Tampilkan postingan dengan label Propaganda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Propaganda. Tampilkan semua postingan

Konspirasi Membungkam Jihad


Stigamtisasi terhadap umat Islam sepertinya tak pernah usai. Mulai dari sebutan Kontra Revolusi di zaman Orde Lama, Subversif di era Orde Baru, dan Teroris di masa reformasi. Setelah JI, lalu NII, selanjutnya apalagi? Ketakutan pun diciptakan ketika umat Islam menyerukan kata jihad, syariat Islam, dan negara Islam. Saatnya kita membela jihad, dan melawan konspirasi atas nama jihad.

Hidup mulia atau mati syahid adalah cita-cita kaum muslimin di mana pun berada. Begitu juga, tegaknya syariah dan daulah Islamiyah, merupakan dambaan umat Islam di negeri ini. Namun, niat dan semangat saja tidak cukup. Diperlukan kecerdasan membaca situasi, agar umat Islam tidak menjadi pecundang dan tumbal politik oleh pihak yang hendak menodai dan mendompleng perjuangan ini.

Berkaca pada sejarah, dulu NII (Negara Islam Indonesia) asalnya DI (Darul Islam, diproklamasikan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, 7 Agustus 1949 di Cisayong Tasikmalaya Jawa Barat). Semula NII SM Kartosewirjo betul-betul hendak memperjuangkan Islam sebagai dasar negara. Tapi dalam perjalanannya, NII disusupi oleh intelijen untuk menghancurkan pergerakan dan politik Islam dari dalam.

Pada tahun 1980-an ketika diadakan musyawarah tiga wilayah besar (Jawa Barat, Sulawesi, dan Aceh) di Tangerang Jawa Barat, diputuskan bahwa Adah Djaelani Tirtapradja diangkat menjadi Imam NII. Lalu ada pemekaran wilayah NII yang tadinya 7 menjadi 9, penambahannya itu KW VIII (Komandemen Wilayah VIII) Priangan Barat (mencakup Bogor, Sukabumi, Cianjur), dan KW IX Jakarta Raya (Jakarta, Tangerang, Bekasi).

Penyelewengannya terjadi ketika pucuk pimpinan NII dipegang Abu Toto. Ia mengubah beberapa ketetapan-ketetapan Komandemen yang termuat dalam kitab PDB (Pedoman Dharma Bakti) seperti menggantikan makna fai’ dan ghanimah yang tadinya bermakna harta rampasan dari musuh ketika terjadi peperangan (fisik), tetapi oleh Abu Toto diartikan sama saja, baik perang fisik maupun tidak. Artinya, harta orang selain NII boleh dirampas dan dianggap halal.

Pemahaman ini tidak dicetuskan dalam bentuk ketetapan syura (musyawarah KW IX) dan juga tidak secara tertulis, namun didoktrinkan kepada jamaahnya. Sehingga jamaahnya banyak yang mencuri, merampok, dan menipu, namun menganggapnya sebagai ibadah, karena sudah diinstruksikan oleh ‘negara’.

Dalam hal shalat, dalam Kitab Undang-undang Dasar NII diwajibkan shalat fardhu 5 waktu, namun perkembangannya, dengan pemahaman teori kondisi perang, maka shalat bisa dirapel. Artinya, dari mulai shalat zuhur sampai dengan shalat subuh dilakukan dalam satu waktu, masing-masing hanya satu rakaat. Ini doktrin Abu Toto dari tahun 2000-an.

Mengenai puasa, mereka mengamalkan hadits tentang mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka dengan cara, sudah terbit matahari pun masih boleh sahur, sedang jam 5 sore sudah boleh berbuka. Alasannya dalil hadits tersebut. Gerakan ini mencari mangsa dengan jalan setiap jamaah diwajibkan mencari satu orang tiap harinya untuk dibawa tilawah. Lalu diarahkan agar hijrah dan berbaiat sebagai anggota NII. Karena dengan baiat maka seseorang terhapus dari dosa masa lalu, tersucikan diri, dan menjadi ahli surga. Untuk itu peserta ini harus mengeluarkan shadaqah hijrah yang besarnya tergantung dosa yang dilakukan. Anggota NII di Jakarta saja, saat ini diperkirakan 120.000 orang yang aktif.

Inilah bukti NII Kartosoewirjo telah dinodai oleh pengkhianat dari kalangannya sendiri, setelah tergiur oleh iming-iming harta dan kedudukan. Yang jelas, ini bukan yang pertama, perjuangan umat Islam dinodai dan dibungkam oleh mereka yang mengatasnamakan jihad dan memperjuangkan Islam.

Konspirasi Jihad

Diera Orde Baru, perjuangan umat Islam kembali dinodai dengan disusupinya oleh konspirasi intelijen untuk menghabisi mujahid yang hendak berjuang untuk Islam. Menanggapi kasus Komando Jihad (Komji), Umar Abduh mengatakan, makna kebangkitan Neo NII yang lahir berkat dibidani dan buah karya operasi intelejen OPSUS tersebut, sangat tidak layak untuk dinilai dan atau diatasnamakan sebagai wujud perjuangan politik berbasis ideologi Islam (apalagi sampai dikategorikan sebagai jihad suci fie sabilillah).

Hakekat substansi dan orientasi kiprah gerakan reorganisasi yang dilakukan para mantan tokoh sayap militer NII tersebut adalah lebih didorong oleh dan dalam rangka memperoleh serta memperturutkan syahwat duniawi (materi dan kedudukan politis) kemudian bertemu-bekerjasama (bersimbiosis mutualistis) dengan para tokoh intelejen jahiliyah yang terkenal kebusukannya dan terkenal pula kerakusannya terhadap dunia (syahwat duniawi). Dengan demikian, kasus Komando Jihad, Kebangkitan Neo NII maupun Fundamentalisme Jihad para mantan tokoh sayap militer DI tersebut merupakan wujud perjuangan atau pengorbanan yang bathil.

Motivasi para pihak atau pribadi yang dilakukan karena semangat dan ketulusan untuk memperjuangkan Islam, yang tidak didorong dalam rangka memperoleh dan memperturutkan syahwat duniawi, sebagaimana halnya sikap dan tindakan para mantan tokoh sayap sipil DI tersebut, hal itu menjadikan posisi mereka sebagai korban sekaligus menjadi bukti kebodohan mereka sendiri dalam bergama dan berpolitik akibat kebohongan, kebodohan dan kebathilan para mantan tokoh sayap militer DI sendiri dalam berpolitik dan beragama. Secara sadar atau tidak sadar, umat Islam telah dijebak dan diprovokasi oleh kebijakan intelejen OPSUS (orde baru) atas nama jihad.

Belum lagi, stigmatisasi teroris, radikalis, ekstrimis yang ditujukan kepada aktivis Islam yang mencita-citakan tegaknya syariat Islam dan daulah Islamiyah. Pejuang Islam yang betul-betul ingin berjihad, kemudian lagi-lagi disusupi intelijen untuk menghabisi keinginan untuk mewujudkan cita-citanya itu. Sehingga muncullah kelompok yang salah dalam menafsirkan makna jihad. Tanpa memahami fiqih jihad, lalu mengklaim dirinya sebagai mujahid, dengan melakukan pengeboman di sejumlah tempat, termasuk pengeboman di dalam masjid yang jamaahnya diisi oleh aparat polisi.

Menyikapi bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikra Mapolres Cirebon saat jamaah yang kebanyakan anggota polisi sedang menunaikan shalat Jum'at, (5/4/2011), sejumlah ormas Islam dalam pernyataan sikapnya, menengarai sebagai operasi intelijen untuk mengadudomba antara umat Islam dengan polisi.

Pemboman di masjid itu, menurut Forum mat Islam (FUI) adalah perbuatan biadab yang bertentangan dengan prinsip ajaran Islam. Karenanya, FUI mengecam aktor dan pelaku pemboman jamaah masjid yang sedang shalat itu sebagai tindakan yang justru menyerang simbol dan ajaran Islam.

"Pelaku dan aktor intelektual yang ada di belakangnya adalah orang yang tidak paham fiqih jihad, sebab dalam fiqhul jihad sama sekali tidak dibenarkan melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah, apalagi masjid," jelas Sekjen FUI Muhammad Al-Khaththath.

Bom bunuh diri yang terjadi menyusul teror bom buku beberapa waktu lalu yang hingga kini belum terungkap, disinyalir FUI sebagai teror yang tidak bisa dipisahkan dari operasi intelijen untuk membusukkan Islam. "Pemboman tersebut erat kaitannya dengan operasi intelijen untuk pembusukan Islam," lanjut Al-Khaththath.

Untuk menjaga suasana kondusif, FUI mengimbau kepada seluruh komponen umat Islam agar merapatkan barisan dan mewaspadai makar intelijen yang berupaya mengadu domba sesama umat Islam. "Pemboman di masjid Mapolres itu merupakan upaya adu domba antara polisi dengan umat Islam," tegas Al-Khaththath. "Rapatkan barisan dan waspadai upaya adu domba antara umat Islam," imbaunya.

Ketika umat Islam dihadapkan pada stigmatisasi dan upaya radikalisasi oleh Badan Nasional Penanggulan Teroris (BNPT), bukan berarti umat Islam harus menanggalkan prinsip jihad yang ada di dalam ajaran Islam.

Jika umat Islam tidak memiliki semangat jihad, hal inilah yang akan disyukuri oleh Barat dan antek-anteknya. Selama jihad yang dilakukan adalah jihad yang tidak melenceng dari jalur syariat. Jika jihad tidak dipahami secara benar, maka bukan tidak mungkin, umat Islam akan menjadi korban konspirasi dari mereka yang hendak menodai hakekat jihad sesungguhnya. Sudah saatnya, umat Islam membela jihad.

Source: VOA-Islam[.]com

~

Negara Intelijen Indonesia


Pada tanggal 27 Agustus 1999, masyarakat pergerakan Islam dikejutkan oleh sebuah pemberitaan berkenaan dengan diresmikannya sebuah pesantren oleh Presiden B.J. Habibie, di Indramayu (Jawa Barat). Pesantren termegah di Asia Tenggara itu bernama Ma’had Al-Zaytun, yang dipimpin oleh Syaikh Al-Ma’had AS Panji Gumilang.

Yang membuat kalangan pergerakan terkejut bukanlah semata-mata karena kemegahan pesantren yang berdiri di tengah-tengah kemiskinan rakyat sekitarnya, tetapi terutama karena sosok yang bernama AS Panji Gumilang, yang tak lain adalah Abu Toto, alias Toto Salam.

Pada tanggal 14 Mei 2003 Jenderal AM Hendropriyono (dalam kapasitasnya sebagai Kepala BIN), atas nama Presiden RI (waktu itu) Megawati, memenuhi undangan Panji Gumilang untuk menancapkan patok pertama bangunan gedung pembelajaran yang diberi nama Gedung Doktor Insinyur Haji Ahmad Soekarno. Kehadiran Jenderal Hendropriyono ketika itu diikuti hampir seluruh pejabat tinggi BIN.

Pada Pemilu Legislatif 5 April 2004, terdapat sekitar 11.563 pemilih yang tersebar di 39 TPS Khusus Al-Zaytun, hampir seluruhnya (92,84 persen) diberikan kepada Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) pimpinan Jenderal Purn. Hartono dan Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut—putri Soeharto). Selebihnya (618 suara) diberikan kepada Partai Golkar.

Tanggal 5 Juli 2004, masyarakat kembali dikejutkan oleh pemberitaan seputar Pemilihan Presiden, yaitu ketika Al-Zaytun berubah sementara menjadi ‘TPS Khusus’ yang menampung puluhan ribu suara (24.878 jiwa) untuk mendukung calon presiden Jenderal Wiranto. Ketika itu, puluhan armada TNIAD hilir-mudik mengangkut ribuan orang dari luar Indramayu yang akan memberikan suaranya di TPS tersebut. Dalam perkembangannya, hasil dari TPS Khusus ini dianulir.

Sebelum kasus penimbunan senjata oleh Brigjen Koesmayadi diungkap oleh KSAD Jenderal TNI Djoko Santoso (yakni pada 29 Juni 2006), beberapa tahun sebelumnya sejumlah aktivis Islam pernah melaporkan kepada aparat kepolisian tentang adanya timbunan senjata di Al-Zaytun, pada sebuah tempat yang dinamakan Bunker. Laporan itu baru ditindak-lanjuti aparat kepolisian beberapa bulan kemudian, setelah ratusan senjata itu dipindahkan ke tempat lain, dan bunker tempat penyimpanan senjata sudah berubah fungsi. Senjata-senjata itu milik seorang jenderal aktif yang sangat berpengaruh pada masanya.


Dari rentetan fakta di atas, tampaknya sulit untuk membantah bila ada yang menyimpulkan bahwa Toto Salam alias Abu Toto adalah sosok yang disusupkan ke dalam gerakan Islam, dengan proyek mercusuarnya berupa Ma’had Al-Zaytun.

Sumber

~

Realitas dan Peran Media Jihadi


Segala puji bagi Allah, Rabb Sang Pencipta; Raja dan Penolong Kaum Muwahiddin yang tertindas; Yang Mematahkan dan Mengalahkan para tirani yang zholim. Shalawat dan salam kepada penutup dan pemimpin para nabi; Imam dan teladan Mujahidin; juga kepada segenap keluarga Beliau dan para Shahabatnya serta seluruh orang yang mengikuti petunjuknya; menghidupkan kembali sunnahnya hingga hari kiamat.
Selanjutnya:
Berdiskusi tentang media pada umumnya, tak diragukan mau tidak mau diskusi kita akan mengarahkan perhatian pada apa yang kita kenal sebagai media jihadi, atau seperti yang sering disebut musuh; situs ekstremis yang mendukung terorisme. Adalah suatu kehormatan bagi kita, Muslim Muwahiddin untuk melancarkan Jihad menteror musuh Allah, dan memerangi mereka dengan segala yang kita sanggupi; dengan hujjah, pernyataan, pena dan lisan, serta pedang, dalam rangka merealisasikan janji Allah pada kita bahwa mereka akan dikalahkan dan Din Allah akan ditinggikan melebihi seluruh nilai keyakinan mereka yang palsu dan syariatnya yang zholim.
Kita menyadari, bahwa diri kita ini adalah bagian tak terpisahkan dari tentara Ahlul Haq yang tengah bersiap untuk menyongsong musuh, menghidupkan kembali ke tengah kancah ummat ini Jihad Ofensif (Jihad Al Talab) dan bukan lagi hanya sekedar melaksanakan Jihad defensif (Jihad Difaa’i). Kita telah melalui fase defensif, dan seluruh perdebatan seputarnya telah menarik perhatian musuh dan dimanfaatkannya untuk melumpuhkan Jihad Ofensif, yang sesungguhnya merupakan ujung senjata tertajam yang dimiliki Ummah Islam.

Peran Mimbar Media dalam Kampanye Jihad
Keberadaan mimbar-mimbar media jihadi (yang semakin banyak) adalah anugerah dari Allah Azza wa Jalla kepada segenap hamba-hambaNya Mujahidin beserta seluruh pendukungnya, sehingga dengan keberadaan jaringan media jihadi itu, mereka bisa berkomunikasi satu dengan yang lain dalam rangka menolong Din Allah.
Kita mengetahui, salah satu kesulitan yang dihadapi Mujahidin adalah masalah komunikasi – apakah di antara mereka atau dengan para pendukungnya. Lalu Allah melimpahkan kepada mereka keberadaan mimbar-mimbar media yang semenjak awal dirintisnya dimaksudkan untuk menyebarluaskan program-program Mujahidin dan perjuangan mereka. Lebih jauh, media jihadi berjuang untuk menyebarkan berita yang benar dan realitas yang jujur tentang Jihad, dan melalui media jihadi ini juga persiapan, penghimpunan bekal, hingga rekrutmen Mujahid dilakukan melalui usaha media yang terorganisasi, teratur dan aman.
Musuh telah memobilisasi berbagai batalion sihir media dengan target membangun reputasi yang buruk tentang Mujahidin dan menfitnah Jihad mereka yang mulia. Propaganda penyesatan mereka menimpakan pukulan yang besar terhadap Jihad yang penuh berkah ini dan menyebabkan patah atau tertundanya banyak proyek-proyek Jihadi, sesuai taqdir Allah yang hanya Dia Yang Tahu hikmahnya. Akhirnya, Allah berkehendak untuk menyingkapkan kemunafikan berbagai media ini, hingga wajahnya yang buruk terungkap ke hadapan Ummah. Kesemua hal ini terjadi dengan ijin Allah, melalui usaha berbagai media jihadi. Musuh tidak dapat lagi leluasa menebar fitnah dengan memanfaatkan media penyesat ini, karena Mujahidin dan para pendukung mereka, melalui media jihadi, telah memasuki arena ini dari berbagai pintu dan celah, sehingga musuh tidak mampu membendungnya. Selalu ada celah di mana kalimat kebenaran dapat disampaikan; kepalsuan dipatahkan; gambaran utuh tentang medan pertempuran dapat dipublikasi dan kelemahan musuh (yang selama ini disembunyikan) dapat terungkap. Sehingga musuh bertambah bingung dan gugup dalam menghadapi gelombang Jihad yang penuh berkah.
Usaha dan keberadaan media jihadi ini adalah anugerah dan pemberian sangat besar untuk Jihad dan Mujahidin. Mereka (para media jihadi) seperti benih yang ditanam, maka harus dipelihara dengan baik, disiram, sehingga benih itu akan tumbuh dan menjadi pohon yang kuat, lalu berbuah berbagai hal bermanfaat, dengan ijin Allah. Juga diperlukan improvisasi dan pengembangan tanpa henti melalui segenap para ahli kita di bidang masing-masing, – dan walhamdulillah jumlah mereka ini terus bertambah. Mereka tidak kekurangan apa-apa, kecuali harus lebih meningkatkan koordinasi, profesionalisme, dan menyempurnakan shaf barisannya, agar dapat menunaikan kerja-kerja media yang terorganisasi dengan baik, menepati perencanaan dan jadual yang terarah, dan di bawah kepemimpinan yang waspada dan berjalan di atas petunjuk kebenaran, sebagaimana amal-amal jihadi di medan perang.
Peran yang dimainkan adalah; sudah tentu menghimpun dukungan moral, spiritual, dan logistik kepada tentara kita yang tengah berperang. Ia juga memberikan kontribusi yang besar dalam amaliyat da’wah dan I’dad; juga dalam front peperangan psikologi tanpa henti, dengan menebarkan kebingungan di barisan musuh dan menanamkan teror di hati mereka. Apa yang mereka lakukan setaraf/sepadan dengan yagn telah dilakukan segenap Ikhwan Mujahidin di front pertempuran.
Kami telah menyaksikan –Segala Puji bagi Allah, semakin luasnya kemampuan mimbar-mimbar media jihadi. Kami dapat mengukur tingkat pengaruhnya dengan mengevaluasi bagaimana musuh menghadapi mereka; musuh berusaha dengan seluruh sumber daya yang mereka mampu untuk menghentikan segenap media jihadi ini, memotong komunikasi mereka dengan massa dari Ummah dan rakyatnya.
Terkait peran mimbar media Jihadi dan forum-forumnya, perkenankan aku menyampaikan nasihat, (pertama) kepada Para Administratornya:
Pertama: Agar kalian meneruskan kerja kalian dengan dedikasi penuh dan keteguhan baja. Jadikan seluruh manusia tahu dan memahami, bahwa kesatuan media jihadi adalah salah satu batalion dari batalion-batalion Jihad, kesatuan tentara dari kumpulan tentara yang sama, salah satu muka dari satu koin Jihad yang sama. Amal yang kalian lakukan sepadan dengan pertempuran yang dikobarkan di garis depan, karena front terdepan peperangan dengan front media jihadi adalah dua sisi dari koin uang yang sama.
Kedua: Kalian harus selalu mengembangkan metode kerja kalian, dan (tak kalah penting) bagaimana materi-materi media Jihadi dapat tersebar luas dan terdistribusi; di sisi lain meningkatkan keamanan dan metode perlindungan, sehingga kalian dapat meneruskan kerja-kerja kalian, dan pada saat yang sama melindungi serta mengamankan rahasia segenap ‘member’ dan penulis dari intaian thowaghit. Sungguh, nilai dan arti penting mereka terhadap proyek jihadi tidak kalah dengan para prajurit di medan tempur.
Ketiga: Lipatgandakan dan konsolidasikan koordinasi dengan segenap mimbar Jihadi dan website yang ada, dengan tujuannya untuk saling berbagi pengalaman; bekerjasama dalam bidang yang ada dan keahlian untuk melayani Jihad dan Mujahidin. Sehingga tidak ada masa kosong terjadi. Jika satu mimbar (karena suatu hal) absen, maka yang lain melanjutkan aktifitasnya sehingga Mujahidin tidak terputus berkomunikasi dengan seluruh pendukungnya.
Keempat: Kalian harus mengokohkan hubungan dengan Mujahidin, meningkatkan berbagai saluran komunikasi yang mungkin; berkomunikasi dengan mereka dan menjaga keamanan dan kerahasiaan. Sehingga dapat segera mempublikasikan berbagai hal dari Mujahidin, atau segera mengingatkan Mujahidin tentang berbagai perkembangan terkait masa depan Jihad. Tidak lupa, segenap mimbar dan forum Jihadi ini harus melindungi dan menjaga sebaik-baiknya informasi tentang ‘member’ mereka. Jangan lupa, kekuatan dan ketahanan mereka terletak pada keamanan; dan motivasilah seluruh ‘member’ untuk meningkatkan kreatifitas, dan produktifitas yang bermanfaat bagi kebangkitan Jihad ini.
Aku memohon kepada Allah, agar melindungi segenap ikhwah kita yang berkhidmat mengelola mimbar dan website Jihadi kita; semoga Allah melimpahkan kepada kalian lebih banyak keshabaran, kebijaksanaan, dan keteguhan, dan agar Allah melimpahkan kepada kalian pahala yang sempurna seperti yang diterima Mujahidin, dan agar Allah melimpahkan kepada kita (kami dan kalian) rizqi terbaik, syahid fi sabilillah.
Sebelum melanjutkan, aku ingin menyampaikan kepada segenap musuh Allah yang mendengki, dengan kekuatan Allah Azza wa Jalla, konspirasi mereka akan kita patahkan, dan agen-agen mereka dapat tersingkap dan sebagian dapat kita bunuh.
Menguatkan Hal Positif dan Menghindari Hal Negatif
Aku meyakini bahwa media jihadi memiliki banyak sisi positif. Cukuplah untuk dikatakan bahwa salah satu hasil nyata mereka adalah kesuksesan memecahkan pengepungan besar yang mengikat Ummah kita, serta menghancurkan belitan jerat gurita media mereka terhadap Ummah kita. Media kita mampu menyampaikan kebenaran kepada putra-putra ummah, dan mengungkapkan tipu daya musuh; menyingkap rencana mereka dan kelemahan mereka; serta kekesalan dan kekalahan mereka dalam medan perang ketika menghadapi Mujahidin.
Ini adalah amanah besar, dan asset yang berharga bagi amal Jihadi dan Mujahidin. Belum lagi peran yang lain yaitu dalam rangka mengagitasi (mentahridl) Ummah, sehingga prajurit-prajurit baru bergabung dalam barisan Mujahidin, serta menghimpun berbagai sumber daya yang dibutuhkan demi menolong Jihad, serta amal-amal penting lainnya.
Aku tidak melihat sisi negatif dari media jihadi, dalam kenyataannya dan mempertimbangkan kondisi penuh tantangan yang dialami ummah dalam menghadapi penyerbuan Perang Salib yang seperti air bah ini. Sesungguhnya, aku melihat ada beberapa kendala, halangan, serta rintangan yang harus diatasi dan disingkirkan agar media jihadi kita dapat membawa manfaat yang lebih besar lagi.
Di antaranya:
1. Kader media dan kapabilitasnya harus dilipatgandakan di barisan Mujahidin, agar perimbangan kekuatan akan semakin memihak Mujahidin dalam bidang media, dan berbagai upaya harus dilakukan untuk menguasai teknologi yang lebih baik, dan agar dapat menciptakan pengaruh psikologis yang lebih kuat, baik kepada para pendukung maupun pada pihak lawan.
2. Para pendukung dan putra-putra Ummah harus bermurah hati untuk menyediakan pendanaan yang memadai untuk menutupi kebutuhan dan biaya media Jihadi. Kita mengetahui, agar mampu mengimbangi media musuh, segenap media Jihadi kita memerlukan teknologi yang lebih maju untuk semakin mengembangkan dirinya, sehingga media kita mampu mengatasi berbagai halangan yang dipasang musuh untuk menyampaikan secara utuh dan sempurna berbagai gambaran tentang agenda kita dan hasil peperangan antara kita dengan musuh.
3. Terkait perkembangan terus menerus, aku meyakini bahwa para pendukung dan para ahli (spesialis) harus mengeksploitasi organisasi-organisasi yang dimiliki musuh tersebut begitu juga agensi-agensi independen untuk mempelajari teknologi dan program yang ada di sana. Hal tersebut dimaksudkan sebagai antisipasi jika pada suatu saat (insya Allah) Mujahidin akan memiliki organisasi media swasta sendiri yang independen.
4. Front media adalah front independen yang memiliki nilai tidak kalah penting dari front pertempuran. Aku, meyakini urgensi yang makin besar agar manajemen media jihadi sejalan dengan corak kepemimpinan Jihad. Karena itu koordinasi dan kerjasama yang terorganisir di antara organisasi media jihadi adalah salah satu hal sangat penting untuk segera harus dibangun, juga untuk mengantisipasi dibentuknya satu kepemimpinan yang perannya adalah mengkoordinasikan dan membagi tugas dan spesialisasi di antara berbagai grup media tersebut.
(Seperti forum Syura Mujahidin yang menghimpun berbagai komandan Jihad, lalu syura tersebut menunjuk seorang amir sebagai pimpinan tertinggi yang menyatukan seluruh front dan kesatuan tentara. Maka segenap media jihadi diminta – diperintahkan untuk membangun model koordinasi, syura, dan satu kepemimpinan bersama seperti itu. Pent)
5. Mujahidin – lewat segenap pendukungnya, harus berjuang untuk dapat memiliki chanel video milik sendiri yang berperan untuk menjangkau massa yang lebih luas. Salah satu program terpentingnya adalah menyiarkan laporan berita dan berbagai operasi yang dilancarkan Mujahidin, sehingga dapat menyampaikan realitas nyata dari medan pertempuran kita menghadapi musuh. Sebagai tambahan, chanel video ini juga dapat menyiarkan wawancara dengan segenap pimpinan Jihad dan orang-orang berpengaruh dalam Jihad terkait program-program yang benar yang harus diikuti oleh segenap pemuda dari Ummah ini, bahkan da’wah kepada musuh dan non muslim. (kami telah menyaksikan dan mengetahui banyak Ikhwah kita, yang dulu awalnya berada di pihak musuh, lalu mereka menerima Islam, menjadi hamba Allah yang jujur, dan menjadi prajurit yang bahkan menimpakan kehancuran yang besar terhadap musuh. Kisah para tahanan Guantanamo adalah salah satu contoh yang baik). Aku berpikir target ini akan dapat dicapai lebih cepat dari yang dibayangkan oleh siapa saja, dan para saudara kita prajurit media Jihad akan mencurahkan usahanya yang terbaik untuk merealisasikan tujuan ini. Mereka adalah orang-orang yang sangat inovatif dan tekun, yang akan membuat musuh mereka takjub melebihi teman-teman mereka.
Aku berdoa kepada Allah agar Dia melimpahkan kesuksesan atas segala hal yang Dia cintai dan Dia ridlai, agar Allah mengokohkan kekuatan Jihad dan Mujahidin, dan menyebarkan teror di hati musuh agama ini.
Terkait beberapa hal yang mungkin bisa menjadi alasan kesuksesan majalah Jihadi dan publikasinya, aku ingin mengatakan, dengan taufiq Allah:
Kita semua mengetahui bahwa pada fase terdahulu semenjak awal masa dari seruan (Jihad) penuh berkah ini, kita menghadapi hambatan dan pengepungan yang ketat atas para ikhwah yang bekerja di bidang tersebut. Sebagai tambahan, sangat sedikit yang memiliki sumber daya yang memadai, dan sangat jarang. Betapa sulit kita menemukan orang yang mau untuk berkhidmat (memberikan sumber daya yang ia miliki, mulai dari dana hingga kemampuan) di jalan Allah, dan demi menepati faridlatul ghaibah, kewajiban yang telah hilang dari ummat Muslim kita dan mereka telah menjadi asing terhadapnya. Bahkan Jihad telah menjadi gambaran menakutkan di hati mereka disebabkan konsekuensi yang harus dihadapi oleh mereka yang mendukungnya.
Para perintis di bidang da’wah dan Jihad sangat sedikit, dan mereka yang menekuni bidang media bahkan lebih sedikit lagi, sementara mereka yang telah terjun merintis harus memanggul berbagai amanah berat dalam saat yang bersamaan. Maka menjadi kewajiban kita, khususnya para perintis media Jihad, dan merupakan prioritas khusus dalam agenda kerja mereka, untuk menutup celah kevakuman di bidang media. Juga yang menjadi perhatian adalah kelangkaan para spesialis yang menguasai keahlian tertentu di bidang media dan ketiadaan orang yang mau mengkhidmatkan dirinya di bidang media ini, khususnya kalangan mahasiswa.
Majalah dan publikasi memulai langkahnya dengan penuh semangat dan tekad tetapi tak terlalu lama semangat tersebut memudar dan padam; atau menghilang karena disebabkan kelangkaan sumber daya dan adanya kerja yang lain yang lebih urgen. Dengan berbagai tekanan yang harus dihadapi; khususnya masalah keamanan, segenap ikhwah tersebut dipaksa untuk mengorbankan kerja mereka (di bidang media, majalah, dan publikasi), karena kekhawatiran kerahasiaan serta berbagai urusan penting mereka akan tercium musuh, yang selanjutnya bisa membahayakan keseluruhan amal Jihadi yang tengah diperjuangkan.
Tetapi sekarang, aku meyakini keadaan telah berubah lebih baik, dan banyak gerakan jihadi telah memiliki basis yang stabil dan aman, segala puji bagi Allah, sehingga mereka mampu untuk mengendalikan program untuk mengembangkan para anggotanya. Lebih lanjut, sumber daya dan dukungan teknis semakin tersedia lebih mudah. Para pemuda dapat berinovasi di bidang media, dan gerakan Jihad dapat mengkhususkan beberapa kadernya untuk menekuni bidang ini, sehingga mereka dapat berkhidmat dengan baik dan kontinyu hingga mampu mengembangkan kerja-kerja bidang media secara kreatif, dan mampu melebihi media yang dimiliki musuh.
Lebih jauh, Mujahidin telah mampu menegakkan Imarah Islam yang independen dan berdaulat, seperti di Afghanistan, Chechnya, Iraq, Somalia, dan beberapa imarah lebih kecil yang tersebar di Maghrib Islami, Pakistan, dan Turkistan Timur. Di area-area tersebut, Mujahidin telah memiliki organisasi media yang aman dan dapat diandalkan, walhamdulillah. Dan segenap Ikhwah dari kementerian informasi atau komite media dapat mengungguli dalam hal kreativitas dan menformat program yang tepat untuk hal tersebut.
Kami sebutkan beberapa contoh, khususnya; Yayasan As Sahab, Yayasan Al Furqan, Al Fajr, The Global Islamic Media Front, Yayasan Al Ansar, Al Mas’ada, Al Malahim, Al Somood, Al Ansar Mailing Group, Al Yaqeen Centre, batalion Al Somood, Yayasan Al Andalus, dan berbagai media jihadi lainnya.
Kami juga secara khusus menyebutkan berbagai forum jihadi, dipimpin oleh Asy Syumukh Network, At Tahadi, Ansar Mujahideen, dan lain-lain, yang menjadi mimbar utama (primary backbones) untuk menyuarakan berbagai hal dari segenap yayasan dan kantor resmi media jihad yang kami sebutkan di atas.
Kesemuanya tumbuh untuk mendukung program Salafiyah Jihadiyah, untuk mempublikasikan berbagai berita tentang Mujahidin; dan melayani peran sebagai penghubung antara massa dari Ummah dan berbagai jamaah Jihad yang mengikuti perintah Allah.
Setiap hari kami menyaksikan tumbuh dan berkembangnya, atau lahirnya kembali berbagai mimbar dan media jihadi, aku berdoa kepada Allah agar semakin menambah mereka; dan menunjuki mereka di bawah ri’ayahNya agar mereka mampu merilis seluruh potensi mereka dalam media jihadi berkelanjutan dan istimewa ini, sejalan dengan perkembangan Jihad di seluruh front.
Di antara hal penting untuk menjamin keberlangsungan kreativitas ini adalah keamanan dan ketersediaan sumber daya. Aku juga meyakini kedua kondisi tersebut juga tersedia di wilayah yang telah aku sebutkan di atas. Goresan kreativitas masih dan akan terus berjalan, dan di hari-hari yang akan datang kita akan menyaksikan banyak kejutan yang akan membuat kagum teman maupun musuh, walhamdulillahi Rabbil Alamin.
Perlunya Para Ulama dan Ahlul Ilmi untuk Berpartisipasi dalam Kerja Media
Ilmu dan amal adalah dua sisi dari mata uang yang satu. Bahkan, ilmu mendahului amal, sebagaimana kita semua memahaminya dalam agama kita, Ikhwah fillah. Berdasarkan hal tersebut, dalam berbagai spesialisasi, janganlah mengabaikan bidang syariah. Inilah yang menjadi cahaya penerang yang akan menuntun mereka ke arah pengetahuan, kepahaman, dan kreatifitas. Mereka yang bekerja tanpa ilmu, seperti seorang pengendara yang berjalan di jalan gelap tanpa cahaya, maka bagaimana ia akan menentukan arah?
Maka aku tegaskan, kepada segenap Ikhwah yang tengah menuntut ilmu agar mereka jangan membatasi diri dengan kegiatan studi akademik saja, tetapi hendaknya kalian ikut memberikan pelayanan dan bantuan kepada segenap Ikhwah yang tengah berkhidmat di berbagai bidang; di antaranya adalah bidang media, yang telah terbukti menjadi salah satu senjata efektif untuk menghadapi musuh.
Amal media selalu terkait dengan amal da’wah, menyebarkan kalimatul haq, dan meluruskan pemahaman syariah ummat. Kalian (para ahlul ilmi) tak akan dapat merealisasikan amal da’wah ini, tanpa bantuan ikhwah kita di bidang media.
Pada saat yang sama, aku mengarahkan nasehat ini langsung kepada segenap saudaraku yang saat ini memegang amanah di bidang media, hendaknya kalian memanfaatkan waktu kalian yang berharga untuk menuntut ilmu-ilmu Syariah, agar dapat lebih tajam dalam mengemban urusan kalian dan agar dapat memainkan peran yang lebih penting dalam amanah media jihad ini, insya Allah.
Kondisi perang yang kita hadapi semakin rumit dan kompleks. Kecil kemungkinan seseorang yang hanya menguasai satu spesialisasi akan menjadi pionir atau contoh dalam bidangnya. Kita membutuhkan para pemimpin dan pengarah yang kreatif di segala bidang. Pengetahuan Syariah adalah syarat mutlak (yang tak dapat diberi dispensasi/keringanan), jika tidak maka ideologi lain akan mengalahkan kita dan mempengaruhi kita.
Media Jihadi Harus Memperhatikan Kondisi dan Realitas Sekitarnya
Tak diragukan, kebijakan media harus memperhatikan kondisi realistis yang ada di sekitarnya dan keberadaan media harus menegaskan posisi kebijakannya dalam menghadapi kondisi tersebut. Tak ada hal lain yang dapat kami tegaskan!
Yayasan Al Furqan, sebagai contoh, mengkhususkan perhatian untuk mendistribusikan kebijakan resmi dan pendirian publik dari Daulah Islam Iraq. Sebagaimana kita ketahui, Daulah Islam menghadapi berbagai front peperangan. Ia harus menghadapi tentara Salib penjajah (Amerika dan seluruh sekutunya), tentara murtaddin (penguasa Rafidlah – Syiah, dan sekutunya di pemerintahan boneka Iraq), tentara kaum Munafiqin (Dewan Kebangkitan dan antek-anteknya), serta berbagai grup/jamaah yang mengklaim Jihad sebagai slogannya (mis: Al Jihad Sabiluna. Pent) dan klaim bahwa mereka ikut serta memerangi penjajah Salib.
Daulah Islam (yang tegak di Bumi Rofidain) tersebut harus bekerja dalam dua front secara simultan: front militer, yang diwakili dengan menahan dan mengusir kaum durjana melalui kekuatan senjata (bi saifi yanshur: bersama pedang yang membuka kemenangan) yang dapat kita saksikan dari berbagai (dokumentasi) operasi Jihadi yang dilancarkan berbagai kelompok dan jamaah, dan front Da’wah melalui kekuatan Hujjah kebenaran (bi kitabi yahdi: bersama Kitab yang memberikan petunjuk) yang dilaksanakan oleh yayasan media jihadi untuk menyampaikan Kalimatul Haq kepada seluruh masyarakat umumnya, dan khususnya kepada berbagai faksi yang tengah berperang,yang mungkin dengan da’wah dan hujjah, mereka akan bertaubat, kembali kepada kebenaran dan menjadi pendukungnya. Ini terjadi sebelum faksi-faksi tersebut memisahkan diri. Tetapi setelah pemisahan terjadi, dan telah jelas posisi dan pendirian masing-masing faksi tersebut terhadap perjuangan yang tengah berlangsung, maka menjadi jelas bagi Daulah Islam bahwa memang tidak mungkin dapat diharapkan percaya/beriman kecuali orang-orang yang telah percaya/beriman. Maka Daulah Islam kemudian mengalihkan upayanya menjadi berusaha mengungkapkan kebenaran; agar nyata jalan yang ditempuh kaum mujrimin (orang yang berbuat dosa); untuk mengajarkan kepada Ummah realitas dari berbagai faksi tersebut, sehingga mereka (ummah) dapat mengambil posisi yang sesuai dalam perjuangan yang berjalan. Hal ini benar-benar terjadi pada jamaah-jamaah tersebut yang mengklaim bahwa mereka melaksanakan Jihad dan Daulah Islam telah menyambut mereka; memuliakan mereka dan memberi mereka kesempatan menduduki beberapa posisi berpengaruh dan kedudukan terhormat. Tetapi mereka, ternyata terus saja memaksakan pemisahan (maksudnya mereka memaksa dan merasa berhak ikut memimpin Daulah Islam sehingga meminta ‘jatah pembagian kekuasaan’. Pent) dan menebarkan perselisihan, padahal mereka tahu bahwa Daulah Islam telah memiliki, baik hak dan kekuatan, yang membuatnya layak dan mampu memproklamasikan berdirinya Daulah yang memadai (di seluruh seginya) untuk menerapkan Syariah Ar Rahman dan menggulirkan peperangan untuk menghadapi syariah Syaithon. Iri hati mereka berubah menjadi kedengkian, lalu kebencian, ketika mereka menyaksikan kemampuan Daulah yang diberkati ini dan bagaimana para kabilah dan Muhajirin berhimpun di bawah panjinya, menjadi pendukungnya, sehingga bertambah jumlah warga negaranya.
Sementara para saudara kita di Bumi Maghrib Islami, sebagai contoh yang lain, situasi mereka jelas berbeda dengan yang dihadapi di Iraq. Saudara kita di sana menghadapi musuh yang mewakili kekuatan rejim murtaddin di bawah kepemimpinan kelompok jenderal sekular yang menjadi kepanjangan tangan rejim Salib –Perancis. Mereka didukung kawanan besar jurnalis dan intelektual yang melancarkan perang media untuk merusak citra Mujahidin dan memburukkan tujuan Jihad mereka. Maka harus ada respon untuk menghadapi fitnah konspirasi hebat ini; untuk mengekspos kenyataan rejim yang buruk menindas ini; mengungkapkan kebohongan mereka; dan berusaha menjangkau dukungan hati dan qolbu kaum Muslimin.

Penutup
Aku berdoa kepada Allah, agar Dia menjadikan hati kita tunduk menghambakan diri kepadaNya, dan menjadikan kita teguh di atas DinNya; dan menggunakan kita untuk memenangkan agamaNya dan menolong para pemelukNya. Aku berdoa agar Allah membukakan jalan bagi kita untuk dapat bertemu (bertatap muka), dan agar Allah ridla terhadap kita, dan membuat kita mampu untuk memuliakan orang-orang yang taat dan menghinakan orang-orang yang kufur. Dan segala puji bagi Allah, Raja alam semesta.

Oleh : Syaikh Abu Saad Al Amili
Source: http://arrahmah.com/read/2011/03/16/11385-realitas-dan-peran-media-jihadi.html#ixzz1I2aoSNnx

~

Fakta! Anshor Thogut Asal Fitnah Anshorut Tauhid!

MER – C : “ Benar, JAT Sumbang Rp 300 Juta Untuk Program RS Indonesia Di Jalur Gaza”



MER-C membenarkan Jama'ah Ansharut Tauhid (JAT) adalah salah satu donatur untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza Palestina. Donasi yang sudah disumbangkan oleh lembaga pimpinan Ustadz Abu Bakar Baasyir sampai dengan saat ini berjumlah Rp 300 juta. Donasi dikirimkan melalui transfer ke rekening MER-C khusus untuk program Pembangunan RS Indonesia. Dana sebesar Rp 300 juta diberikan JAT dalam dua tahap. Tahap pertama sebesar Rp 150 juta dikirimkan pada tanggal 14 April 2009, kemudian donasi tahap kedua dengan jumlah yang sama dikirimkan pada tanggal 14 Maret 2011. Amanah kedua donasi itu adalah untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza yang saat ini sudah mencapai proses pengumuman pemenang tender.

Sebagai sebuah LSM yang independen, dana yang diterima MER-C untuk program pembangunan RS Indonesia semuanya murni berasal dari masyarakat Indonesia baik itu perorangan, lembaga, institusi maupun perusahaan. Tidak ada bantuan (donasi) asing maupun bantuan (donasi) dari Pemerintah untuk program ini. Semua donatur dan masyarakat dapat mengecek donasinya di website MER-C karena laporan ini kami tampilkan secara transparan dan rutin di website MER-C yang beralamat di www.mer-c.org. Karena semua dananya berasal dari masyarakat Indonesia, maka Rumah Sakit di Gaza diberi nama RS INDONESIA.

Pemerintah RI memang sempat berkomitmen untuk ikut membantu program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Bahkan pada Juni 2010, Ketua DPR RI dan rombongan telah melakukan prosesi peletakan batu pertama di lokasi tanah RS Indonesia di Bayt Lahiya, Gaza Utara.

Namun ternyata Pemerintah RI tidak menepati komitmen yang telah disepakati dengan melakukan penandatanganan MOU Pembangunan “Cardiac Center” dengan Islamic Development Bank (IDB) pada tanggal 7 Februari 2011 lalu.
Pemerintah berdalih bahwa alasan tidak jadi membangun RS Indonesia dan mengalihkan bantuan ke program yang lain dengan IDB adalah karena sulitnya lahan dan izin untuk RS. Demikian pernyataan yang selalu dikatakan oleh Menkes RI yang dikutip oleh sejumlah media. Tentu saja hal ini tidak benar dan merupakan suatu kebohongan karena lahan dan izin untuk pembangunan RS Indonesia di Gaza sudah didapat oleh MER-C sejak tahun 2009. Bahkan lahan untuk RS Indonesia sendiri merupakan waqaf dari Pemerintah Palestina di Gaza dengan luas mencapai 16.261 m2.
Krisis kepercayaan diri memang sedang melanda negeri ini termasuk Pemerintah RI. Pemerintah RI lebih percaya dan memilih untuk bekerjasama dengan lembaga asing (red: IDB) daripada menjalankan program dengan menggunakan tenaga dan kemampuan sendiri.

Namun, dengan ataupun tanpa bantuan dana dari Pemerintah, MER-C tetap melanjutkan program Pembangunan RS Indonesia. Sudah 8 bulan ini, MER-C menempatkan 7 relawannya di Gaza untuk mengawal proses pembangunan RS Indonesia hingga pembangunan RS ini selesai. Dalam waktu dekat, MER-C akan mengirimkan timnya lagi ke Gaza untuk melakukan kontrak dengan pemenang tender dan diharapkan pembangunan bisa dimulai pada April 2011.
Sumbangan dari masyarakat Indonesia seperti JAT dan yang lainnya akan sangat membantu sehingga program pembangunan RS Indonesia bantuan dari rakyat Indonesia untuk rakyat Gaza Palestina bisa segera


Shourche: http://saveabb.com/index.php/news/287-mer-c-benar-jat-sumbang-rp-300-juta-untuk-program-rs-indonesia-di-jalur-gaza

~

The Lone Wolf (Serigala yang Sendirian) Pengirim Paket Bom Buku ?


The Lone Wolf atau Adz Dzi'bul Munfarid (Serigala yang Sendirian) adalah sebuah istilah yang popular ketika Taimur Abdulwahab Al Abdaly, pria berkebangsaan Swedia yang juga pernah menghabiskan waktunya di Inggris melakukan pemboman di Stockholm, Swedia, Sabtu, 11 Desember 2010. Sebelumnya, pada tanggal 30 September 2010 jam 08.00 WIB, di kawasan pasar Sumber Artha Kalimalang, Jakarta Timur, Ahmad bin Abu Ali meledakkan bom sepeda yang dikendarainya. Mungkinkah The Lone Wolf (Serigala yang Sendirian) yang mengirimkan paket bom buku ?
Pesan jihad dari The Lone Wolf (Serigala yang Sendirian)
Taimur Abdulwahab Al Abdaly mengirimkan pesan jihad melalui teks singkat dari pesan audio yang dilampirkan ke email yang dikirimnya ke kantor berita TT Swedia, sesaat sebelum dua ledakan di Stockholm, pada hari Sabtu, 11 Desember 2010.
"Dalam nama Allah yang penyayang. Sholawat dan salam atas Nabi Muhammad, saw.
"Terima kasih kepada Lars Vilks dan lukisan tentang  Nabi Muhammad, saw, dan tentara Anda di Afghanistan dan kebisuan anda pada semua ini sehingga  anak-anak anda, anak perempuan, saudara-saudara anda mati dengan cara yang sama sebagaiman saudara dan saudari  dan anak kami meninggal.
"Sekarang negara-negara Islam telah memenuhi apa yang mereka janjikan pada anda. Di sini, di Eropa dan di Swedia, kami adalah kenyataan, bukan penemuan, aku tidak akan mengatakan lebih lanjut tentang ini.
"Tindakan kita akan berbicara sendiri, selama Anda tidak mengakhiri peperangan terhadap Islam dan penghinaan Nabi Saw dan dukungan bodoh Anda untuk Vilks babi.
"Untuk semua Muslim di Swedia, aku berkata: berhenti menjilat dan memalukan dirimu untuk kehidupan yang menghinakan jauh dari Islam. Bantulah saudara dan saudari anda dan tidak takut apa pun atau siapa pun, hanya menyembah Allah saja!!!
"Untuk keluarga saya, cobalah untuk memaafkan saya. Saya tidak bisa duduk dan menonton sementara semua ketidakadilan yang terjadi terhadap Islam dan Nabi Muhammad, saw, ketika Vilks babi melakukan apa yang dia lakukan.
"Maafkan aku karena kebohongan saya. Aku tidak pernah pergi ke Timur Tengah untuk bekerja atau mencari uang, saya pergi ke sana untuk jihad. Saya harap Anda dapat mengerti saya beberapa waktu.. Aku tidak pernah bisa memberitahu Anda semua ini atau kepada siapa pun."
Taimur, "Serigala yang Sendirian" asal Luton, Inggris ini tidak bisa tinggal diam atas tindakan Lars Vilks, kartunis Swedia yang menggambar nabi Muhammad SAW., menyerupai hewan babi tiga tahun silam, juga kebijakan pemerintahan Swedia yang mengirimkan 500 tentaranya untuk ikut membantai kaum Muslimin di Afghanistan.
Ahmad bin Abu Ali, "Serigala yang Sendirian" yang tidak memiliki tempat tinggal tetap ini meninggalkan dua lembar pesan jihad yang ditemukan di dalam sakunya.
Lembar Pertama :
"Ini adalah pembalasan pada kalian sekutu-sekutu setan karena menghukum mati dan membunuh mujahidin kami. Kami siap mati demi agama yang mulia".
Lembar Kedua :
"Bom syahid ini adalah untuk kalian semua orang-orang kafir, kalian akan kami kejar walaupun kalian ke awan. Kematian kalian pasti. Mujahidin masih hidup di Indonesia".
Beberapa nama lagi bisa dicatat sebagai kafilah The Lone Wolf (Serigala yang Sendirian), seperti Mayor Nidal Hasan, seorang dokter militer yang menembaki 13 tentara Amerika di markas militer Fort Hood, Texas. Juga Umar Farouk Abdulmutallab, pemuda asal Nigeria yang berusaha meledakkan bom dalam bajunya dalam penerbangan menuju Detroit, pada natal tahun lalu.
Dalam barisan The Lone Wolf ini terdapat pula nama seorang Muslimah, Roshonara Choudry, asal London, Inggris. Muslimah ini menikam Timms, mantan menteri perburuhan Inggris dua kali di Beckton, London timur pada bulan Mei 2010. Roshonara melakukan tindakan berani itu untuk menghukum Timss karena menyetujui perang Irak.
Syekh Muhammad Al Sana'ani dalam majalah Inspire Edisi 4 menulis sebuah artikel berjudul 'Roshonara & Taimur : Followers of The Borderless Loyalty'. Syekh Muhammad Al Sana'ani dalam artikel tersebut mengatakan bahwa Roshonara Choudhry dan Taimur adalah contoh bagaimana Loyalitas Tanpa Batas (The Borderless Loyalty) yang dimiliki Islam.
Roshonara telah membela umat Islam di manapun mereka berada dengan apa yang dapat dilakukannya! Hendaknya orang-orang laki dari ummat ini bisa mengambil contoh dari wanita ini jika mau selamat di hari akhirat nanti, sambungnya.
Sementara itu, Taimour menurut Syekh Muhammad telah melakukan kewajibannya atas negeri Swedia yang telah mengirimkan pasukannya ke bumi Islam Afghanistan dan atas penghinaan kartunisnya kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Hendaknya tindakan ini bisa menjadi pelajaran bagi pemerintahan Swedia untuk berfikir ulang dan menarik pasukannya dari Afghanistan. Sebuah ide loyalitas tanpa batas tidak akan pernah mati, ujarnya!
The Lone Wolf (Serigala yang Sendirian) pengirim paket bom buku ?
Hingga kini, belum ada satu pihak pun maupun perorangan yang mengaku bertanggung jawab atas paket bom buku yang beredar belakangan ini. Biasanya, jika ada pengakuan, maka akan terdapat pula pesan atau alasan mengapa paket bom buku tersebut disebarkan.
Karena itu, saat ini simpang siur analisa, kajian, bahkan tuduhan-tuduhan kepada kelompok tertentu. Belum terfikir kemungkinan bahwa The Lone Wolf (Serigala yang Sendirian) adalah pengirim bom buku yang beredar beberapa hari belakangan ini.
Kisah Abu Bashir dan Abu Jandal, dua orang "Sahabat" di masa Rasulullah SAW., kemungkinan menjadi inspirasi bagi para The Lone Wolf untuk beraksi. Dikisahkan Abu Jandal bin Suhail dan Abu Bashir yang lepas dari penawanan musyrikin Quraisy di saat diberlakukan Perjanjian Hudhaibiyah, membentuk kelompok sendiri dan beraksi sendiri mencegat kafilah Quraisy yang keluar ke Syam.
Selain itu, terdapat dalil wajibnya berperang meskipun seorang diri, yang dikenal dengan sebutan Jihad Fardhiyah atau jihad perorangan.
 "Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Dan kobarkanlah semangat Para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah Amat besar kekuatan dan Amat keras siksaan(Nya)". (QS. An Nisa : 84)
Ayat di atas menerangkan tentang perintah agar berperang (meski seorang diri) dan mentahridh (menyemangati) orang-orang yang beriman untuk berperang, dan dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat dalam kondisi jihad difa'i atau jihad bertahan.
Dalam aksi jihad pribadi ini jangan dibayangkan sebuah serangan besar yang spektakuler terhadap target musuh yang membutuhkan persiapan yang banyak, personal, logistik dan strategi yang canggih. Ini adalah sebuah aksi seorang diri dan dipersiapkan sendiri. Hanya saja, bagaimana membuat aksi personal ini dapat menimbulkan efek teror yang besar terhadap musuh.  
Aksi The Lone Wolf (Serigala yang Sendirian) ini dianalisa sangat efektif dilakukan di tengah kesulitan dan minimnya sumber daya yang ada atau bisa dikatakan sebagai paket bom murah meriah. Selain itu, aksi semacam ini sangat sulit untuk dideteksi dan diungkap, sebagaimana paket bom buku yang saat ini tengah terjadi. Jikapun terungkap, pelakunya diperkirakan hanya 1-2 orang saja.
Dalam Inspire Edisi 3 diangkat sebuah tema yang kurang lebih membahas paket bom murah meriah. Dengan hanya Rp. 42 juta saja atau $ 4,200, Al Qaeda telah melumpuhkan industri penerbangan Amerika Serikat dan barat. Paket bom murah meriah yang dikirim dari Yaman ke AS tersebut akhirnya menimbulkan peringatan keamanan di seluruh dunia.
"Operasi telah berhasil dalam mencapai tujuan. Kami bersyukur kepada Allah karena rahmat-Nya, " demikian kata pengantar redaksi dalam Inspire edisi 3.
Paket bom murah meriah ini dinamakan "Operasi Hemorrhage" alias operasi paket bom untuk AS, dengan harga operasional yang murah.
"Dua hand phone Nokia, masing seharga US $ 150, dua printer HP, masing-masing seharga US $ 300, ditambah biaya pengiriman, transportasi dan biaya tambahan lain-lain hingga total biaya sebesar US $ 4.200," ujar mujahidin AQAP.
Biaya paket bom buku mungkin lebih murah lagi dari "Operasi Hemorrhage". Namun, tetap belum bisa dipastikan, apakah paket bom buku yang terjadi baru-baru ini juga terinspirasi "Operasi Hemorrhage" atau paket bom murah meriah? Apakah pelakunya juga dari kafilah The Lone Wolf (Serigala yang Sendirian)? Kalau benar demikian, apa pesan yang ingin disampaikannya?
Apa pesan paket bom buku ?
Tidak mudah memastikan pesan apa yang ingin disampaikan oleh pengirim paket bom buku, sebelum ada rilis resmi dari pelaku sendiri. Namun, sebagaimana telah banyak analisa dan kajian serta prediksi yang bermunculan, pesan dari paket bom buku tersebut juga bisa diperkirakan.
Paket bom buku pertama, ditujukan kepada Ulil, tokoh JIL, yang anti syariat Islam dan konsisten menyebarkan pemikiran anti Islamnya. Jika judul buku ("Mereka Harus Dibunuh! Karena Dosa-Dosa Mereka terhadap Islam dan Kaum Muslimin") dijadikan panduan untuk mengungkap pesan tersembunyi pengirim paket bom buku, maka jelas dosa-dosa Ulil terhadap Islam dan kaum Muslimin menjadi penyebab dirinya dijadikan target.
Sang penulis sekaligus pengirim paket bom buku, Drs Sulaiman Azhar Lc menganggap Ulil layak untuk dijadikan target paket bom buku yang dikirimnya, sebagaimana juga dikirimkan kepada Komjen Gories Mere, Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional (BNN), dengan judul yang sama "Mereka Harus Dibunuh! Karena Dosa-Dosa Mereka terhadap Islam dan Kaum Muslimin".
Gories Mere, jenderal Kristen bintang tiga ini dikenal memiliki track record buruk terhadap Islam dan Kaum Muslimin. Dia diketahui selalu ikut serta dalam setiap penyiksaan para aktivis Muslim yang ditangkap dan dituduh teroris. Jenderal Kristen ini juga ditengarai berada di balik Satgas Antibom yang kerap menyiksa para tahanan Muslim yang ditangkap dengan tuduhan terorisme. Jabatan Gories di BNN tidak menghalanginya untuk ikut campur dalam setiap perkara terorisme.  
Paket bom buku ketiga dikirimkan kepada Ketua Pemuda Pancasila Yapto S Soeryosumarno, dan berbeda judul dengan dua paket bom buku sebelumnya. Kepada Yapto, sang pengirim paket bom buku, mengirimkan sebuah buku berjudul "Apakah Masih Ada Pancasila". Jenis pertanyaan pada judul buku yang dikirimkan ke Yapto tidak membutuhkan jawaban, melainkan sebuah pernyataan terbalik, yakni sudah tidak ada lagi Pancasila!
Paket bom buku terakhir dikirim untuk Ahmad Dhani, musisi nyentrik, yang tindakannya dikenal kontroversi. Kali ini sang pengirim paket bom buku menggunakan nama Alamsyah Muchtar, beralamat di Jalan Darmaga No 21, Bogor Jawa Barat. Dengan modus yang sama, yakni meminta kata pengantar, kali ini untuk sebuah buku berjudul "Yahudi Militan".
Ahmad Dhani, selama ini memang dikenal berdarah yahudi dan secara terang-terangan menyatakan dirinya sebagai pendukung ide sesat pluralisme. Tindakan Dhani seringkali kontroversi dan kadang sangat menyinggung Islam dan Kaum Muslimin. Dhani pernah memuat lafadz Allah pada lambang grup musik Dewa, yang lalu diinjak-injaknya.
Dhani diyakini berdarah yahudi dan bangga akan keyahudiannya. Di beberapa tulisan di internet, misalnya, disebutkan bahwa di album Dewa (2004), tertulis Dhani Thanks To:) Jan Pieter Frederich Kohler (Thanks for The Gen).
Tulisannya itu dianalisis banyak orang sebagai pernyataan syukur Ahmad Dhani karena ia memiliki keturunan (gen) Yahudi. Jan Pieter Frederich Kohler diyakini sebagai kakeknya, ia ayah dari ibu kandung Ahmad Dhani yang bernama Joyce Theresia Pamela Kohler. Jan Kohler diyakini sebagai orang Yahudi Jerman.
Ahmad Dhani sering menampilkan lambang-lambang Yahudi. Misalnya, pada cover album pertama Dewa 19, terdapat gambar piramida tak sempurna yang terpancung di bagian ujungnya. Piramida itu diyakini sebagai lambang gerakan Masonis yang diusung kaum Yahudi. Lambang itu juga terdapat dalam uang 1 dolar AS.
Dalam salah satu lagunya di album Laskar Cinta yang berjudul Satu ia menampilkan syair yang merupakan manifestasi paham sesat wihdatul wujud (bersatunya mahluk dengan pencipta).
Lengkaplah sudah pesan apa yang ingin disampaikan oleh sang pengirim paket bom buku. The Lone Wolf (Serigala yang Sendirian) ini tidak bisa menerima dan tidak bisa berdiam diri terhadap orang-orang yang memusuhi Islam dan Kaum Muslimin, seperti Ulil dan Gories Mere. Sang pengirim pesan juga mempertanyakan kepada publik dan siapapun tentang Pancasila, apakah masih ada dan akan terus bertahan ? Terakhir, sang pengirim pesan memperingatkan Dhani, yang dianggapnya sebagai Yahudi Militan. Betulkah demikian?
Wallahu'alam bi showab!
By: M. Fachry
International Jihad Analysis


Source: http://arrahmah.com/read/2011/03/21/11471-the-lone-wolf-serigala-yang-sendirian-pengirim-paket-bom-buku-.html#ixzz1I2a3rsvk

~