Tampilkan postingan dengan label Download. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Download. Tampilkan semua postingan

Mp3 Kuliah Syarah Risalah Asy-Syahid Abu Musab Az-Zarqawi (Takkan Kubiarkan Islam Dihancurkan) Ustadz Muhammad Al-Muhajir

Mp3 Kuliah Oleh Syarah Haidst Pilihan Jihad, Ustadz Muhammad Al-Muhajir

eBook Akhlak Mujahidin


“Tak jarang di hadapan manusia dia tidak diperhitungkan. Jika di tengah orang banyak tak menarik perhatian dan jika dia tidak hadirpun tidak ada yang menanyakan keberadaannya. Karenanya, ketika dia meminta izin untuk suatu keperluan, dia tidak di izinkan. Jika suatu saat dia mengajukan rekomendasi atas seseorang kepada pimpinanya, rekomendarinya di tolak. Orentasi jihadnya untuk mencari keridhoan Allah subhaanahu wa ta'aalaa”- Akhlaq Mujahid

Akhlak Mujahidin.doc  

~

eBook Wasiat Kisah Para Syuhada

eBook Keras Kepada Murtadin dari Asy-Syeikh Abu Musab Abdul Wadud




Asy-Syeikh Abu Musab Abdul Wadud

(Amir Tandzim Al-Qaeda Maghribi)

Syaikh Abu Musab Abdul Wadud_Keras Kepada Murtadin.doc  

Sumber: Khatab Media Publication

~

eBook Kepada Kaum Muslimin dari Mufti Mujahidin Kaukasus


~

Buku-Buku Asy Syahid Yusuf Al-Uyairi

eBook Wasiat Asy Syahid Khattab (Mantan Amir Mujahidin Antarabangsa Kaukasus)



Asy-Syahid Khattab (Mantan Amir Mujahidin Antarabangsa Kaukasus)

Asy Syahid Khattab_Wasiat.doc

Sumber: Khatab Media Publication

~

Buku-Buku Syeikh Aiman Az Zawihiri (Timbalan Amir Tandzim Al-Qaeda)

Buku -Buku Amirul Mujahidin Syeikh Abu Abdillah Usaamah Bin Laadin (Amir Tandzim Al-Qaeda)

BUku-Buku Asy Syahid Dr. Abdullah Azzam (Pengasas Tandzim Al-Qaeda)

Temuramah dengan Jeneral Awwal, Tandzim Al-Qaeda Bahagian Asia Tenggara

Kepada kaum muslimin, kami menyeru supaya mereka tetap bertaqwa kepada Allah dan bergabunglah atau berjamaahlah dengan golongan Siddiqin di Pattani Darussalam atau di manasaja bumi Jihad lainnya. Ini sesuai dengan firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 119:

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan bergabunglah kamu dengan orang-orang yang Siddiqin. (Surah At-Taubah ayat 119)

Persoalannya, siapakah golongan siddiqin? Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam surat Al-Hujurat:

Orang-orang Mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan nyawanya di Jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang siddiqin (benar). (Surat Al-Hujurat ayat 15)

Kesimpulannya, Siddiqin ialah golongan Mujahidin.

Justeru itu, wahai ummat, jangan biarkan dunia menipu kamu hingga kamu melupakan Allah, Rasulullah saw dan Jihad Fi Sabilillah. Jihad di Pattani Darussalam adalah Fardhu ‘Ain untuk semua kaum muslimin. Kamu harus datang dan berjihad ke sini walaupun tanpa keizinan pemimpin jamaahmu. Bahkan, keizinan ibu dan ayah serta pemberi hutang juga tidak diperlukan dalam situasi jihad Fardhu Ain seperti di Pattani Darussalam sekarang. Kamu harus berjihad walaupun terpaksa mendatangi bumi-bumi Jihad dengan berjalan kaki. Bukankah Allah telah menjanjikan Azab untuk kamu sekiranya kamu meninggalkan Jihad:

Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, kami akan siksa kamu dengan azab yang pedih… (Surat At-Taubah ayat 39)

Wahai Ummat! Mengapa kamu masih berpeluk tubuh. Sekedar mengetahui kondisi Mujahidin, melihat video dan foto mereka serta berforum tentang mereka tanpa berjihad dengan senjata, itu bukanlah ajaran dari dien ini bahkan hal tersebut tidak membebaskanmu dari kewajiban berjihad. Sementara munafiq juga ikut melakukan hal yang sama. Allah Taala telah berfirman dalam surah Al-Ahzab:

Mereka mengira bahwa golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi, dan jika golongan-golongan (yang bersekutu itu) datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun (tempat-tempat aman daripada peperangan) bersama orang arab baduwi sambil menanyakan (yaitu mengambil tahu) berita tentang kamu. Dan sekiranya mereka berada bersamamu, mereka tidak akan berperang melainkan sebentar saja. (Surah Al-Ahzab ayat 20)

Maka bersegeralah wahai ummat. Mencukupkan diri bergelimang dengan buku dan pengajian dien dan meninggalkan Jihad, bukan caranya untuk memahami dien ini. Berjihadlah di Pattani Darussalam dan kamu akan lebih memahami dien ini. Dengan Jihad Fi Sabilillah, kamu akan difaqihkan tentang urusan dien ini dengan pemahaman akidah yang jelas melalui praktik perlawanan bersenjata antara Iman dan Kufur, sesuatu yang tak akan kamu peroleh dalam buku manapun atau pengajian di kelas apapun. Allah Ta’ala telah berfirman dalam surat at-Taubah:

“Dan tidak sepatutnya orang Mukmin itu pergi semuanya ke medan perang (ketika Jihad bukanlah Fardhu Ain). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (berjihad) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (yang tidak pergi berjihad) agar mereka dapat menjaga dirinya (setelah mendapat pengajaran-pengajaran berupa hikmah dari orang-orang yang balik dari medan jihad). “(Surah At-Taubah ayat 122)

Wahai ummat, kaum Muslimin di Pattani Darussalam ditindas akidah dan nyawa mereka dengan begitu dahsyat sekali. Bantulah mereka dengan berperang Fi Sabilillah. Jadilah pelindung dan penolong paling berani untuk mereka.

Mengapa kamu tidak berperang membela orang yang lemah baik lelaki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, Ya tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang dzalim penduduknya. Berilah kami pelindung dari sisiMu, dan berilah kami penolong dari sisiMu. (Surah An-Nisa’ ayat 75)

Insyaallah dengan berperang di jalan-Nya, kemenangan, syurga dan keridaan dari Allah, pasti menjadi milikmu:

Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di Jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridaan dan syurga. Mereka memperoleh kesenangan yang kekal didalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, di sisi Allah terdapat pahala yang besar. (surat At-Taubah ayat 20-22)

Ya Allah,

Berilah kemenangan kepada Mujahidin.
Teguhkan tapak kaki mereka.
Tepatkan bidikan peluru mereka.
Satukan hati-hati mereka.

Hanya kepada Engkau kami mengabdikan diri.
Hanya kepada Engkau kami kembali.

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!


Temuramah dengan Muhajir dan Mujahid Pattani Darussalam, Asy Syaikh Abu Ubaidah.pdf  

~

Mp3 Kuliah Oleh Syarah Surah At Taubah, Ustadz Muhammad Al-Muhajir

eBook Fiqih Jihad

Bantahan Syubat Khowarij

DIALOG DENGAN TEMA KHOWARIJ GAYA BARU

Oleh: Abu Isra’ As Suyuthi

Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, me-minta pertolongan-Nya, meminta ampunan-Nya dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kami dan keburukan perbuatan kami. Barang sia-pa diberi petunjuk oleh Allah, maka tak seorang pun mampu menyesatkannya dan barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tak seorang pun mampu memberinya petunjuk. Saya bersaksi se-sungguhnya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi sesungguhnya Muhammad ٍShalallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepa-da beliau dan para shahabat.
Amma ba’du

Sesungguhnya Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani adalah salah seorang ulama kontempo-rer. Tak seorangpun mengingkari keutamaan be-liau selain orang yang mendustakan atau arogan. Syaikh hafidzahullah telah mengabdikan dirinya untuk hadits Rasulullah dan bekerja keras untuk menyebarkan sunah, memberantas bid’ah serta menyebarkan ilmu salaf di tengah umat. Kami berdoa semoga Allah Ta’ala membalas semua jasa beliau dengan sebaik-baik balasan.

Namun Allah enggan untuk menjadikan seo-rang manusia selain para rasul-Nya sebagai seo-rang yang maksum. Syaikh adalah manusia juga, beliau kadang benar dan kadang salah. Orang yang mengikuti tulisan-tulisan dan kaset-kaset syaikh tentu akan menemukan ada juga kesala-han atau ketergelinciran di dalamnya.
Kami, Alhamdulillah, bukanlah orang-orang yang mencari-cari ketergelinciran orang, membe-sar-besarkannya dan banyak menyebut-nyebut-nya. Karena itu, bukan termasuk kebiasaan kami mencari ketergelinciran-ketergelinciran tersebut. Tetapi bila kami mendapati ketergelinciran dalam pelajaran atau pembahasan kami, kami berpaling dari kesalahan yang kami dapatkan dan kami beramal dengan yang benar. Barangkali kami mengingatkan kesalahan tersebut dalam sebagian majlis kami dengan bahasa yang baik dan metode yang santun, bukan meributkan dan menyebar luaskannya.

Dalam beberapa masa belakangan ini, saya mendengar sebuah kaset syaikh Hafidzahullah. Saya melihat menjadi kewajiban dari ilmu kami untuk segera mendiskusikan sebagian isi kaset beliau dengan diskusi yang tenang, di mana Allah mengetahui bahwa saya tidak mempunyai mak-sud selain menerangkan dan mencari kebenaran.

Kaset yang dimaksud berjudul “Min Manhajil Khawarij” (Manhaj Khawarij). Kaset ini telah direkam pada tanggal 29 Jumadil Akhirah 1416 H bertepatan dengan tanggal 23 Oktober 1995 M, dengan nomor 1/830 dari nomor berseri “Silsilatu Al Huda wa An Nuur” sebagaimana disebutkan dalam kata pengantarnya.
Dalam kaset ini, syaikh membahas peristiwa yang terjadi di Mesir dan Al Jazair dan menolak sikap keluar dari ketaatan kepada para pemimpin kaum muslimin hari ini, dan beliau memberi fatwa dalam beberapa masalah yang berkaitan dengan hal ini.

Saudara pembaca yang budiman, tulisan yang ada di hadapan anda ini memuat dua persoalan, barangkali keduanya adalah persoalan terpenting yang disebutkan syaikh dalam kasetnya.
Persoalan pertama adalah masalah keluar (melawan) penguasa kafir. Syaikh berpendapat tidak boleh melawan penguasa hari ini sekalipun mereka jelas-jelas telah kafir.

Persoalan kedua adalah persoalan yang ber-kaitan dengan mengkafirkan penguasa yang me-netapkan undang-undang positif untuk rakyat tanpa berlandaskan kepada (hukum) Allah dan penguasa yang mewajibkan rakyat untuk berhu-kum kepada undang-undang positif. Syaikh ber-pendapat penguasa seperti ini tepat untuk dikenai apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, “Kufrun duna kufrin ” (kekafiran yang tidak mengeluarkan dari Islam).

Dalam tulisan ini pembaca akan menemukan diskusi ilmiah terhadap dua persoalan ini dan penjelasan tentang pendapat yang benar dalam kedua masalah ini. Kemudian saya lampirkan juga beberapa halaman lain seputar tema-tema lain yang terpisah-pisah namun masih ada kaitannya dengan dua permasalahan di atas.

Sebenarnya hal yang mendorong saya untuk menulis tulisan ini adalah bahwa saya mendapati perbincangan seputar permasalahan-permasala-han ini menjadi ciri umum dari pembicaraan dan majlis syaikh. Sekiranya persoalannya sekedar sekali majlis saja di mana syaikh mengutarakan pendapatnya, tentulah persoalannya remeh. Na-mun kami mendapati syaikh selama bertahun-tahun telah berbicara seputar dua permasalahan di atas dengan menuduh orang-orang yang tidak sependapat dengan beliau sebagai orang-orang bodoh dan tergesa-gesa, dengan memakai ungka-pan-ungkapan pedas dan kasar. Sebaliknya kami tidak mendapati ungkapan yang pedas dan kasar ini beliau tujukan kepada pihak yang lain, yaitu para penguasa sekuler yang merupakan faktor terbesar terjadinya bencana dalam diri umat ini dengan kejahatan mereka menjauhkan umat ini dari kitab Rabbnya dan sunah Nabinya Shallalahu ‘alaihi Wa Salam, dan kejahatan mereka memak-sa umat ini untuk berjalan sesuai keinginan Barat yang kafir dan ridha dengan program-program Yahudi dan Nasrani.

Telah kami lihat di antara pengaruh dari metode syaikh ini, banyak pemuda-pemuda yang mengikuti syaikh dan metode beliau, melihat para penguasa sekuler yang merubah syari’at Allah sebagai ulil amri (penguasa) yang wajib kita dengar dan kita taati dan bahwa keluar dari ketaatan kepada mereka layaknya keluar dari penguasa-penguasa umat Islam masa awal dahulu. Sebaliknya, kami melihat mereka melihat saudara-saudara mereka yang memusuhi pengua-sa tadi layaknya Khawarij ahli bid’ah, tidak layak disikapi selain dengan celaan dan cercaan, bah-kan barangkali sebagian berpendapat lebih jauh lagi dengan meminta penguasa memusuhi mere-ka dan lain sebagainya.

Berangkat dari sini, saya memberanikan diri untuk menulis lembaran-lembaran ini meskipun harus melewati kesulitan yang berat, karena saya tak pernah sekalipun menginginkan mengambil sikap membantah atau menentang syaikh Nashi-rudin, namun kebenaran yang diajarkan oleh dien kami menyatakan kebenaran lebih kami cintai melebihi para ulama dan masayikh kami serta seluruh umat manusia.

Dalam kesempatan ini saya ingin menerang-kan bahwa ketika kami berbeda pendapat dengan syaikh dalam sebagian persoalan ilmiah, kami berlepas diri kepada Allah Ta’ala dari orang-orang yang memusuhi syaikh dan membenci beliau disebabkan beliau berpegang teguh dengan As Sunah dan membela aqidah yang benar.

Kami memohon kepada Allah semoga perbedaan kami dengan beliau tetap berada dalam koridor ahlu sunah wal jama’ah, ahlul haq wal ‘adl, mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas jalan Rasulullah dan para shahabatnya. Semoga Allah tidak menjadikan dalam hati kami kebencian ke-pada orang-orang mukmin. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang. Dan sebagai penutup dari pem-bicaraan kami,” Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.”

Untuk lebih detal terjemahan silahkan mendownload bahasan tersebut di sini

Oleh: Abu Isra’ Al Asyuthi
Sumber: http://annajahsolo.wordpress.com/

~

Resensi Buku Ma'alim fi Ath-Thariq

Judul Buku: Ma'alim fi Ath-Thariq
Penulis : Sayyid Quthb
Penerbit: Uswah


 


Ma'alim fi Ath-Thariq (معالم في الطريق) adalah buku yang fenomenal dan revolusioner. Mengapa fenomenal? Sebab buku ini telah membuat penulisnya, Sayyid Qutb, digantung. Sedangkan para pembacanya di banyak negara, dicurigai; kalau-kalau mereka bisa menjadi teroris. Buku ini sempat dilarang di beberapa negara yang represif seperti Mesir, negara asal Sayyid Qutb dan Ma'alim fi Ath-Thariq. Bahkan, buku ini direkomendasikan dilarang oleh intelijen di negeri ini.

Buku ini dikatakan revolusioner karena ia hadir dengan ide yang berbeda dengan kebanyakan buku-buku lain yang sezaman dengannya. Saat itu memang banyak negara muslim yang sudah memerdekakan diri dari penjajah. Namun problem ternyata tidak serta merta berakhir. Diantara problem baru itu adalah, para penguasa militer atau otoriter yang menguasai sebagian besar negara muslim. Mereka memandang Islam sebagai ancaman, dan tidak ingin Islam menjadi way of life. Di sisi yang lain, umat Islam terpuruk dalam keterbelakangan dan tidak percaya diri dalam menghadapi Barat.

Manhaj Islam untuk Kebangkitan Umat
Ide-ide Sayyid Qutb dalam Ma'alim fi Ath-Thariq yang sebenarnya diambilkan dari manhaj Islam ini dianggap baru karena sekian lama ia terpendam dalam puing-puing sejarah umat. Prinsip dakwah dalam manhaj Al-Qur'an, Jihad fi sabilillah, dan ketauhidan. Ini bukan sesuatu yang baru mestinya, dari dulu sudah ada. Namun, dengan metode yang sistematis dan gaya bahasa yang khas, Sayyid Qutb menjadikan hal-hal itu lebih hidup dan memiliki daya dobrak! Ia menjadi penyemangat serta menumbuhkan ruh juang bagi pembacanya.

Ma'alim fi Ath-Tahriq ini terdiri dari 12 bab dan diawali dengan muqaddimah. 4 bab diantaranya merupakan intisari Tafsir Fi Zhilalil Qur'an, yaitu; طبيعة المنهج القراني (Karakter Manhaj Al-Qur'an), التصور الإسلامي والثقافة (Pandangan Islam dan Kebudayaan), الجهاد في سبيل الله (Jihad fii Sabiilillah), dan نشأة المجتمع المسلم وخصائصه (Tumbuhnya Masyarakat Muslim dan Karakteristiknya). Sementara 8 bab lain merupakan bab yang perlu dituliskan Sayyid Qutb untuk memperjelas dan memperkuat inti sari itu di samping untuk memenuhi tujuan utama buku ini ditulis. Yakni, sebagai petunjuk jalan yang akan dilalui para pioner kebangkitan umat, yang juga akan ditunjukkan kepada umat. Dengan adanya pioner inilah umat akan bangkit. Dengan eksisnya umat Islam inilah tugas manusia sebagai khalifah dan abdullah serta peran umat Islam sebagai ummatan daa'iyan dan ummatan syaahidan bisa diimplementasikan. Dengan demikian, kepemimpinan barat yang rapuh karena tidak memiliki "nilai-nilai" yang membuatnya layak memimpin akan diambil alih oleh umat Islam.

Jika pioner kebangkitan umat menginginkan keberhasilan sebagaimana keberhasilan generasi pertama, mereka harus meneladani karakter mereka. Oleh Sayyid Qutb mereka disebut جيل قراني فريد (Generasi Qur'ani yang Istimewa), yang juga dijadikan judul bab setelah muqaddimah. Ada 3 faktor utama keberhasilan generasi ini; sumber rujukannya adalah Al-Qur'an dan steril dari pengaruh manhaj lain, mereka mempelajari Al-Qur'an untuk mengamalkan/mengaplikasikan, dan saat mereka masuk Islam dan mendapat Al-Qur'an seketika mereka melepas seluruh kejahiliyahan.

Al-Qur'an telah mengajarkan jalan dakwah bagi generasi pertama umat ini, جيل قراني فريد (Generasi Qur'ani yang Istimewa). Dan manhaj Al-Qur'an dalam dakwah ini seharusnya diikuti oleh para pioner kebangkitan umat. Bagaimana karakteristiknya? Sayyid Qutb menjelaskan bahwa jalan pertama adalah pembinaan aqidah. Inilah yang serius dilakukan selama 13 tahun fase Makkiyah, dan Al-Qur'an tidak melompat pada pembahasan lain, apalagi masalah cabang/furu'iyah. Ini pula yang dijadikan seruan dakwah oleh Rasulullah, meskipun peluang mendapatkan perlawanan lebih besar dari pada dakwah lain. Rasulullah tidak mendakwahkan nasionalisme Arab, tidak pula keadilan sosial dan perbaikan moral. Meskipun ketiga hal terakhir ini peluangnya lebih besar untuk didukung orang-orang Arab, tetapi ia bisa menjadi tuhan baru atau bersifat rapuh. Sedangkan aqidah, tauhid, ia akan terpatri kuat memberi daya dorong yang hebat, di samping itulah kebenaran hakiki yang harus menjadi pondasi setiap perubahan.

Perubahan yang terjadi karena tauhid adalah perubahan revolusioner pada diri seseorang atau bangunan umat. Sebab perubahan Islam berarti peralihan dari mengikuti manhaj makhluk menuju manhaj Pencipta. Perubahan Islam berarti meninggalkan sistem produk manusia untuk memilih sistem ciptaan Allah. Perubahan Islam berarti mencampakkan hukum buatan hamba untuk merengkuh dan mengaplikasikan hukum Allah. Perubahan inilah yang akan memuliakan manusia, serta membawa mereka menuju rahmat, setelah hidup penuh dengan kehinaan dan kelemahan.

Pioner umat yang akan melakukan misi perubahan revolusioner ini harus percaya diri dengan manhajnya; manhaj Islam, manhaj Al-Qur'an. Maka, persoalan jihad juga harus diterima apa adanya sebagaimana konsep Al-Qur'an yang telah dijelaskan Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur'an saat menafsirkan surat Al-Anfal dan At-Taubah. Intinya, jihad bukan defensif, tetapi ofensif. Manhaj yang sama seperti dipahami Ibnul Qayyim dalam Zaadul Maad. Saat dakwah dihalangi oleh kekuatan politik atau kekuasaan, maka jihad harus menetralisir kekuatan itu sehingga dakwah bebas disebarkan. Konsep inilah yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam termasuk Inggris pada waktu itu sehingga mereka memesan kematian Sayyid Qutb kepada pemerintahan Gamal Abdul Nasir.

Kekeliruan
Ma'alim fi Ath-Thariq adalah buku yang luar biasa. Namun, bukan berarti ia tidak lepas dari kekeliruan. Tulisan Sayyid Qutb dalam bab لااله الا الله منهج حياة (Laa ilaaha Illallah Manhaj Kehidupan) yang membagi manusia menjadi masyarakat Islam dan masyarakat jahiliyah, lalu menyatakan bahwa masyarakat sekarang (saat Ma'alim fi Ath-Thariq ditulis) semuanya masyarakat jahiliyah merupakan sebuah kekeliruan. Tetapi, jika kita mengetahui latar belakang kondisi dan situasi saat Sayyid Qutb menulis buku ini, kita akan bisa memaklumi kekeliruan ini terjadi. Dan, jika kita membandingkannya dengan Fi Zhilalil Qur'an, tampak bahwa ini sebatas kekeliruan, bukan manhaj takfir sebagaimana yang dituliskan orang-orang yang membencinya.

Ilham?
Tulisan Sayyid Qutb dalam bab terakhir هذا هو الطريق (Inilah Jalan Itu) seakan-akan seperti ilham yang dianugerahkan Allah SWT bahwa ia hidup tidak lama lagi. Tiang gantungan telah menunggunya. Dalam bab ini ia mengakhiri buku terakhirnya ini dengan menjelaskan bahwa para pekerja Allah bukan penentu hasil, mereka hanya perlu beramal. Bisa jadi mereka mendapatkan kemenangan dan berkuasa untuk menegakkan dinullah, bisa jadi ia seperti kisah ashaabul ukhdud; mati namun keimanan telah menyebar, kemenangan hakiki di sisi Allah SWT.

Maka, para pekerja Allah pasti mendapatkan 4 hal. Pertama, hasil di dunia berupa ketentraman hati, perasaan bangga, bebas dari tarikan dan ikatan, takut dan bimbang. Kedua, saat meninggalkan dunia berupa sanjungan dari malaikat dan kehormatan. Ketiga, di akhirat ia mendapatkan hisab yang mudah dan kenikmatan yang besar. Keempat, ridha Allah SWT.

(Tulisan ini disarikan dari Bedah Buku معالم في الطريق oleh penulis pada 20 Ramadhan 1430 H di Masjid KH. Faqih Usman, UMG. Bagi yang ingin mendownload buku معالم في الطريق silahkan KLIK DI SINI 

Sourche: http://ww.dakwatuna.com/

~