Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan

'Amal Shalih Sebelum Berjihad

Abu Darda' radliyalLahu 'anhu mengingatkan manusia untuk beramal sholih sebelum berangkat menuju kancah peperangan. Prinsip akumulasi 'amal menjadi jalan hidup sahabat mulia ini. Baginya memasuki kancah pertempuran memperjuangkan dienulLah tanpa tabungan 'amal kebajikan yang dirajut sebelumnya tak hanya akan gagal memperjuangkan tegaknya dien-Nya, bahkan dapat berakibat tidak mampu untuk istiqomah mempertahankan dien bagi dirinya sendiri.

Beliau paham betul bahwa bertempur untuk menegakkan dien-Nya, berarti menjemput musibah ikhtiyariy, memilih jalan penuh tebaran kesulitan, taburan onak dan duri, berteman dengan serakan tulang-belulang dan tengkorak, bukan hamparan karpet merah. Kesulitan itu mulai dari batas paling minim yakni kelelahan di jalan-Nya hingga puncaknya kematian. Diantara dua batas itu terdapat beragam ujian ; luka-luka, kehilangan anggota badan, tertawan musuh dll. Lantaran itu, menerjuninya tanpa bekal sungguh berbahaya. Mari kita dengar seruannya:

أيها الناس عمل صالح قبل الغزو• إنما تقاتلون بأعمالكم

Wahai manusia kerjakanlah olehmu 'amal sholih sebelum memasuki kancah peperangan, hanyasanya kamu sekalian bertempur dengan [berbekal] 'amal-'amal kalian. (Fath al-Bariy syarah Shohih Bukhariy, Ibnu Hajar).

Suatu ketika ada seorang yang datang kepada 'AbdulLah bin 'Umar radliyalLahu 'anhuma seraya berkata, ”Aku berniat menjual diriku di jalan Allah dengan berjihad di jalan-Nya hingga aku terbunuh". Maka beliau berkata, "Celaka kamu!, mana syarat [untuk mendapatkannya]?" "Mana firman Allah, ...orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, orang yang memuji-Nya, yang siyahah dan shiyam, yang selalu ruku', yang sujud, memerintahkan kepada yang ma'ruf dan melarang dari yang munkar, menjaga terhadap hudud Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman"[At-Taubah 112].(Mausu'atu ar-Radd 'ala Madzahib al-Fikriyah al-Mu'ashirah, juz 24 hal 140).

Jika berangkat berperang li i'laai kalimatilLah tanpa berbekal akumulasi 'amal yang ditabung sebelumnya saja diperingatkan oleh sahabat Abu Darda', apalagi jika seorang mujahid atau sekelompok mujahid berangkat memperjuangkan dienulLah dengan mengakumulasi perbuatan dosa dan ma'shiyat. Tentu lebih dikhawatirkan kegagalannya. Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا...

Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau)....(Ali 'Imran 155).

Para salaf berpendirian bahwa diantara balasan kebaikan yang diberikan oleh Allah kepada seorang hamba adalah dimudahkannya hamba tersebut untuk mengerjakan kebaikan berikutnya. Begitu pula sebaliknya, diantara hukuman yang ditimpakan kepada hamba yang berbuat buruk, dijadikan baginya mudah untuk mengerjakan perbuatan buruk berikutnya.

Tanaman 'amal shalih seorang mujahid sebelum berangkat menuju kancah pertempuran akan dipanen olehnya disaat pecah pertempuran yang sesungguhnya. 'Amal shalihnya membantunya untuk tsabat [teguh] di dalam pertempuran, sabar menghadapi denting senjata, desingan peluru, deru pesawat yang memekakkan telinga dan getar bumi akibat jatuhnya bom dan peluru altileri. Membantunya untuk tidak mengeluhkan luka menganga yang merobek perutnya, membuat putus sebagian jari-jarinya, dan membantunya untuk mengingat bahwa sebagian anggota tubuhnya yang putus telah menantinya di jannah.

Hazimah Isyarat Pembuktian Terbalik Kemakshiyatan

Sebaliknya semaian perbuatan ma'shiyatnya kepada Allah, delegitimasi dan cercaannya kepada sesama orang yang beriman menjadi senjata bagi syaithan untuk menggelincirkannya dari jalan Allah. Syarafnya mengendur pada saat sangat dibutuhkan untuk kencang sekuat baja. Qalbunya melemah menghadapi jerit kesakitan, percikan darah dan serpihan tulang, kemudian menjadi gentar dan mundur dari kancah peperangan. Jika bukan karena akumulasi maksiyat kepada Allah maupun perbuatan dosa kepada sesama orang yang beriman, tentu syaithan tidak memiliki celah untuk menggelincirkannya dari jalan Allah. Hal ini merupakan sebuah aksioma. Jika seorang mujahid meninggalkan gelanggang perjuangan, menyerah kepada musuh, meletakkan senjata apalagi menyerahkan dan menunjukkannya kepada musuh disaat kesyahidan hampir menghampirinya, berarti hal ini merupakan pembuktian terbalik atas ma'siyat yang dilakukan sebelumnya. wal-'iyaadzu bilLah.

Jangan dibayangkan bahwa bentuk ma'shiyat tersebut berbuat zina, atau meninggalkan shalat dan shiyam. Ada bentuk-bentuk ma'shiyat lain yang tidak kalah bahayanya. Ma'shiyat qalbiy seperti lebih menyukai kemasyhuran di kalangan manusia dibanding disebut-sebut oleh Allah diantara para malaikatnya, lebih terfokus kepada ghanimah dibandingkan harapan kepada cinta dan keridloan-Nya, menganggap diri yang terbaik dengan melecehkan sesama mujahid, menyepelekan pemenuhan sebab kemenangan pada saat masih memungkinkan untuk menyempurnakannya lantaran menganggapnya sebagai perkara yang tidak terlalu penting, dll.

Allah Kuasakan Ahli Ma'shiyat kepada Syaithan sebagai Hukuman

Jika bukan dengan sebab itu, syaithan tidak akan memiliki jalan untuk menggelincirkan seorang hamba dari jalan Allah. Allah berfirman :

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.(Qs. Al Hijr15: 42).

Allah menguasakan seorang hamba kepada syaithan lantaran perbuatan dosa dan ma'shiyatnya. Karena itu Amirul-Mu'minin 'Umar bin Khaththab lebih mengkhawatirkan merebaknya kema'shiyatan di tengah pasukan Islam dibandingkan jumlah dan perlengkapan pasukan musuh. Sebab tentara Allah ditolong oleh-Nya karena ketaqwaannya, bukan karena kelebihan jumlah dan perlengkapan perangnya. Jika ma'iyyatulLah tidak menyertai mereka, maka pasukan musuh akan memberangus mereka dengan kelebihan jumlah dan perlengkapan perangnya yang jauh lebih komplit.

Memahami Waqi'

Bagian dari perkara yang mesti dipahami oleh seorang mujahid atau sekelompok mujahid pada zaman ini, adalah mengenali kondisi waqi' yang dihadapi dengan pemahaman yang benar. Tidaklah sama medan yang dihadapi oleh sekelompok mujahid di suatu medan dengan kelompok yang lain di medan yang berbeda. Ada yang Allah karuniakan basis wilayah dan dukungan masyarakat dengan segala sarana peersenjataan dan logistik perang yang diperlukan, segala puji bagi Allah. Ada pula yang diberi rizqi dengan kesadaran dan semangat perang membara, tetapi dibatasi oleh Allah rizqi sarana pendukungnya, hanya punya senjata terbatas tanpa basis wilayah dan dukungan masyarakat serta logistik perang yang diperlukan.

Melancarkan jihad di medan yang terbatas seperti yang disifati pada kategori kedua menghajatkan bekal ruhiyah-nafsiyah lebih. Pada yang pertama, jika suatu kelompok mujahidin terpukul mundur dalam suatu medan, mereka masih punya kesempatan mundur melakukan manuver menggabungkan diri dengan kelompok yang lain untuk melanjutkan peperangan. Sedang bagi mujahid yang berperang di medan yang tak memiliki dukungan yang sempurna seperti yang pertama; tak ada basis wilayah, tak ada pasok senjata, amunisi dan logistik yang dijamin kelanjutannya, jalur yang ada mudah diblokade musuh,...perlindungan terakhir mereka adalah senjatanya.

Jika perang telah pecah, tak ada pilihan bagi mereka untuk mundur, mereka harus berperang hingga Allah memenangkan mereka atas musuhnya atau mereka gugur dalam pertempuran. Bagi mereka, istilah mundur harus dihapus dari kamus. Perlindungan paling kuat bagi mereka adalah Allah, kemudian tabungan akumulasi 'amal shalihnya, kemudian senjatanya. Jika mereka menyerahkan senjata itu kepada musuh, atau menunjukkan dimana mereka menyimpan senjatanya, kemudian berharap musuh akan berlaku baik kepada mereka hanya karena mereka sudah tidak menyandang senjata, maka sungguh mereka terjatuh kepada syubuhat syaithan.

Tindakan itu berarti melepaskan diri dari perlindungan yang lebih kuat untuk mencari perlindungan yang lebih lemah. Begitu seorang mujahid atau sekelompok mujahid memutuskan untuk melancarkan perang, maka bagi mereka yang berada pada waqi' yang kedua harus berfikir 'azimah agar tidak terjerembab kedalam hazimah. Allah berfirman:

Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (Al Anfal 8 :16).

Dapatkah dibayangkan sekelompok mujahidin menyandang silah, kemudian mereka meletakkan senjata mereka, menyimpannya, kemudian meminta perlindungan dari saudaranya yang tidak bersenjata untuk menghadapi musuhnya yang bersenjata? Hanya jalan berfikir yang telah diliputi hazimah yang dapat menerima.

Semoga Allah menghindarkan para mujahid di jalan-Nya dari menjadi bahan ejekan musuh-musuh-Nya.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ, وَغَلَبَةِ الْعَدُوِّ, وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ (رَوَاهُ النَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ)

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari belitan hutang, dikalahkan oleh musuh dan menjadi tertawaan musuh. [an-Nasa`iy dan dishahihkan al-Hakim].

Shourche: An-Najah[.]Net

~

Antara Jihad, Ibadah dan Menuntut ilmu

Mukadimah

Beberapa saat yang lalu ada segelintir orang yang menyatakan bahwa berjihad dengan mengangkat senjata dalam rangka menentang penjajahan yang dipelopori kaum kafir seperti yang terjadi di Irak, Palestina, Checnya dan negara-negara lainnya adalah Khawarij, teroris, matinya konyol, ruwaibidhah, dungu, anak ingusan dan berbagai label negatif lainnya.

Ironisnya, kata-kata itu justru keluar dari kalangan yang menisbatkan dirinya kepada ‘Ahli Sunnah’. Salah seorang dari kalangan tersebut dengan terang-terangan menyatakan bahwa Ibnu Ladin lebih berbahaya dari pada Binyamin Netanyaho seorang tokoh Yahudi. Hal ini diucapkan ketika Netanyaho menjadi PM Israil.

Untuk mendudukan masalah tersebut alangkah bijaknya jika kita merenungkan pernyataan sahabat Rasulullah saw yang bernama Umar bin Khattab.

Sebelum lebih jauh membahas pernyataannya radhiallahu ’anhu, tidak ada salahnya kita sejenak membahas sebagian permasalahan yang terkait dengan sahabat.

Di antara pondasi Ahli Sunah Wal Jama’ah adalah komitmen dengan apa yang telah ditempuh para sahabat dan menjadikan mereka panutan setelah Rasulullah saw. Mereka adalah manusia terbaik setelah nabinya. Sehingga wajar jika Rasul saw bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah masa-ku, kemudian generasi yang datang sesudahnya, kemudian generasi yang datang sesudahnya… (HR. Bukhari).

Juga wajar jika Allah telah ridha kepada mereka, sebagaimana dalam firman-Nya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100).

Belum lagi jika kita mengkaji pernyataan para ulama baik dari kalangan sahabat maupun generasi-generasi berikutnya. Maka kita akan mendapatkan betapa agungnya ungkapan mereka dalam memuji sahabat. Ibnu Mas’ud berkata: “Barang siapa yang ingin mengambil contoh maka ambillah dari orang yang sudah meninggal. Karena orang yang masih hidup belum tentu aman dari fitnah. Mereka (yang harus dicontoh) adalah para sahabat Rasulullah saw…”.(atsar ini dinukil dari Minhajus Sunnah, 2/77).

Imran bin Hussein berkata: “Ambilah agama kalian dari kami (para sahabat). Demi Allah, jika kalian tidak melakukannya pasti akan tersesat.”

Dengan demikian, kalangan Ahli Sunnah sangat memuliakan sahabat. Hal ini berbeda dengan kalangan Ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu. Mereka jauh dari sahabat, mencela dan bahkan menghujat sahabat. Sikap mereka hanya semakin menjauhkan diri mereka dari kebenaran dan mengakibatkan mereka semakin tersesat. Sungguh benar apa yang dinyatakan Imran bin Hussein!.

Imam Syafi’i berkata: “Mereka (para sahabat) berada di atas kita baik dari segi ilmu, fikih, agama maupun hidayah. Pendapat mereka untuk kita jauh lebih baik dari pada pendapat kita untuk diri kita sendiri.” (I’lamul Muwaqqi’in, 1/80).

Dalam mengomentari pernyataan Imam Syafi’i, Ibnul Qayyim berkata: “Salah seorang dari mereka mengemukakan pendapat kemudian turun Al Qur’an dalam rangka menyetujui pendapatnya. …Bagaimana tidak, pendapat mereka bersumber dari hati yang penuh dengan cahaya, iman, hikmah, ilmu, wawasan, dan pemahaman tentang Allah, Rasul serta nasihat bagi umat. Hati mereka selalu dekat dengan hati Nabi, di antara keduanya tidak ada perantara. Mereka mengambil ilmu dan iman dari lentera kenabian…”. (untuk lebih lengkapnya silahkan lihat I’lamul Muwaqqi’in, 1/81,82).

Para sahabat telah meninggalkan ‘kekayaan’ yang sangat berharga bagi generasi sesudahnya baik berupa perkataan maupun sikap dalam masalah akidah, fikih, akhlaq dan dakwah.

Umar bin Khattab

Beliau berkata: “Jika bukan karena tiga hal, aku ingin segera bertemu dengan Allah: Jika bukan karena berjalan di jalan Allah (jihad), atau bukan karena aku meletakan jidatku di atas tanah sambil bersujud (shalat), atau duduk bersama sekelompok orang yang sedang memetik perkataan yang baik sebagaimana dipetiknya buah yang baik (menuntut ilmu).” (Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf , 13/272).

Dalam mengomentari pernyataan Umar radhiallahu ‘anhu, Ibnu Taimiyah berkata: “Pernyataan Umar merupakan pernyataan yang sangat sempurna dan integral. Beliau merupakan sosok yang mendapat ilham. Setiap kalimat dari pernyataannya mengumpulkan banyak ilmu seperti tiga hal yang disebutkan tadi. Beliau menyebut jihad, shalat dan ilmu. Sudah merupakan kesepakatan ulama bahwa ketiga hal tersebut merupakan amalan yang paling utama. Ahmad bin Hambal berkata: “Sebaik-baik amalan yang dipersembahkan seorang hamba adalah jihad”. Imam Syafi’i berkata: “Sebaik-baik amalan yang dipersembahkan seorang hamba adalah shalat”. Sementara Abu Hanifah dan Malik berpendapat: “ilmu”.

Setelah diteliti bahwa setiap dari ketiga hal tersebut saling berkaitan dengan yang lainnya. Dalam satu kondisi bisa jadi yang ini lebih utama dan dalam kondisi lain yang ini justru lebih utama. Sebagaimana Nabi saw dan para khalifahnya melakukan yang ini (jihad), kadang mereka melakukan ini (shalat) dan kadang yang ini (ilmu). Keutamaan amalan itu tergantung pada tempat, kondisi dan maslahatnya. Sementara Umar telah mengumpulkan itu semuannya.” (Minhajus Sunnah, 6/75).

Dengan demikian, di tempat tertentu dan dalam kondisi tertentu jihad bisa menjadi lebih utama. Kalangan yang negrinya terjajah oleh kaum kuffar, mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menuntut ilmu karena kondisinya serba terancam. Maka bagi mereka jihad defensif adalah lebih utama dari yang lainnya. Hal ini seperti yang terjadi di Iraq, Palestina, Checnya dan negara lainnya yang terjajah.

Kemudian apakah mereka yang berjihad di sana mengharuskan meminta fatwa kepada ulama yang ada di luar negaranya? Permasalahan ini pernah di jawab oleh Prof. DR. Muhamad bin Abdullah bin Ali Al Wuhaibi (Mantan Ketua Jurusan Tsaqofah Islam Universitas Malik Su’ud). Beliau mengatakan, “Bukan suatu keharusan meminta fatwa kepada ulama luar. Karena yang lebih paham dengan kondisi yang ada di negaranya adalah mereka, penduduk negeri tersebut.” Dan masih banyak ulama lain yang mendukung perjuangan mujahidin baik ulama yang ada di Saudi, Sudan, Palestina, Mesir, Yordan, Indonesia dan ulama berbagai negri lainnya.

Maka wajar jika dalam suatu kesempatan, ketika Rasulullah ditanya amalan apakah yang paling utama? Maka beliau pun menjawab: “Jihad”. Dalam kesempatan lain beliau menjawab: “Shalat tepat waktu.” Begitu pula dengan sikap Ibnu ‘Uyainah yang lebih memilih mengajarkan Al Qur’an dari pada berjihad mengangkat pedang. [*]

Ketika seseorang bertanya kepada rasulullah saw, “Tunjukanlah kepadaku amal yang setara dengan jihad? Beliau menjawab: “Aku tidak menemukan”. Kemudian beliau bersabda: “Apakah kamu sanggup, jika seorang mujahid pergi (ke medan perang), bahwa kamu masuk ke masjidmu lalu kamu mengerjakan shalat malam tanpa henti dan berpuasa tanpa berbuka? Orang tersebut menjawab, “Siapakah yang sanggup melakukan hal itu? (HR. Nasa’i dan semakna dengan hadits ini adalah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim).

Namun dalam kondisi tertentu dan di tempat tertentu menuntut ilmu dan mengajarkannya adalah lebih utama, sebagaimana pernyataan Ibnu ‘Uyainah. Hal ini pun pernah diutarakan oleh DR. Muhamad Al Wuhabi, “Bisa jadi di negara tertentu justru menuntut ilmu dan mengajarkannya adalah lebih utama. Maka tidak semua orang alim harus pergi berjihad sementara di negaranya banyak kebodohan, kesesatan, kemusrikan dan ia pun sangat dibutuhkan di negaranya”.

Bagi kalangan yang belum diberi kesempatan untuk berjihad, maka tidak ada salahnya jika merenungkan pernyataan Sekjen Asosiasi Fuqaha Amerika Prof. DR. Salah Shawi. Beliau menjelaskan beberapa tahapan yang harus dilakukan, di antaranya:

Pertama: Mempersiapkan keyakinan dan keimanan secara benar (salah satunya dengan menuntut ilmu). Ini artinya pentingnya mendidik mereka menjadi sosok yang paham Islam. Menghidupkan ilmu syar’i secara benar dan memperbaharui syi’ar dan syariat Islam. Karena pada saat ini umat mewarisi pemahaman yang keliru seputar ajaran Islam. Kebodohan seperti inilah yang mengakibatkan kita mengenyam kesengsaraan dan penderitaan.

Kedua: Persiapan dalam menyatukan suara dan barisan (dengan berdakwah). Sebagaimana firman Allah:” Janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu”. QS. Al Anfal: 8

Bukan rahasia lagi apa yang diderita umat saat ini, yang mana kalangan pergerakan Islam masa kini berselisih, berpecah dan gontok-gontokan. Cukuplah kita mengambil pengalaman dan pelajaran yang pahit dan pedih dalam peperangan Afganistan.

Ketiga: Persiapan kekuatan (I’dad Quwwah).

Dalam permasalahan ini, anda bisa memahami bagaimana jerih payah para dai, murobbi dan muslih. Ini sebenarnya merupakan salah satu mata rantai dalam rangka menghidupkan umat dan bagian dari pada persiapan dalam rangka menegakan jihad. Jika ada yang belum mengetahui makna ini maka bisa jadi dikarenakan kelalaiannya atau salahnya pemahaman.” (Kumpulan Fatwa Shalah Shawi).

Benarlah komentar Ibnu Taimiyah, “Keutamaan amalan itu tergantung pada tempat, kondisi dan maslahatnya. Sementara Umar telah mengumpulkan semuannya.” (Minhajus Sunnah, 6/75).

Dengan demikian, sudah selayaknya masing-masing kelompok untuk menahan diri dan mengenal tugasnya masing-masing. Yang diberi peluang untuk berjihad tidak melabel para penuntut ilmu dan ulamanya dengan qooiduun (orang yang duduk-duduk saja). Begitu pula sebaliknya para penuntut ilmu tidak memberikan label kepada para mujahid dengan khawarij, teroris, mati konyol dan berbagai label negatif lainnya.

Ketika Ibnu Mubarak mendengarkan seseorang melakukan ghibah terhadap saudaranya, beliau bertanya: “Pernahkah kamu memerangi orang-orang Romawi? Dia menjawab:”Tidak.” Pernahkah kamu memerangi orang-orang Persia? Dia menjawab: “Tidak”. Beliau berkata: “Telah selamat dari ucapanmu orang-orang Romawi dan Persia. Sementara saudaramu tidak selamat dari lisanmu.”

Adakah mujahid Ahli Sunnah saat ini?

Permasalahan ini pernah diajukan kepada Prof. DR. Muhamad Al Wuhaibi. Setelah menyebutkan Izuddin Al Qassam, Umar Mukhtar dan yang lainnya (penulis lupa namanya) ke dalam deretan mujahid Ahli Sunnah. Beliau menjelaskan, “Kita melihat Mayoritas Mujahid Ahli Sunnah saat ini ada di Iraq, Palestina, Checnya dan negara lainnya.”

Wallahu a’lam

Abu Mazin, Lc.

[*] Untuk lebih rinci dalam permasalahan macam-macam jihad bisa dilihat dalam Kitab Zaadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim ketika membahas ayat: “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Hajj: 78). Dan masalah ini juga disinggung dalam kitab Miftah Daaris Sa’adah, Ibnul Qayyim.

Source: Elhakimi[.]wordpress[.]com

~

Bebaskan Tawanan - Anjuran Kepada Kaum Muslimin di Indonesia

Kepada: Seluruh Kaum Muslimin Terutamanya Kaum Muslimin di Indonesia

Assalamualaikum,

Perkara: Bebaskan Tawanan! – Anjuran Kepada Kaum Muslimin di Indonesia

Segala puji bagi Allah yang menganugerahkan Jihad Fi Sabililah sebagai peneguh kemuliaan Kaum Muslimin serta shalawat dan salam atas Nabi Muhammad Sallallahualaihi Wasallam yang menjadi ikutan terbaik bagi ummah ini.

Amma Ba'du,

Daripada Abu Musa, dia berkata bahawa Rasulullah Sallallahualaihi Wasallam bersabda: Bebaskan tawanan, berilah makanan kepada orang yang lapar dan jenguklah orang yang sakit. (Sahih Jamius Saghir)

Pada 3 Julai 2008, Pihak Polis Kerajaan Thagut Indonesia telah membuat sidang media dan didalam majlis itu, mereka mendakwa telah menangkap beberapa orang kaum Muslimin yang dikatakan merancang melakukan letupan di beberapa tempat di Indonesia.

Penangkapan mereka adalah sesuatu yang tidak harus dipandang sepi. Umat Islam harus bereaksi. Mereka yang tertawan telah memberikan sesuatu untuk Islam. Apa pula sumbangan kita? Paling tidak kita harus berusaha membebaskan mereka. Bukan dengan perundingan untuk membebaskan mereka semata-mata tetapi juga dengan peggunaan senjata.

Adakah penangkapan demi penangkapan oleh Kerajaan Thagut Indonesia harus dibiarkan begitu sahaja? Adakah kita mahu penjara-penjara di Indonesia terus-menerus dipenuhi dengan Mujahidin dan penyokong-penyokong Mujahidin? Adakah kita sanggup hidup terus menerus dalam keadaan yang selesa, dengan segala kemewahan dan kesenangan hidup, sedangkan mereka yang tertawan terpaksa hidup dalam penderitaan? Dan, adakah kita nanti hanya mahu menangisi dan memuji tokoh-tokoh jihad semisal akhi Imam Samudera, setelah dia syahid dibunuh Pasukan Penembak tanpa mahu melakukan sesuatu untuk memastikan pembebasannya?

Justeru, bangunlah wahai jiwa. Bangunlah daripada kelemahan kamu. Kami menganjurkan kaum Muslimin, terutama di Indonesia, untuk melakukan apa-apa sahaja cara yang syarie untuk menyelamatkan seluruh Ikhwanul Mujahidin yang sedang tertawan. Antara cara yang dianjurkan ialah:

Menyerang penjara/tempat Ikhwanul Mujahidin ditawan untuk membebaskan mereka jika ada kemampuan untuk melakukan penyerangan sebegitu;
Menawan tebusan daripada kalangan Polis atau Tentera Kerajaan Thagut Indonesia supaya mereka dapat dijadikan tukaran untuk Mujahidin yang tertawan;
Menawan tebusan daripada kalangan pelancong asing terutama daripada Amerika Syarikat, Thailand atau sekutu-sekutunya untuk dijadikan tukaran untuk Mujahidin yang tertawan di Indonesia;
Memulakan penyerangan hendap terhadap Polis atau Tentera Kerajaan Thagut Indonesia secara berkala dan kerap dalam usaha mengugut mereka agar mereka membebaskan keseluruhan Mujahidin yang tertawan.

Justeru, apa yang perlu ialah mengumpulkan kekuatan dan bertindak. Percayalah kepada Allah. Dia pasti membantu orang-orang yang beriman:

Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (Dien) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Surah Muhammad ayat 7)

Kepada pihak-pihak yang meninggalkan jihad dan tetap tidak mahu menyelamatkan kaum Muslimin yang tertawan dengan pelbagai alasan, misalnya dengan mengatakan “Indonesia aman, Jihad hanya dibolehkan di tempat konflik”, kami katakan: “teruslah dengan alasan palsu itu, dan itu tidak lain hanya akan membawa kamu kepada kehinaan.” Adakah aman namanya jika ada kaum muslimin yang tertindas? Adakah aman namanya jika pemerintah akan menawan/menangkap kita hanya lantaran Iman dan Jihad kita?

Apa pun, peluang masih terbuka. Bukan sekadar untuk memberikan makan anak dan isteri Mujahidin yang tertawan. Yang lebih penting, bebaskan yang tertawan itu sendiri. Itulah kewajiban kita. Laksanakannya atau kita pasti menerima kesannya.

Dan kemenangan itu milik Allah seluruhnya.

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

As-Syeikh Abu Ubaidah Hafizahullah



Sumber: Khatab Media Publication

~

Mp3 Kuliah Syarah Risalah Asy-Syahid Abu Musab Az-Zarqawi (Takkan Kubiarkan Islam Dihancurkan) Ustadz Muhammad Al-Muhajir

Mp3 Kuliah Oleh Syarah Haidst Pilihan Jihad, Ustadz Muhammad Al-Muhajir

eBook Akhlak Mujahidin


“Tak jarang di hadapan manusia dia tidak diperhitungkan. Jika di tengah orang banyak tak menarik perhatian dan jika dia tidak hadirpun tidak ada yang menanyakan keberadaannya. Karenanya, ketika dia meminta izin untuk suatu keperluan, dia tidak di izinkan. Jika suatu saat dia mengajukan rekomendasi atas seseorang kepada pimpinanya, rekomendarinya di tolak. Orentasi jihadnya untuk mencari keridhoan Allah subhaanahu wa ta'aalaa”- Akhlaq Mujahid

Akhlak Mujahidin.doc  

~

eBook Wasiat Kisah Para Syuhada

eBook Keras Kepada Murtadin dari Asy-Syeikh Abu Musab Abdul Wadud




Asy-Syeikh Abu Musab Abdul Wadud

(Amir Tandzim Al-Qaeda Maghribi)

Syaikh Abu Musab Abdul Wadud_Keras Kepada Murtadin.doc  

Sumber: Khatab Media Publication

~

eBook Kepada Kaum Muslimin dari Mufti Mujahidin Kaukasus


~

Buku-Buku Asy Syahid Yusuf Al-Uyairi

eBook Wasiat Asy Syahid Khattab (Mantan Amir Mujahidin Antarabangsa Kaukasus)



Asy-Syahid Khattab (Mantan Amir Mujahidin Antarabangsa Kaukasus)

Asy Syahid Khattab_Wasiat.doc

Sumber: Khatab Media Publication

~

Buku-Buku Syeikh Aiman Az Zawihiri (Timbalan Amir Tandzim Al-Qaeda)

Buku -Buku Amirul Mujahidin Syeikh Abu Abdillah Usaamah Bin Laadin (Amir Tandzim Al-Qaeda)

BUku-Buku Asy Syahid Dr. Abdullah Azzam (Pengasas Tandzim Al-Qaeda)

Temuramah dengan Jeneral Awwal, Tandzim Al-Qaeda Bahagian Asia Tenggara

Kepada kaum muslimin, kami menyeru supaya mereka tetap bertaqwa kepada Allah dan bergabunglah atau berjamaahlah dengan golongan Siddiqin di Pattani Darussalam atau di manasaja bumi Jihad lainnya. Ini sesuai dengan firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 119:

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan bergabunglah kamu dengan orang-orang yang Siddiqin. (Surah At-Taubah ayat 119)

Persoalannya, siapakah golongan siddiqin? Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam surat Al-Hujurat:

Orang-orang Mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan nyawanya di Jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang siddiqin (benar). (Surat Al-Hujurat ayat 15)

Kesimpulannya, Siddiqin ialah golongan Mujahidin.

Justeru itu, wahai ummat, jangan biarkan dunia menipu kamu hingga kamu melupakan Allah, Rasulullah saw dan Jihad Fi Sabilillah. Jihad di Pattani Darussalam adalah Fardhu ‘Ain untuk semua kaum muslimin. Kamu harus datang dan berjihad ke sini walaupun tanpa keizinan pemimpin jamaahmu. Bahkan, keizinan ibu dan ayah serta pemberi hutang juga tidak diperlukan dalam situasi jihad Fardhu Ain seperti di Pattani Darussalam sekarang. Kamu harus berjihad walaupun terpaksa mendatangi bumi-bumi Jihad dengan berjalan kaki. Bukankah Allah telah menjanjikan Azab untuk kamu sekiranya kamu meninggalkan Jihad:

Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, kami akan siksa kamu dengan azab yang pedih… (Surat At-Taubah ayat 39)

Wahai Ummat! Mengapa kamu masih berpeluk tubuh. Sekedar mengetahui kondisi Mujahidin, melihat video dan foto mereka serta berforum tentang mereka tanpa berjihad dengan senjata, itu bukanlah ajaran dari dien ini bahkan hal tersebut tidak membebaskanmu dari kewajiban berjihad. Sementara munafiq juga ikut melakukan hal yang sama. Allah Taala telah berfirman dalam surah Al-Ahzab:

Mereka mengira bahwa golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi, dan jika golongan-golongan (yang bersekutu itu) datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun (tempat-tempat aman daripada peperangan) bersama orang arab baduwi sambil menanyakan (yaitu mengambil tahu) berita tentang kamu. Dan sekiranya mereka berada bersamamu, mereka tidak akan berperang melainkan sebentar saja. (Surah Al-Ahzab ayat 20)

Maka bersegeralah wahai ummat. Mencukupkan diri bergelimang dengan buku dan pengajian dien dan meninggalkan Jihad, bukan caranya untuk memahami dien ini. Berjihadlah di Pattani Darussalam dan kamu akan lebih memahami dien ini. Dengan Jihad Fi Sabilillah, kamu akan difaqihkan tentang urusan dien ini dengan pemahaman akidah yang jelas melalui praktik perlawanan bersenjata antara Iman dan Kufur, sesuatu yang tak akan kamu peroleh dalam buku manapun atau pengajian di kelas apapun. Allah Ta’ala telah berfirman dalam surat at-Taubah:

“Dan tidak sepatutnya orang Mukmin itu pergi semuanya ke medan perang (ketika Jihad bukanlah Fardhu Ain). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (berjihad) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (yang tidak pergi berjihad) agar mereka dapat menjaga dirinya (setelah mendapat pengajaran-pengajaran berupa hikmah dari orang-orang yang balik dari medan jihad). “(Surah At-Taubah ayat 122)

Wahai ummat, kaum Muslimin di Pattani Darussalam ditindas akidah dan nyawa mereka dengan begitu dahsyat sekali. Bantulah mereka dengan berperang Fi Sabilillah. Jadilah pelindung dan penolong paling berani untuk mereka.

Mengapa kamu tidak berperang membela orang yang lemah baik lelaki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, Ya tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang dzalim penduduknya. Berilah kami pelindung dari sisiMu, dan berilah kami penolong dari sisiMu. (Surah An-Nisa’ ayat 75)

Insyaallah dengan berperang di jalan-Nya, kemenangan, syurga dan keridaan dari Allah, pasti menjadi milikmu:

Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di Jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridaan dan syurga. Mereka memperoleh kesenangan yang kekal didalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, di sisi Allah terdapat pahala yang besar. (surat At-Taubah ayat 20-22)

Ya Allah,

Berilah kemenangan kepada Mujahidin.
Teguhkan tapak kaki mereka.
Tepatkan bidikan peluru mereka.
Satukan hati-hati mereka.

Hanya kepada Engkau kami mengabdikan diri.
Hanya kepada Engkau kami kembali.

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!


Temuramah dengan Muhajir dan Mujahid Pattani Darussalam, Asy Syaikh Abu Ubaidah.pdf  

~

eBook Fiqih Jihad

Yang Mampu Menegakkan Islam Adalah Orang-orang Yang Bertekad Baja

Oleh: Syaikh Abû Mus‘ab Al-Zarqawi

Sesungguhnya agama ini tidak akan tegak kecuali di atas pundak para perwira yang memiliki tekad baja. Ia tidak akan pernah tegak di atas pundak orang-orang yang biasa hidup ringan dan bermewah-mewah. Tidak, sungguh Islam tidak akan tegak di atas pundak orang-orang seperti ini.

Agama yang besar tidak akan tegak kecuali di atas pundak orang-orang besar pula. Tanggung jawab besar yang tidak sanggup dipikul langit dan bumi, tidak mungkin diemban oleh selain orang yang pantas mengembannya.

Wahai merpati, kalau kamu menangis karena anak kecilmu
Lantas di manakah pemirsa kesedihan-kesedihan
Manakah yang layak menitikkan air mata, mataku atau matamu?
Orang yang mengaku tidak diterima pengakuannya tanpa bukti…

Bagaimana mungkin Islam akan tegak dan kembali kepada kejayaan dan kemuliaannya seperti dulu, tanpa adanya tekad baja seperti tekad Abu Bakar untuk memerangi kaum murtad di zaman banyaknya orang murtad dulu? Ketika Abu Bakar, orang yang sudah tua, peka perasaannya dan mudah menangis itu, bersumpah menyatakan tekad terbesarnya, “Demi Alloh, aku benar-benar akan perangi siapa yang memisahkan antara sholat dan zakat. Sesungguh-nya zakat adalah hak harta. Demi Alloh, seandainya mereka menolak kepadaku untuk membayar satu ikatan binatang yang dulu mereka bayarkan kepada Rosululloh –‘alaihis sholatu was salam—pasti akan kuperangi mereka karenanya.”

Bagaimana mungkin Islam akan tegak tanpa adanya tekad seperti tekad Anas bin Nadhr, yang mengatakan: “Kalau Alloh menghadir-kanku dalam perang melawan orang-orang musyrik, Alloh pasti akan melihat apa yang akan kuperbuat.”

Akhirnya ia hadir dalam perang Uhud, lalu ia berperang, sampai ketika mati di jasadnya ditemukan 80 luka lebih, mulai dari tikaman dan tebasan pedang.

Adalah Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam selalu berdoa kepada robbnya:

(اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فيِ اْلأَمْرِ وَاْلعَزِيِمَةَ عَلىَ الرُّشْدِ)

“Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan apapun dan tekad kuat di atas kelurusan.”

Sungguh, sebuah tekad yang tinggi benar-benar bisa mendidih dalam hati seperti mendidihnya air dalam periuk. Tekad seperti ini benar-benar mendorong pemiliknya untuk melakukan perkara-perkara besar setiap pagi dan sore, sehingga ia bisa menjadi orang yang disebutkan dalam perkataan Imam Syafi‘i Rahimahullôh, “Istirahat bagi ‘para lelaki’ adalah kelalaian.”

Inilah shahabat bernama ‘Abdullôh bin Jahsy, ia pernah menjauh sedikit di samping Sa‘ad bin Abi Waqos sebelum pecah perang Uhud; keduanya sepakat untuk bergantian memanjatkan doa dan saling mengamini. Maka doa yang dipanjatkan ‘Abdullôh bin Jahsy adalah:

“Ya Alloh, berilah aku rezeki berupa seorang lelaki yang keras amarahnya, besar kekuatannya, yang aku berperang dengannya dan dia berperang denganku, kemudian ia membunuhku dan memotong hidung dan telingaku, sehingga ketika aku berjumpa dengan-Mu kelak, ya Alloh, Engkau bertanya: Hai ‘Abdullôh, karena apa hidung dan telingamu terpotong? Maka aku menjawab: Karena-Mu dan karena Rosul-Mu. Lalu Engkau berfirman: Kamu benar.”

Betapa agung dan indah doa ini, sungguh itulah jiwa yang menjual segalanya untuk robbnya, ketika itulah kepahitan berubah menjadi kemanisan, sungguh itu tidak terjadi selain dari orang yang telah merasakan manisnya jalan ini dan merasakan kelezatannya. Ia tidak lagi mempedulikan apa pun selain keridhoan robb-nya, ia tidak lagi peduli selain bagaimana bisa berjumpa Alloh dalam keadaan Dia ridho dan terbunuh di jalan-Nya.

Siapakah di antara kita yang hendak meniru tekad-tekad baja seperti ini?

Siapakah di antara kita yang hendak meniru tekad Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, dan Al-‘Izz bin Abdissalam? Mereka membawa panji jihad fi sabilillah, kuat di hadapan musuh-musuh Alloh. Sementara sekarang ini, para ulama justru meninggalkan medan tempur, mereka mundur dari memegang tampuk kepemimpinan kafilah jihad ini, mereka merasa berat untuk mengorbankan nyawa karena Alloh. Belum cukup seperti itu, ditambah lagi mereka masih meneriaki mujahidin dan mengalamatkan berbagai tuduhan negatif kepada mereka, engkau tidak dengar suara mereka selain seruan untuk melawan mujahidin semua itu dilakukan dengan alasan sebagai alat politik dan mencapai kesopanan.

Aku sendiri tidak tahu, kapan mereka akan meninggalkan “fikih kekalahan sebelum perang”, dan pemahaman takut dan pengecut itu.

Sumber: Washôya li `l-Mujâhidîn
Edisi Indonesia: Kumpulan Nasehat Para Ulama Untuk Mujahidin
Penerjemah: Ahmad Ilham Al-Kandari
Publikasi: AL-QAEDOON GROUP Kelompok Simpatisan dan Pendukung Mujahidin

~

Orang-orang Yang Terlibat Dalam Jihad Adalah Kaum Yang Beruntung


Oleh: Syaikh Abû Mus‘ab Al-Zarqawi

Wahai mujahidin…

Demi Alloh, kalian dalam kondisi yang sangat beruntung sehingga banyak orang yang patut iri kepada kalian. Bukan seperti dikatakan para mukhodzil dan pelemah semangat yang hanya melihat pada ukuran materi saja, yang merasa ngeri dengan berita-berita yang disebar luaskan media-media informasi di seluruh dunia dan arab, yaitu kemenangan pasukan sekutu dan mundurnya para mujahidin. Sungguh, perang tidak diukur dengan jumlah dan persenjataan, bukan dengan kemenangan dan keunggulan. Sebab itu kemungkinan-kemungkinan yang pasti terjadi. Tetapi, di suatu hari nanti kemenangan dan kekuasaan di muka bumi akan datang jua, walaupun setelah waktu yang lama.

Ketika menceritakan kondisi persekutuan pasukan Tartar, orang-orang munafik, dan lain sebagainya, untuk menyerang kaum muslimin di zamannya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh berkata,
“Fitnah ini telah memecah manusia kepada tiga kelompok:

1. Thô’ifah Manshûroh (kelom-pok yang ditolong Alloh); mereka adalah para mujahidin yang berjihad melawan bangsa perusak itu.
2. Thô’ifah Mukhôlifah (ke-lompok yang menyelisihi); mereka adalah orang-orang berpikiran kacau yang bergabung dengan pasukan Tartar tapi masih mengaku muslim.
3. Thô’ifah Mukhôdzilah (ke-lompok pelemah semangat dan tidak mau membantu mujahidin); mereka adalah orang-orang yang duduk dari jihad melawan Tartar, walaupun keislaman mereka benar.

Maka hendaknya setiap muslim melihat di mana posisi dirinya, apakah termasuk Thô’ifah Manshûroh, Thô’ifah Mukhôdzilah, ataukah Thô’ifah Mukhôlifah; karena tidak ada kelompok yang keempat. Dan ketahuilah, dalam jihad ada kebaikan di dunia dan akhirat. Sedangkan meninggalkannya adalah kerugian dunia akhirat. Alloh Ta‘ala berfirman:

“Katakanlah (Hai Muhammad): Kalian tidak menunggu dari kami selain dua kebaikan,” (QS. At-Taubah: 52)

dua kebaikan itu adalah kemenangan atau kesyahidan dan surga.

Maka siapa saja yang hidup bersama mujahidin, ia adalah orang mulia dan berhak mendapatkan pahala di dunia serta kebaikan pahala akhirat. Bagi yang meninggal atau terbunuh, ia akan menuju surga.

Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

(يُعْطَى الشَّهِيْدُ سِتَّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ بِأَوَّلِ قَطْرَةِ دَمٍ مِنْ دَمِهِ , وَيَرَى مَقْعَدَهُ فيِ اْلجَنَّةِ, وَيُكْسَى حُلَّةً مِنَ اْلإِيْمَانِ, وَيُزَوَّجُ بِثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ, وَيُوْقَى فِتْنَةَ الْقَبْرِ, وَيُؤْمَنُ مِنَ اْلفَزَعِ اْلأَكْبَرِ)

“Orang yang mati syahid diberi enam perkara: Dosanya di ampuni ketika pertama kali darahnya menetes, diperlihat-kan tempatnya di surga, diberi pakaian keimanan, dinikahkan dengan 72 bidadari bermata jeli (huurun ‘Iin), dilindungi dari fitnah kubur, dan diamankan dari kegoncangan hari kebang-kitan.”

Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam juga bersabda,


(إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَمِائَةَ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ الدَّرَجَةِ وَالدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ أَعَدَّهَا اللهُ تَعَالىَ لِلْمُجَاهِدِيْنَ فيِ سَبِيْلِهِ)

“Sesungguhnya di surga ada 100 derajat, jarak satu derajat dengan derajat lainnya sama dengan jarak langit dan bumi,yang Alloh Ta‘ala sediakan bagi para mujahidin di jalan-Nya.” (HR. Bukhori)

Inilah ketinggian derajat di surga sejauh 50.000 tahun ((Lihat Kitabut Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. terakhir)perjalanan, bagi orang-orang yang berjihad…”

Hingga Syaikhul Islam mengatakan,

“Para ulama juga telah sepakat –sejauh yang kuketahui tidak ada amalan sunnah yang lebih baik daripada jihad; jihad lebih baik daripada ibadah hajji, puasa, dan sholat, yang sunnah. Berjaga di perbatasan (ribath) lebih baik daripada tinggal di Mekkah, Madinah, atau Baitul Maqdis. Sampai-sampai Abu Huroiroh ra mengatakan: Sungguh berjaga-jaga (ribath) di jalan Alloh satu malam saja lebih aku sukai daripada aku berada di samping Hajar Aswad ketika Lailatul Qodar.

Di sini, beliau lebih memilih ribath satu malam daripada beribadah di malam terbaik dan di jengkal tanah terbaik.”

Beliau berkata, “Ketahuilah, semoga Alloh memperbaiki Anda semua, bahwa kemenangan itu milik orang-orang beriman, hasil akhir milik orang-orang bertakwa, dan Alloh bersama orang-orang bertakwa lagi berbuat baik. Musuh itu pada dasarnya tertundukkan dan tertindas, Alloh Ta‘ala adalah Dzat yang meme-nangkan kita atas mereka, membalaskan dendam kita kepada mereka, dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Alloh Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Maka terimalah kabar gembira berupa pertolongan Alloh Ta‘ala dan hasil akhir yang baik,

“Dan janganlah kalian merasa hina dan sedih, padahal kalian adalah lebih tinggi jika kalian beriman.”
(QS. Ali Imron: 139)

Selanjutnya beliau berkata lagi, “Ketahuilah –semoga Alloh senantiasa memperbaiki diri kalian—, nikmat terbesar bagi orang yang Alloh ‘Azza Wa Jalla hendaki kebaikan pada dirinya adalah ketika Alloh menghidupkannya sekarang ini, di zaman ketika Alloh tengah memperbaharui agama-Nya, menghi-dupkan kembali syiar kaum muslimin, menghidupkan ihwal kaum mukminin dan para mujahidin; sehingga keadaannya mirip dengan As Sabiqunal Awwalin dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Maka siapa saja yang melaksanakan semua ini di zaman sekarang, berarti ia termasuk orang-orang yang mengikuti jejak mereka dalam kebaikan. Maka sudah selayaknya kaum mukminin bersyukur kepada Alloh atas ujian yang pada hakikatnya adalah anugerah mulia dari Alloh Ta‘ala ini, seharusnya mereka mensyukuri terjadinya fitnah yang di dalamnya mengandung nikmat besar ini. Hingga seandainya para shahabat As-Sabiqûnal Awwalûn dari kalangan Muhajirin dan Anshor, seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan yang lainnya, mereka hadir di tempat ini, tentu amalan paling utama yang mereka lakukan adalah berjihad melawan orang-orang jahat itu. Dan tidak ada yang ketinggalan dari peperangan seperti ini selain orang yang merugi perdagangannya, dungu jiwanya, dan diharamkan untuk mendapatkan bagian besar dari dunia dan akhirat; kecuali orang yang mendapatkan udzur dari Alloh, seperti orang sakit, fakir, buta, dan lain sebagainya.”

Syaikhul Islam juga mengatakan,

“Puncak Islam adalah jihad di jalan Alloh, sesungguhnya jihad adalah perkara dicintai Alloh dan rosul-Nya yang paling tinggi. Dan orang-orang yang mencela jihad ini banyak jumlahnya. Sebab kebanyakan orang yang di dalam hatinya ada iman sekalipun, mereka membenci jihad. Kemungkinannya, kalau bukan sebagai mukhodzil yang melemahkan semangat dan keinginan untuk berjihad, atau menjadi pembuat kekacauan dan pelemah kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakannya. Walaupun, perbuatan tersebut termasuk kemunafikan.”


Sumber: Washôya li `l-Mujâhidîn
Edisi Indonesia: Kumpulan Nasehat Para Ulama Untuk Mujahidin
Penerjemah: Ahmad Ilham Al-Kandari
Publikasi: AL-QAEDOON GROUP Kelompok Simpatisan dan Pendukung Mujahidin

~

Tamkîn Hanya Datang Setelah Ujian

Oleh: Syaikh Abû Mus‘ab Al-Zarqawi

Wahai para mujahidin…

Memang, pertolongan kadang tertunda, tak jarang kekalahan dan luka-luka terjadi pada barisan kalian, dan ini bukanlah hal yang aneh. Sebab itu adalah sunnatulloh pada orang-orang terdahulu. Dan tidak ada perubahan pada sunnatulloh.

Heraklius berkata kepada Abu Sufyan: “Aku tadi bertanya kepadamu tentang bagaimana kalian memerangi orang itu –yang ia maksud adalah Rosululloh Shollallohu Alaihi Wa Sallam— lantas engkau katakan bahwa peperangan itu silih berganti (kadang menang kadang kalah); memang seperti itulah keadaan para rosul; mereka diuji kemudian kemenangan akhir ada di tangan mereka.”

Sungguh, ujian terberat bagi kalian ketika memerangi musuh adalah bersabar dan yakin. Yakin bahwa Alloh akan menepati janji-Nya, menolong tentara dan pasukan-Nya, walaupun setelah lewat masa yang panjang. Dan sabar ketika mengalami kegoncangan-kegonca-ngan, dan yakin bahwa jalan keluar ada bersama kesulitan, dalam kesuli-tan ada kemudahan.

Ada seseorang bertanya kepada Imam Syafi‘i, “Wahai Abu Abdillah, mana yang lebih baik bagi seseorang; diberi kekuasaan ataukah diuji?” Maka Imam Syafi‘i menjawab, “Ia tidak akan diberi kekuasaan sebelum diuji.”
Sesungguhnya Alloh telah menguji Nabi Nuh, Ibrohim, Musa, Isa, dan Muhammad semoga sholawat dan salam tercurah selalu kepada mereka, tatkala mereka bersabar, Alloh pun memantabkan kedudukan mereka di muka bumi. Maka jangan ada seorangpun menyangka bisa terlepas dari kepedihan!
Kelirulah orang yang berburuk sangka kepada Alloh, di mana ia hanya melihat kepada jumlah dan peralatan yang dimiliki musuh dengan melupakan janji Alloh;

“…Alloh telah tetapkan: Aku pasti memenangkan diri-Ku dan rosul-rosul-Ku,”(QS. Al-Mujadilah: 21)

“…Barang siapa berwali kepada Alloh, rosul-Nya, dan orang-orang beriman, maka sesungguhnya pasukan Alloh lah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Maidah: 56)

“Adalah kewajiban Kami menolong orang-orang beriman,” (QS. Ar-Rum: 47)

“Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana menjadikan berkuasa orang-orang sebelum mereka, dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa…” (QS. An-Nur: 55)

Di sini ada syarat sebelum mendapatkan janji, yaitu iman, ikhlas (tidak menyekutukan Alloh), dan beramal sholeh, barulah datang kemenangan, kekuasaan, dan ke-khilafahan di muka bumi,

“Itulah janji Alloh, Alloh tidak menyelisihi janji-Nya.” (QS. Az-Zumar: 20)

Sungguh indah apa yang dikatakan Sayyid Quthb Rahimahulloh ketika mengomentari firman Alloh:

“Betapa banyak kelompok yang sedikit bisa mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Alloh…” (QS. Al-Baqoroh: 249)

Beliau berkata, “Ayat ini adalah kaidah dalam perasaan orang-orang yang yakin bahwa mereka pasti akan berjumpa dengan Alloh, kaidah ini menyatakan bahwa kelompok orang-orang beriman itu sedikit, sebab kelompok inilah yang bisa menapaki tangga ujian yang berat hingga puncaknya, sehingga mereka mencapai predikat sebagai pasukan pilihan. Meski sedikit, tapi merekalah yang menang, sebab mereka memiliki kontak dengan sumber segala kekuatan, dan mewakili kekuatan yang pasti menang; yaitu kekuatan Alloh yang pasti memenangkan urusan-Nya, Dzat Yang Mahapemaksa di atas hamba-hamba-Nya, yang menghancurkan orang-orang bengsis, menghinakan orang-orang dzolim, dan menundukkan orang-orang sombong.”

Sumber: Washôya li `l-Mujâhidîn
Edisi Indonesia: Kumpulan Nasehat Para Ulama Untuk Mujahidin
Penerjemah: Ahmad Ilham Al-Kandari
Publikasi: AL-QAEDOON GROUP Kelompok Simpatisan dan Pendukung Mujahidin

~

Lemah Nyali dan Perbuatan Maksiat, Menunda Kemenangan

Oleh: Syaikh Abû Mus‘ab Al-Zarqawi
Aku sama sekali tidak mengkhawatirkan banyaknya musuh kalian dan besarnya senjata mereka, aku tidak mengkhawatirkan kalian lantaran berkumpulnya seluruh kekuatan jahat memerangi kalian, atau sikap melemah-kan semangat dari saudara-saudara kalian sesama muslim di berbagai belahan dunia; yang aku khawatirkan justru dari diri kalian sendiri, aku khawatir kalian terkena penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati), merasa lemah dan kalah, kemudian banyak melakukan maksiat.

Kalian bisa mengambil pelajaran dari peristiwa perang Uhud, Alloh Ta‘ala berfirman:

“…sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan bermaksiat kepada perintah (Rosul) sesudah Alloh memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Alloh memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu…”( QS. Ali Imron: 152)

Ibnu Katsir berkata, “Tadinya keunggulan dan kemenangan berada di fihak Islam pada pagi harinya, tapi tatkala para pemanah bermaksiat dan sebagian pasukan merasa gagal, janji kemenanganpun tertunda, di mana datangnya kemenangan ini disyaratkan adanya keteguhan dan sikap taat.”

Peristiwa Uhud ini sungguh telah menorehkan peristiwa yang menakjubkan, antara lain: jumlah musuh tiga kali lipat lebih banyak daripada jumlah kaum muslimin, lalu Alloh memenangkan kaum muslimin di pagi hari; tapi tatkala mereka bermaksiat, Alloh timpakan musibah di sore hari.
Shahabat Jâbir Radhyilallohu ‘Anhu berkata, “Ketika perang Uhud, manusia bercerai berai dari sisi Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, yangtinggal menyertai beliau hanya 13 orang Anshor dan Tholhah.”

Dalam hadits Anas Radhyilallohu ‘Anhu ia berkata, “Ketika pecah perang Uhud, kaum muslimin tercerai berai. Maka Anas bin Nadhr berkata, ‘Ya Alloh, aku memohon udzur kepada-Mu dari perbuatan shahabat-shahabatku, dan aku berlepas diri kepada-Mu dari perbuatan orang-orang musyrik itu.’”
Dulu, setelah pulau Qibrish ditaklukkan, Abu `d-Darda’ duduk sambil menangis tatkala menyaksikan penduduknya menangis dan dalam kondisi kacau balau. Maka ada yangbertanya, “Wahai Abu `d-Darda’, apa yang membuatmu menangis di hari ketika Alloh memuliakan Islam?” beliau menjawab, “Celakalah kalian, alangkah rendahnya makhluk di sisi Alloh ketika mereka meninggalkan perintah-Nya, padahal mereka dulu adalah bangsa yang menang dan kuat, mereka meninggalkan perintah Alloh dan akhirnya menjadi seperti yang kalian lihat.”

Sumber: Washôya li `l-Mujâhidîn
Edisi Indonesia: Kumpulan Nasehat Para Ulama Untuk Mujahidin
Penerjemah: Ahmad Ilham Al-Kandari
Publikasi: AL-QAEDOON GROUP Kelompok Simpatisan dan Pendukung Mujahidin

~