Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan

Ini Darah Kami, Mana Darah anda??

Oleh: Umminya Faris

Di sini kami mencari kematian, kemenangan hanya di sisi ALLOH. Saat anda tertidur dalam kehangatan selimut daging-daging manusia Bosnia, dalam kesejukan atap-atap runtuh Chechnya, dalam kelembutan kehormatan wanita Afgan, dalam mimpi indah daratan Palestina, dalam buaian dongeng rakyat Irak.

Kami merayap mencari mati. Kami tidak ingin tidur. Kami takut dengan kesenangan dunia, kami takut seperti anda, kelak menjadi tamak. Tamak pada kesenangan semu, tamak pada kesombongan, tamak pada kebohongan. Kami haus darah. Darah anda, teriakan kesakitan anda, kekalahan anda, kerugian anda dan ketakutan anda; semua itu menjadi penghibur kami, penghibur kesepian kami, pengisi waktu kami.

Sebelum kami berjumpa dengan Robb kami, dengan membawa bendera kemenangan.
Kami yakin Rabb kami penuhi janji, kami yakin Al Qur`an benar adanya, kami yakin sabda Rasululloh, kami yakin Islam akan selalu berkibar dan menyebar serta menjadi yang terbenar.

Setiap tetes darah kami di sini, adalah janji syurga dan kemenangan akhirat semakin mendekat. Setiap peluh keringat kami di sini, adalah yakin membersihkan tanah Islam yang telah ternajisi tapak-tapak kaki anda. Pekikan kami adalah lagu-lagu suci, pengagung yang Teragung.

Takbeeer!!!


24 Rabi`uts Tsani 1427 H


Sumber: Ar Rahmah Media

~

Syair Berdarah

Serpihan angin keasingan menerpa ksatria jihad dinegri Indonesia sejak gemuruh hati bergejolak memanaskan sumbu keimanan yang terpancar dari sudut kesedihan tak berujung, menyapu bersih kotoran kehinaan yang terselubung dibalik bingkai kepengecutan dari insane yang tak mempunyai sakit hati melihat camar yang biasa terbang bebas kini tertawan disangkar kezdaliman yang meluluh lantakan sendi kepiluan. Senjata dan belati terganti dengan pena dan kertas kemudian jari-jemari berceloteh menceritakan manisnya garam dan pahitnya madu.

Seonggok tubuh lemas dipapah oleh darah dan air mata menyisakan gumpalan kekecewaan dari desingan suara nyaring yang datang dari kesejukan alam kelalaian. Ujung jari, ujung rambut dan ujung kuku kini merasakan sakitnya sebuah penindasan. Kemudian suara lirih tanpa henti terus memuji sang pemilik Arsy yang agung. Ribuan tabib menawarkan obat mujarab yang diperoleh dari kotoran air sampah yang seolah-olah menyembuhkan, mata tidaklah buta hati tidaklah tertutup rasa tidaklak hilang untuk melihat keasliannya.

Aku akan bercengkrama dengan keasingan ditemani mataku yang selalu basah darahku yang terus mengucur. Wahai engaku yang melihat pajar bersinar dipagi hari, wahai engkau yang melihat rembulan bercahaya dimalam hari. Setiap pentas dijagad raya ini akan berahir setiap cerita pasti tamat. Sang pemilik alam akan menggulung jagad ini dalam genggaman tangan kanan-Nya yang perkasa.

Cobalah engkau melihat dengan kedipan matamu ummatmu digiring seperti gerombolan domba yang diarak menuju lapangan kemudian mereka dipaksa memakan sampah. Dipaksa meminum nanah yang diperah dari binatang yang sudah membusuk dan menjadi bangkai. Lihatlah dengan mata kaki yang menyapu pakaian keangkuhanmu berjalan melewati bau yang menyengat dari mayat-mayat saudaramu yang bergelimpangan, akan tetapi kusaksikan engkau berlari meninggalkan mayat saudaramu dalam keadaan hina menuju wewangian dan tumpukan harta. Menyesal sekali mata ini melihat engkau berlalu dengan menutup hidung dan mulutmu dan menyinkapkan kain kebesaranmu karena takut dihinggapi lalat-lalat yang mengerumi mayat saudaramu. Jika engkau tidak sudi dengan pemandangan ini maka berlalulah dicelah celah mayat ini.

~

Dalam Linangan Darah

Oleh: Anwar Abdurahman Al Fakir Fillah


بسم الله الرحمن الرحيم


Biarkan aku merana di ujung sepetiga malam ini. Dentingan pecahan dinding rentan hati yang sudah terlalu sakit, menikmati penindasan penguasa di negeri kufar yang mengaku negeri "mayoritas" Islam. Miris, antara haq dan batil bersetubuh menjadi butiran batu debu hina mengundang gundukan-gundukan laknat dari Allah Azawajalla. Mendirikan sholat, zakat juga tak lupa ditunaikan bahkan sahutan suara Al Qur'an mendayu menyelimuti setiap malam dan siang di sudut kota sampai penghujung pelosok desa. Apalah arti lupa dengan apa makna tiada ilah kecuali Allah, tiada dien, tiada sistem hidup yang haq kecuali Islam, tiada sumber hukum yang haq kecuali Al Qur'an dan Assunah.

Pecah sudah kebencian berhamburan dengan segala kekufuran di negeri kufar ini, pupus sudah kebanggaan dan cinta untuk negara yang kufur nikmat Ilahi. Bukan karena seseorang atau lembaga, bukan karena aku miskin atau papah. Tapi derita ketika mata yang perih menatapi mereka yang memperjuangan bukan lagi kebenaran dan sebuah salah tetapi kesenjangan antara mayoritas dan minoritas, tak lebih dari hukum di hutan rimba. Sesaknya nafas trotoar menceritakan rakyat jelata berduka sementara di atas sana "hewan yang terhormat" dan "ulama" (su') bersekongkol menjual agama demi sesuap nasi. Demi hak asasi manusia mengikat liberalisme dan pluralisme. Sesuka hatimu, sesuka hatimu dan akal busukmu saja menentukan haram dan halal, sesuka hatimu dan akal busukmu saja memvonis kafir, sesukamu saja menganggap penyambung lidah nabi dengan teroris demi seonggok receh dan puntungan status pejabat kelas kakap.

Perih sudah goresan pecahan kaca menyentuh hati-hati dengan uraian linagan darah pribumi. Tiada senyum lagi untuk kemungkaran di bumi ambang kehancuran ini.

Menara Uzlah, 10 Dzuhijah 1431 H

~