kepada penanggung jawab taman-taman ini, sampai mereka menceah hal ini, sebab hal ini tidak dibutuhkan untuk mendidik mereka agar mencintai musik, menikmati, dan mendengarkannya setelah itu. Maka, hendaknya anak-anak mendapatkan apa-apa yang bisa mendidiknya, maka anda sampaikan hal ini kepada pihak penanggung jawab sekolah tentang hal ini, sehingga mereka mencegahnya sampai TK ini bersih dari apa-apa yang berselisihan dengan syariat Allah Ta’ala.” (selesai fatwa keempat)

2. Al ‘Allamah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah

محدّث الديار الشاميّة الشيخ محمد ناصر الدين الألباني رحمه الله
إذا كانت هذه الأناشيد ذات معانٍ إسلامية ، و ليس معها شيء من المعازف و آلات الطرب كالدفوف و الطبول و نحوِها ، فهذا أمرٌ لا بأس به ، و لكن لابد من بيان شرطٍ مهم لجوازها ، وهو أن تكون خالية من المخالفات الشرعية ؛ كالغلوّ ، و نَحوِه ، ثم شرط آخر ، و هو عدم اتخاذها دَيدَناً ، إذ ذلك يصرِفُ سامعيها عن قراءة القرآن الذي وَرَدَ الحضُّ عليه في السُنَّة النبوية المطهرة ، و كذلك يصرِفُهُم عن طلب العلم النافع ، و الدعوة إلى الله سبحانه
]العدد الثاني من مجلة الأصالة ، الصادر بتاريخ 15 جمادى الآخرة 1413هـ ، ص : 73 [

Beliau berkata:

“Jika nasyid-nasyid ini memiliki muatan-muatan islami, dan tidak diiringi dengan alat-alat musik seperti dufuf (gendang), dan semisalnya, maka ini sesuatu yang tidak mengapa. Tetapi harus dijelaskan syarat penting untuk kebolehannya. Hendaknya tidak bertentangan dengan syariat, seperti ghuluw (melampaui batas) dan semisalnya, kemudian syarat lainnya, yaitu tidak menjadikannya sebagai kebiasaan, ingatlah, hal itu bisa mengalihkannya dari membaca Al Quran yang telah diperintahkan dengan tegas dalam sunah nabi, dan juga mengalihkannya dari menuntut ilmu yang bermanfaat, dan da’wah ilallahu Subhanahu wa Ta’ala .(Majalah Ashalah, edisi 2, tanggal 15 Jumadil Akhir 1413H, Hal. 73)



3. Al ‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah

الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله

ما رأى فضيلتكم فى الأناشيد الاسلامية ؟

الأناشيد الإسلامية كثر الكلام عليها وأنا لم أستمع إليها إلا من مدة طويلة، وهي أول ما خرجت لا بأس بها، ليس فيها دفوف، وتؤدى تأدية ليس فيها فتنة ، وليست على نغمات الأغاني المحرمة، لكن تطورت في الواقع وصارت يسمع منها قرع يمكن أن يكون غير الدف، ثم تطورت باختيار ذوي الأصوات الجميلة الفاتنة، ثم تطورت أيضا إلى أنها تؤدى على صفة الأغاني المحرمة، لذلك بقي في النفس منها شيء وقلق، ولا يمكن للإنسان أن يفتي بأنها جائزة على كل حال ولا محرمة على كل حال، وإذا كانت خالية من الأشياء التي ذكرتها فهي جائزة، أما إذا كانت مصحوبة بدف، أو كان مختارا لها ذوي الأصوات الجميلة التي تفتن ، أو أديت على نغمات الأغاني الهابطة فإنه لا يجوز السماع لها

“Banyak perbincangan tentang nasyid-nasyid Islami, dan saya tidak lagi mendengarkannya sudah sejak lama. Ketika awal keluarnya nasyid tidaklah mengapa. Tidak pakai dufuf (rebana), ditampilkan dengan tanpa hal-hal yang mengandung fitnah, tidak diperindah dengan nyanyian yang diharamkan, tetapi perkembangan realitanya, mendengarkan sebagian nasyid menjadi sesuatu yang berbahaya, mungkin bukan cuma memakai rebana, lalu berkembang lagi dengan memakai suara-suara yang indah mengandung fitnah, lalu berkembang lagi ditampilkan seperti penampilan lagu-lagu yang diharamkan, karena itu nasyid telah menyisakan sesuatu yang menggelisahkan, maka tidak mungkin manusia memfatwakan, bahwa nasyid itu boleh pada semua keadaan, dan haram dalam semua keadaan. Jika nasyid tersebut tidak terdapat halhal yang saya sebutkan, maka boleh saja mendnegarkannya. Ada pun jika diiringi dengan rebana, atau memakai suara - suara indah dan mengandung fitnah, dan ditampilkan dengan dihiasi cara-cara penyanyi rendahan, maka tidak boleh mendengarkannya.” (Selesai fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin)

4. Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin hafizhahullah

الشيخ عبدالله بن عبدالرحمن الجبرين


النشيد هو قراءة القصائد إما بصوت واحد أو بترديد جماعتين، وقد كرهه بعض المشايخ، وقالوا: إنه من طرق الصوفية، وأن الترنم به يشبه الأغاني التي تثير الغرائز، ويحصل بها نشوة ومحبة لتلك النغمات. ولكن المختار عندي: جواز ذلك- إذا سلمت من المحذور- وكانت القصائد لا محذور في معانيها، كالحماسية والأشعار التي تحتوي على تشجيع المسلمين على الأعمال، وتحذيرهم من المعاصي، وبعث الهمم إلى الجهاد، والمسابقة في فعل الخيرات، فإن مصلحتها ظاهرة، وهي بعيدة عن الأغاني، وسالمة من الترنم ومن دوافع الفساد.



“Nasyid adalah bacaan qasidah, baik dengan satu suara atau dua kelompk yang saling bersahutan, sebagian masyayikh ada yang memakruhkannya, mereka mengatakan itu merupakan jalan sufi, dan sesungguhnya melantunkannya merupakan penyerupaan dengan nyanyian yang berdampak bagi gharizah (instink), yang akan menghasilkan mabuk cinta lantaran keindahannya. Tetapi pendapat yang dipilih menurutku adalah hal itu boleh, jika bersih dari hal-hal yang harus diwaspadai. Qasidah yang makna-maknanya baik, seperti semangat atau syi’ar-syi’ar yang bisa menyemangati kaum musimin untuk beramal, dan memperingatkan mereka dari maksiat, dan membangkitkan semangat jihad, berlomba-lomba dalam melakukan kebajikan, maka maslahatnya jelas, dan jauh dari sifat nyanyian, bersih dan terhindar dari lantunan yang merusak.” (selesai fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin)

5. Fatwa Lajnah Daimah Lil Ifta’ Saudi Arabia

اللجنةُ الدائمةُ للإفتاءُ

اعتَبَرَت اللجنةُ الدائمةُ للإفتاءُ الأناشيدَ بديلاً شرعيّاً عن الغناء المحرّم ، إذ جاء في فتاواها
يجوز لك أن تستعيض عن هذه الأغاني بأناشيد إسلامية ، فيها من الحِكَم و المواعظ و العِبَر ما يثير الحماس و الغيرة على الدين ، و يهُزُّ العواطف الإسلامية ، و ينفر من الشر و دواعيه ، لتَبعَثَ نفسَ من يُنشِدُها ومن يسمعُها إلى طاعة الله ، و تُنَفِّر من معصيته تعالى ، و تَعَدِّي حدوده ، إلى الاحتماءِ بحِمَى شَرعِهِ ، و الجهادِ في سبيله .
لكن لا يتخذ من ذلك وِرْداً لنفسه يلتزمُه ، و عادةً يستمر عليها ، بل يكون ذلك في الفينة بعد الفينة



Lajnah Daimah Lil Ifta’ telah menjelaskan, nasyid-nasyid Islami sebagai alternatif pengganti yang syar’i terhadap nyanyian-nyayian yang haram. Demikianlah fatwanya.

“Boleh bagimu menggantikan nyanyian tersebut dengan nasyid-nasyid Islami, di dalamnya terdapat hikmah, pelajaran, dan ‘ibrah yang memberikan pengaruh bagi semangat dan kecemburuan terhadap agama, menggerakkan belas kasih Islami, menjauh dari keburukan dan ajakannya, untuk membangkitkan ketaatan kepada Allah baik bagi yang menyenandung dan yang mendengarkannya, menjauh dari maksiat kepadaNya, melanggar batasNya, menjaga diri dengan syariatNya, serta berjihad di jalanNya.

Tetapi hendaknya tidak menjadikannya sebagai sebuah kelaziman dan kebiasaan terus menerus, melainkan sesekali saja.... dan seterusnya.”

Sumber: http://www.islamgold.com/view.php?gid=10&rid=132

~