Tampilkan postingan dengan label Dakwah Konsep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah Konsep. Tampilkan semua postingan

Realitas dan Peran Media Jihadi


Segala puji bagi Allah, Rabb Sang Pencipta; Raja dan Penolong Kaum Muwahiddin yang tertindas; Yang Mematahkan dan Mengalahkan para tirani yang zholim. Shalawat dan salam kepada penutup dan pemimpin para nabi; Imam dan teladan Mujahidin; juga kepada segenap keluarga Beliau dan para Shahabatnya serta seluruh orang yang mengikuti petunjuknya; menghidupkan kembali sunnahnya hingga hari kiamat.
Selanjutnya:
Berdiskusi tentang media pada umumnya, tak diragukan mau tidak mau diskusi kita akan mengarahkan perhatian pada apa yang kita kenal sebagai media jihadi, atau seperti yang sering disebut musuh; situs ekstremis yang mendukung terorisme. Adalah suatu kehormatan bagi kita, Muslim Muwahiddin untuk melancarkan Jihad menteror musuh Allah, dan memerangi mereka dengan segala yang kita sanggupi; dengan hujjah, pernyataan, pena dan lisan, serta pedang, dalam rangka merealisasikan janji Allah pada kita bahwa mereka akan dikalahkan dan Din Allah akan ditinggikan melebihi seluruh nilai keyakinan mereka yang palsu dan syariatnya yang zholim.
Kita menyadari, bahwa diri kita ini adalah bagian tak terpisahkan dari tentara Ahlul Haq yang tengah bersiap untuk menyongsong musuh, menghidupkan kembali ke tengah kancah ummat ini Jihad Ofensif (Jihad Al Talab) dan bukan lagi hanya sekedar melaksanakan Jihad defensif (Jihad Difaa’i). Kita telah melalui fase defensif, dan seluruh perdebatan seputarnya telah menarik perhatian musuh dan dimanfaatkannya untuk melumpuhkan Jihad Ofensif, yang sesungguhnya merupakan ujung senjata tertajam yang dimiliki Ummah Islam.

Peran Mimbar Media dalam Kampanye Jihad
Keberadaan mimbar-mimbar media jihadi (yang semakin banyak) adalah anugerah dari Allah Azza wa Jalla kepada segenap hamba-hambaNya Mujahidin beserta seluruh pendukungnya, sehingga dengan keberadaan jaringan media jihadi itu, mereka bisa berkomunikasi satu dengan yang lain dalam rangka menolong Din Allah.
Kita mengetahui, salah satu kesulitan yang dihadapi Mujahidin adalah masalah komunikasi – apakah di antara mereka atau dengan para pendukungnya. Lalu Allah melimpahkan kepada mereka keberadaan mimbar-mimbar media yang semenjak awal dirintisnya dimaksudkan untuk menyebarluaskan program-program Mujahidin dan perjuangan mereka. Lebih jauh, media jihadi berjuang untuk menyebarkan berita yang benar dan realitas yang jujur tentang Jihad, dan melalui media jihadi ini juga persiapan, penghimpunan bekal, hingga rekrutmen Mujahid dilakukan melalui usaha media yang terorganisasi, teratur dan aman.
Musuh telah memobilisasi berbagai batalion sihir media dengan target membangun reputasi yang buruk tentang Mujahidin dan menfitnah Jihad mereka yang mulia. Propaganda penyesatan mereka menimpakan pukulan yang besar terhadap Jihad yang penuh berkah ini dan menyebabkan patah atau tertundanya banyak proyek-proyek Jihadi, sesuai taqdir Allah yang hanya Dia Yang Tahu hikmahnya. Akhirnya, Allah berkehendak untuk menyingkapkan kemunafikan berbagai media ini, hingga wajahnya yang buruk terungkap ke hadapan Ummah. Kesemua hal ini terjadi dengan ijin Allah, melalui usaha berbagai media jihadi. Musuh tidak dapat lagi leluasa menebar fitnah dengan memanfaatkan media penyesat ini, karena Mujahidin dan para pendukung mereka, melalui media jihadi, telah memasuki arena ini dari berbagai pintu dan celah, sehingga musuh tidak mampu membendungnya. Selalu ada celah di mana kalimat kebenaran dapat disampaikan; kepalsuan dipatahkan; gambaran utuh tentang medan pertempuran dapat dipublikasi dan kelemahan musuh (yang selama ini disembunyikan) dapat terungkap. Sehingga musuh bertambah bingung dan gugup dalam menghadapi gelombang Jihad yang penuh berkah.
Usaha dan keberadaan media jihadi ini adalah anugerah dan pemberian sangat besar untuk Jihad dan Mujahidin. Mereka (para media jihadi) seperti benih yang ditanam, maka harus dipelihara dengan baik, disiram, sehingga benih itu akan tumbuh dan menjadi pohon yang kuat, lalu berbuah berbagai hal bermanfaat, dengan ijin Allah. Juga diperlukan improvisasi dan pengembangan tanpa henti melalui segenap para ahli kita di bidang masing-masing, – dan walhamdulillah jumlah mereka ini terus bertambah. Mereka tidak kekurangan apa-apa, kecuali harus lebih meningkatkan koordinasi, profesionalisme, dan menyempurnakan shaf barisannya, agar dapat menunaikan kerja-kerja media yang terorganisasi dengan baik, menepati perencanaan dan jadual yang terarah, dan di bawah kepemimpinan yang waspada dan berjalan di atas petunjuk kebenaran, sebagaimana amal-amal jihadi di medan perang.
Peran yang dimainkan adalah; sudah tentu menghimpun dukungan moral, spiritual, dan logistik kepada tentara kita yang tengah berperang. Ia juga memberikan kontribusi yang besar dalam amaliyat da’wah dan I’dad; juga dalam front peperangan psikologi tanpa henti, dengan menebarkan kebingungan di barisan musuh dan menanamkan teror di hati mereka. Apa yang mereka lakukan setaraf/sepadan dengan yagn telah dilakukan segenap Ikhwan Mujahidin di front pertempuran.
Kami telah menyaksikan –Segala Puji bagi Allah, semakin luasnya kemampuan mimbar-mimbar media jihadi. Kami dapat mengukur tingkat pengaruhnya dengan mengevaluasi bagaimana musuh menghadapi mereka; musuh berusaha dengan seluruh sumber daya yang mereka mampu untuk menghentikan segenap media jihadi ini, memotong komunikasi mereka dengan massa dari Ummah dan rakyatnya.
Terkait peran mimbar media Jihadi dan forum-forumnya, perkenankan aku menyampaikan nasihat, (pertama) kepada Para Administratornya:
Pertama: Agar kalian meneruskan kerja kalian dengan dedikasi penuh dan keteguhan baja. Jadikan seluruh manusia tahu dan memahami, bahwa kesatuan media jihadi adalah salah satu batalion dari batalion-batalion Jihad, kesatuan tentara dari kumpulan tentara yang sama, salah satu muka dari satu koin Jihad yang sama. Amal yang kalian lakukan sepadan dengan pertempuran yang dikobarkan di garis depan, karena front terdepan peperangan dengan front media jihadi adalah dua sisi dari koin uang yang sama.
Kedua: Kalian harus selalu mengembangkan metode kerja kalian, dan (tak kalah penting) bagaimana materi-materi media Jihadi dapat tersebar luas dan terdistribusi; di sisi lain meningkatkan keamanan dan metode perlindungan, sehingga kalian dapat meneruskan kerja-kerja kalian, dan pada saat yang sama melindungi serta mengamankan rahasia segenap ‘member’ dan penulis dari intaian thowaghit. Sungguh, nilai dan arti penting mereka terhadap proyek jihadi tidak kalah dengan para prajurit di medan tempur.
Ketiga: Lipatgandakan dan konsolidasikan koordinasi dengan segenap mimbar Jihadi dan website yang ada, dengan tujuannya untuk saling berbagi pengalaman; bekerjasama dalam bidang yang ada dan keahlian untuk melayani Jihad dan Mujahidin. Sehingga tidak ada masa kosong terjadi. Jika satu mimbar (karena suatu hal) absen, maka yang lain melanjutkan aktifitasnya sehingga Mujahidin tidak terputus berkomunikasi dengan seluruh pendukungnya.
Keempat: Kalian harus mengokohkan hubungan dengan Mujahidin, meningkatkan berbagai saluran komunikasi yang mungkin; berkomunikasi dengan mereka dan menjaga keamanan dan kerahasiaan. Sehingga dapat segera mempublikasikan berbagai hal dari Mujahidin, atau segera mengingatkan Mujahidin tentang berbagai perkembangan terkait masa depan Jihad. Tidak lupa, segenap mimbar dan forum Jihadi ini harus melindungi dan menjaga sebaik-baiknya informasi tentang ‘member’ mereka. Jangan lupa, kekuatan dan ketahanan mereka terletak pada keamanan; dan motivasilah seluruh ‘member’ untuk meningkatkan kreatifitas, dan produktifitas yang bermanfaat bagi kebangkitan Jihad ini.
Aku memohon kepada Allah, agar melindungi segenap ikhwah kita yang berkhidmat mengelola mimbar dan website Jihadi kita; semoga Allah melimpahkan kepada kalian lebih banyak keshabaran, kebijaksanaan, dan keteguhan, dan agar Allah melimpahkan kepada kalian pahala yang sempurna seperti yang diterima Mujahidin, dan agar Allah melimpahkan kepada kita (kami dan kalian) rizqi terbaik, syahid fi sabilillah.
Sebelum melanjutkan, aku ingin menyampaikan kepada segenap musuh Allah yang mendengki, dengan kekuatan Allah Azza wa Jalla, konspirasi mereka akan kita patahkan, dan agen-agen mereka dapat tersingkap dan sebagian dapat kita bunuh.
Menguatkan Hal Positif dan Menghindari Hal Negatif
Aku meyakini bahwa media jihadi memiliki banyak sisi positif. Cukuplah untuk dikatakan bahwa salah satu hasil nyata mereka adalah kesuksesan memecahkan pengepungan besar yang mengikat Ummah kita, serta menghancurkan belitan jerat gurita media mereka terhadap Ummah kita. Media kita mampu menyampaikan kebenaran kepada putra-putra ummah, dan mengungkapkan tipu daya musuh; menyingkap rencana mereka dan kelemahan mereka; serta kekesalan dan kekalahan mereka dalam medan perang ketika menghadapi Mujahidin.
Ini adalah amanah besar, dan asset yang berharga bagi amal Jihadi dan Mujahidin. Belum lagi peran yang lain yaitu dalam rangka mengagitasi (mentahridl) Ummah, sehingga prajurit-prajurit baru bergabung dalam barisan Mujahidin, serta menghimpun berbagai sumber daya yang dibutuhkan demi menolong Jihad, serta amal-amal penting lainnya.
Aku tidak melihat sisi negatif dari media jihadi, dalam kenyataannya dan mempertimbangkan kondisi penuh tantangan yang dialami ummah dalam menghadapi penyerbuan Perang Salib yang seperti air bah ini. Sesungguhnya, aku melihat ada beberapa kendala, halangan, serta rintangan yang harus diatasi dan disingkirkan agar media jihadi kita dapat membawa manfaat yang lebih besar lagi.
Di antaranya:
1. Kader media dan kapabilitasnya harus dilipatgandakan di barisan Mujahidin, agar perimbangan kekuatan akan semakin memihak Mujahidin dalam bidang media, dan berbagai upaya harus dilakukan untuk menguasai teknologi yang lebih baik, dan agar dapat menciptakan pengaruh psikologis yang lebih kuat, baik kepada para pendukung maupun pada pihak lawan.
2. Para pendukung dan putra-putra Ummah harus bermurah hati untuk menyediakan pendanaan yang memadai untuk menutupi kebutuhan dan biaya media Jihadi. Kita mengetahui, agar mampu mengimbangi media musuh, segenap media Jihadi kita memerlukan teknologi yang lebih maju untuk semakin mengembangkan dirinya, sehingga media kita mampu mengatasi berbagai halangan yang dipasang musuh untuk menyampaikan secara utuh dan sempurna berbagai gambaran tentang agenda kita dan hasil peperangan antara kita dengan musuh.
3. Terkait perkembangan terus menerus, aku meyakini bahwa para pendukung dan para ahli (spesialis) harus mengeksploitasi organisasi-organisasi yang dimiliki musuh tersebut begitu juga agensi-agensi independen untuk mempelajari teknologi dan program yang ada di sana. Hal tersebut dimaksudkan sebagai antisipasi jika pada suatu saat (insya Allah) Mujahidin akan memiliki organisasi media swasta sendiri yang independen.
4. Front media adalah front independen yang memiliki nilai tidak kalah penting dari front pertempuran. Aku, meyakini urgensi yang makin besar agar manajemen media jihadi sejalan dengan corak kepemimpinan Jihad. Karena itu koordinasi dan kerjasama yang terorganisir di antara organisasi media jihadi adalah salah satu hal sangat penting untuk segera harus dibangun, juga untuk mengantisipasi dibentuknya satu kepemimpinan yang perannya adalah mengkoordinasikan dan membagi tugas dan spesialisasi di antara berbagai grup media tersebut.
(Seperti forum Syura Mujahidin yang menghimpun berbagai komandan Jihad, lalu syura tersebut menunjuk seorang amir sebagai pimpinan tertinggi yang menyatukan seluruh front dan kesatuan tentara. Maka segenap media jihadi diminta – diperintahkan untuk membangun model koordinasi, syura, dan satu kepemimpinan bersama seperti itu. Pent)
5. Mujahidin – lewat segenap pendukungnya, harus berjuang untuk dapat memiliki chanel video milik sendiri yang berperan untuk menjangkau massa yang lebih luas. Salah satu program terpentingnya adalah menyiarkan laporan berita dan berbagai operasi yang dilancarkan Mujahidin, sehingga dapat menyampaikan realitas nyata dari medan pertempuran kita menghadapi musuh. Sebagai tambahan, chanel video ini juga dapat menyiarkan wawancara dengan segenap pimpinan Jihad dan orang-orang berpengaruh dalam Jihad terkait program-program yang benar yang harus diikuti oleh segenap pemuda dari Ummah ini, bahkan da’wah kepada musuh dan non muslim. (kami telah menyaksikan dan mengetahui banyak Ikhwah kita, yang dulu awalnya berada di pihak musuh, lalu mereka menerima Islam, menjadi hamba Allah yang jujur, dan menjadi prajurit yang bahkan menimpakan kehancuran yang besar terhadap musuh. Kisah para tahanan Guantanamo adalah salah satu contoh yang baik). Aku berpikir target ini akan dapat dicapai lebih cepat dari yang dibayangkan oleh siapa saja, dan para saudara kita prajurit media Jihad akan mencurahkan usahanya yang terbaik untuk merealisasikan tujuan ini. Mereka adalah orang-orang yang sangat inovatif dan tekun, yang akan membuat musuh mereka takjub melebihi teman-teman mereka.
Aku berdoa kepada Allah agar Dia melimpahkan kesuksesan atas segala hal yang Dia cintai dan Dia ridlai, agar Allah mengokohkan kekuatan Jihad dan Mujahidin, dan menyebarkan teror di hati musuh agama ini.
Terkait beberapa hal yang mungkin bisa menjadi alasan kesuksesan majalah Jihadi dan publikasinya, aku ingin mengatakan, dengan taufiq Allah:
Kita semua mengetahui bahwa pada fase terdahulu semenjak awal masa dari seruan (Jihad) penuh berkah ini, kita menghadapi hambatan dan pengepungan yang ketat atas para ikhwah yang bekerja di bidang tersebut. Sebagai tambahan, sangat sedikit yang memiliki sumber daya yang memadai, dan sangat jarang. Betapa sulit kita menemukan orang yang mau untuk berkhidmat (memberikan sumber daya yang ia miliki, mulai dari dana hingga kemampuan) di jalan Allah, dan demi menepati faridlatul ghaibah, kewajiban yang telah hilang dari ummat Muslim kita dan mereka telah menjadi asing terhadapnya. Bahkan Jihad telah menjadi gambaran menakutkan di hati mereka disebabkan konsekuensi yang harus dihadapi oleh mereka yang mendukungnya.
Para perintis di bidang da’wah dan Jihad sangat sedikit, dan mereka yang menekuni bidang media bahkan lebih sedikit lagi, sementara mereka yang telah terjun merintis harus memanggul berbagai amanah berat dalam saat yang bersamaan. Maka menjadi kewajiban kita, khususnya para perintis media Jihad, dan merupakan prioritas khusus dalam agenda kerja mereka, untuk menutup celah kevakuman di bidang media. Juga yang menjadi perhatian adalah kelangkaan para spesialis yang menguasai keahlian tertentu di bidang media dan ketiadaan orang yang mau mengkhidmatkan dirinya di bidang media ini, khususnya kalangan mahasiswa.
Majalah dan publikasi memulai langkahnya dengan penuh semangat dan tekad tetapi tak terlalu lama semangat tersebut memudar dan padam; atau menghilang karena disebabkan kelangkaan sumber daya dan adanya kerja yang lain yang lebih urgen. Dengan berbagai tekanan yang harus dihadapi; khususnya masalah keamanan, segenap ikhwah tersebut dipaksa untuk mengorbankan kerja mereka (di bidang media, majalah, dan publikasi), karena kekhawatiran kerahasiaan serta berbagai urusan penting mereka akan tercium musuh, yang selanjutnya bisa membahayakan keseluruhan amal Jihadi yang tengah diperjuangkan.
Tetapi sekarang, aku meyakini keadaan telah berubah lebih baik, dan banyak gerakan jihadi telah memiliki basis yang stabil dan aman, segala puji bagi Allah, sehingga mereka mampu untuk mengendalikan program untuk mengembangkan para anggotanya. Lebih lanjut, sumber daya dan dukungan teknis semakin tersedia lebih mudah. Para pemuda dapat berinovasi di bidang media, dan gerakan Jihad dapat mengkhususkan beberapa kadernya untuk menekuni bidang ini, sehingga mereka dapat berkhidmat dengan baik dan kontinyu hingga mampu mengembangkan kerja-kerja bidang media secara kreatif, dan mampu melebihi media yang dimiliki musuh.
Lebih jauh, Mujahidin telah mampu menegakkan Imarah Islam yang independen dan berdaulat, seperti di Afghanistan, Chechnya, Iraq, Somalia, dan beberapa imarah lebih kecil yang tersebar di Maghrib Islami, Pakistan, dan Turkistan Timur. Di area-area tersebut, Mujahidin telah memiliki organisasi media yang aman dan dapat diandalkan, walhamdulillah. Dan segenap Ikhwah dari kementerian informasi atau komite media dapat mengungguli dalam hal kreativitas dan menformat program yang tepat untuk hal tersebut.
Kami sebutkan beberapa contoh, khususnya; Yayasan As Sahab, Yayasan Al Furqan, Al Fajr, The Global Islamic Media Front, Yayasan Al Ansar, Al Mas’ada, Al Malahim, Al Somood, Al Ansar Mailing Group, Al Yaqeen Centre, batalion Al Somood, Yayasan Al Andalus, dan berbagai media jihadi lainnya.
Kami juga secara khusus menyebutkan berbagai forum jihadi, dipimpin oleh Asy Syumukh Network, At Tahadi, Ansar Mujahideen, dan lain-lain, yang menjadi mimbar utama (primary backbones) untuk menyuarakan berbagai hal dari segenap yayasan dan kantor resmi media jihad yang kami sebutkan di atas.
Kesemuanya tumbuh untuk mendukung program Salafiyah Jihadiyah, untuk mempublikasikan berbagai berita tentang Mujahidin; dan melayani peran sebagai penghubung antara massa dari Ummah dan berbagai jamaah Jihad yang mengikuti perintah Allah.
Setiap hari kami menyaksikan tumbuh dan berkembangnya, atau lahirnya kembali berbagai mimbar dan media jihadi, aku berdoa kepada Allah agar semakin menambah mereka; dan menunjuki mereka di bawah ri’ayahNya agar mereka mampu merilis seluruh potensi mereka dalam media jihadi berkelanjutan dan istimewa ini, sejalan dengan perkembangan Jihad di seluruh front.
Di antara hal penting untuk menjamin keberlangsungan kreativitas ini adalah keamanan dan ketersediaan sumber daya. Aku juga meyakini kedua kondisi tersebut juga tersedia di wilayah yang telah aku sebutkan di atas. Goresan kreativitas masih dan akan terus berjalan, dan di hari-hari yang akan datang kita akan menyaksikan banyak kejutan yang akan membuat kagum teman maupun musuh, walhamdulillahi Rabbil Alamin.
Perlunya Para Ulama dan Ahlul Ilmi untuk Berpartisipasi dalam Kerja Media
Ilmu dan amal adalah dua sisi dari mata uang yang satu. Bahkan, ilmu mendahului amal, sebagaimana kita semua memahaminya dalam agama kita, Ikhwah fillah. Berdasarkan hal tersebut, dalam berbagai spesialisasi, janganlah mengabaikan bidang syariah. Inilah yang menjadi cahaya penerang yang akan menuntun mereka ke arah pengetahuan, kepahaman, dan kreatifitas. Mereka yang bekerja tanpa ilmu, seperti seorang pengendara yang berjalan di jalan gelap tanpa cahaya, maka bagaimana ia akan menentukan arah?
Maka aku tegaskan, kepada segenap Ikhwah yang tengah menuntut ilmu agar mereka jangan membatasi diri dengan kegiatan studi akademik saja, tetapi hendaknya kalian ikut memberikan pelayanan dan bantuan kepada segenap Ikhwah yang tengah berkhidmat di berbagai bidang; di antaranya adalah bidang media, yang telah terbukti menjadi salah satu senjata efektif untuk menghadapi musuh.
Amal media selalu terkait dengan amal da’wah, menyebarkan kalimatul haq, dan meluruskan pemahaman syariah ummat. Kalian (para ahlul ilmi) tak akan dapat merealisasikan amal da’wah ini, tanpa bantuan ikhwah kita di bidang media.
Pada saat yang sama, aku mengarahkan nasehat ini langsung kepada segenap saudaraku yang saat ini memegang amanah di bidang media, hendaknya kalian memanfaatkan waktu kalian yang berharga untuk menuntut ilmu-ilmu Syariah, agar dapat lebih tajam dalam mengemban urusan kalian dan agar dapat memainkan peran yang lebih penting dalam amanah media jihad ini, insya Allah.
Kondisi perang yang kita hadapi semakin rumit dan kompleks. Kecil kemungkinan seseorang yang hanya menguasai satu spesialisasi akan menjadi pionir atau contoh dalam bidangnya. Kita membutuhkan para pemimpin dan pengarah yang kreatif di segala bidang. Pengetahuan Syariah adalah syarat mutlak (yang tak dapat diberi dispensasi/keringanan), jika tidak maka ideologi lain akan mengalahkan kita dan mempengaruhi kita.
Media Jihadi Harus Memperhatikan Kondisi dan Realitas Sekitarnya
Tak diragukan, kebijakan media harus memperhatikan kondisi realistis yang ada di sekitarnya dan keberadaan media harus menegaskan posisi kebijakannya dalam menghadapi kondisi tersebut. Tak ada hal lain yang dapat kami tegaskan!
Yayasan Al Furqan, sebagai contoh, mengkhususkan perhatian untuk mendistribusikan kebijakan resmi dan pendirian publik dari Daulah Islam Iraq. Sebagaimana kita ketahui, Daulah Islam menghadapi berbagai front peperangan. Ia harus menghadapi tentara Salib penjajah (Amerika dan seluruh sekutunya), tentara murtaddin (penguasa Rafidlah – Syiah, dan sekutunya di pemerintahan boneka Iraq), tentara kaum Munafiqin (Dewan Kebangkitan dan antek-anteknya), serta berbagai grup/jamaah yang mengklaim Jihad sebagai slogannya (mis: Al Jihad Sabiluna. Pent) dan klaim bahwa mereka ikut serta memerangi penjajah Salib.
Daulah Islam (yang tegak di Bumi Rofidain) tersebut harus bekerja dalam dua front secara simultan: front militer, yang diwakili dengan menahan dan mengusir kaum durjana melalui kekuatan senjata (bi saifi yanshur: bersama pedang yang membuka kemenangan) yang dapat kita saksikan dari berbagai (dokumentasi) operasi Jihadi yang dilancarkan berbagai kelompok dan jamaah, dan front Da’wah melalui kekuatan Hujjah kebenaran (bi kitabi yahdi: bersama Kitab yang memberikan petunjuk) yang dilaksanakan oleh yayasan media jihadi untuk menyampaikan Kalimatul Haq kepada seluruh masyarakat umumnya, dan khususnya kepada berbagai faksi yang tengah berperang,yang mungkin dengan da’wah dan hujjah, mereka akan bertaubat, kembali kepada kebenaran dan menjadi pendukungnya. Ini terjadi sebelum faksi-faksi tersebut memisahkan diri. Tetapi setelah pemisahan terjadi, dan telah jelas posisi dan pendirian masing-masing faksi tersebut terhadap perjuangan yang tengah berlangsung, maka menjadi jelas bagi Daulah Islam bahwa memang tidak mungkin dapat diharapkan percaya/beriman kecuali orang-orang yang telah percaya/beriman. Maka Daulah Islam kemudian mengalihkan upayanya menjadi berusaha mengungkapkan kebenaran; agar nyata jalan yang ditempuh kaum mujrimin (orang yang berbuat dosa); untuk mengajarkan kepada Ummah realitas dari berbagai faksi tersebut, sehingga mereka (ummah) dapat mengambil posisi yang sesuai dalam perjuangan yang berjalan. Hal ini benar-benar terjadi pada jamaah-jamaah tersebut yang mengklaim bahwa mereka melaksanakan Jihad dan Daulah Islam telah menyambut mereka; memuliakan mereka dan memberi mereka kesempatan menduduki beberapa posisi berpengaruh dan kedudukan terhormat. Tetapi mereka, ternyata terus saja memaksakan pemisahan (maksudnya mereka memaksa dan merasa berhak ikut memimpin Daulah Islam sehingga meminta ‘jatah pembagian kekuasaan’. Pent) dan menebarkan perselisihan, padahal mereka tahu bahwa Daulah Islam telah memiliki, baik hak dan kekuatan, yang membuatnya layak dan mampu memproklamasikan berdirinya Daulah yang memadai (di seluruh seginya) untuk menerapkan Syariah Ar Rahman dan menggulirkan peperangan untuk menghadapi syariah Syaithon. Iri hati mereka berubah menjadi kedengkian, lalu kebencian, ketika mereka menyaksikan kemampuan Daulah yang diberkati ini dan bagaimana para kabilah dan Muhajirin berhimpun di bawah panjinya, menjadi pendukungnya, sehingga bertambah jumlah warga negaranya.
Sementara para saudara kita di Bumi Maghrib Islami, sebagai contoh yang lain, situasi mereka jelas berbeda dengan yang dihadapi di Iraq. Saudara kita di sana menghadapi musuh yang mewakili kekuatan rejim murtaddin di bawah kepemimpinan kelompok jenderal sekular yang menjadi kepanjangan tangan rejim Salib –Perancis. Mereka didukung kawanan besar jurnalis dan intelektual yang melancarkan perang media untuk merusak citra Mujahidin dan memburukkan tujuan Jihad mereka. Maka harus ada respon untuk menghadapi fitnah konspirasi hebat ini; untuk mengekspos kenyataan rejim yang buruk menindas ini; mengungkapkan kebohongan mereka; dan berusaha menjangkau dukungan hati dan qolbu kaum Muslimin.

Penutup
Aku berdoa kepada Allah, agar Dia menjadikan hati kita tunduk menghambakan diri kepadaNya, dan menjadikan kita teguh di atas DinNya; dan menggunakan kita untuk memenangkan agamaNya dan menolong para pemelukNya. Aku berdoa agar Allah membukakan jalan bagi kita untuk dapat bertemu (bertatap muka), dan agar Allah ridla terhadap kita, dan membuat kita mampu untuk memuliakan orang-orang yang taat dan menghinakan orang-orang yang kufur. Dan segala puji bagi Allah, Raja alam semesta.

Oleh : Syaikh Abu Saad Al Amili
Source: http://arrahmah.com/read/2011/03/16/11385-realitas-dan-peran-media-jihadi.html#ixzz1I2aoSNnx

~

Metode Terbaik dalam Dakwah

Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan:
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Ada dua surat yang menanyakan tentang metode terbaik untuk berdakwah (mengajak manusia ke jalan Allah ) dan tentang metode terbaik untuk amar ma'ruf nahi mungkar. Disebutkan oleh para penulis surat tersebut, bahwa mereka mendapatkan banyak kesalahan di kalangan kaum muslimin, mereka merasa iba terhadap kondisi tersebut sehingga mendambakan sesuatu untuk merubah kemungkaran tersebut. Karena itu, mereka mohon pengarahan.

Jawaban:
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan metode dakwah dan hal-hal yang harus dimiliki oleh seorang dai, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Katakanlah, Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata'." [Yusuf : 108].

Jadi, seorang dai harus mengetahui (baca: menguasai) apa-apa yang diserukannya dan apa-apa yang dilarangnya sehingga tidak berbicara atas nama Allah tanpa berdasarkan ilmu. Di samping itu, ia pun harus ikhlas karena Allah dalam berdakwah, bukan untuk mengajak kepada suatu madzhab dan bukan pula kepada pendapat si fulan atau fulan, akan tetapi mengajak kepada Allah untuk mendapatkan pahala dan ampunanNya serta mengharapkan baiknya manusia. Karena itu, harus dilandasi dengan keikhlasan dan berdasarkan ilmu yang mapan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik."[An-Nahl: 125].

Ayat ini menerangkan tentang metode berdakwah, yaitu dengan hikmah, yakni harus dengan ilmu. Allah dan RasulNya menyebut ilmu itu dengan sebutan hikmah, karena ilmu itu menyangkal kebatilan dan membantu manusia untuk mengikuti yang haq. Bersama ilmu itu harus pula disertai pelajaran (wejangan) yang baik dan bantahan yang lebih baik saat diperlukan, karena sebagian orang cukup dengan penjelasan al-haq, maka tatkala kebenaran (al-haq) itu tampak baginya, ia langsung menerimanya. Dalam kondisi begitu, tidak perlu lagi wejangan. Namun sebagian orang ada yang polos (tidak bereaksi) dan ada yang keras sehingga perlu nasehat (wejangan) yang baik. Maka seorang dai, harus memberikan wejangan dan mengingatkan kepada Allah saat itu dibutuhkan. Ini untuk kondisi yang berhadapan dengan orang-orang jahil dan orang-orang lengah serta orang-orang yang suka bersikap menggampangkan (menganggap remeh), untuk orang-orang semacam itu perlu diberikan wejangan agar mereka terbuka dan puas serta menerima kebenaran. Ada pula orang yang telah diliputi keraguan, untuk yang semacam ini perlu didebat (dibantah) dengan tujuan untuk membongkar keraguan tersebut. Maka sang dai dalam menghadapi situasi seperti ini perlu menerangkan kebenaran disertai dalil-dalilnya serta membantah keraguan tersebut dengan cara yang lebih baik, hal ini tidak menghilangkan keraguan tersebut dengan dalil-dalil syari'at. Perlu diingat, bahwa dalam hal ini harus dengan perkataan yang baik, tutur kata yang halus dan lembut, tidak kasar dan tidak keras agar orang yang didakwahinya tidak antipati terhadap al-haq dan tetap bertahan pada kebatilannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." [Ali Imran: 159]

Ketika Allah memerintahkan Musa dan Harun untuk menemui Fir'aun, Allah berfirman.

"Artinya : Maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut." [Thaha: 44].

Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya, tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu kecuali ia akan membaguskannya, dan tidaklah (kelembutan) itu tercabut dari sesuatu, kecuali akan memburukkannya."[1]

Dalam hadits lain beliau bersabda.

"Artinya : Barangsiapa yang tidak terdapat kelembutan padanya, maka tidak ada kebaikan padanya."[2]

Dari itu, seorang dai hendaknya memelihara al-haq, bersikap lembut terhadap mad'u (orang yang didakwahinya), berusaha untuk senantiasa ikhlas karena Allah dan mengatasi berbagai perkara dengan cara yang telah digariskan oleh Allah, yaitu ber-dakwah dengan hikmah (ilmu), nasehat/wejangan yang baik dan bantahan yang lebih baik. Semua ini harus berdasarkan ilmu sehingga sasarannya merasa puas untuk menerima al-haq dan agar menghilangkan keraguan dari orang yang telah diliputi keraguan serta agar hati orang yang keras dan membatu pun menjadi luluh, karena hati manusia itu bisa luluh dengan seruan dakwah, wejangan yang baik dan penjelasan tentang kebaikan di sisi Allah bagi yang mau menerima al-haq serta tentang bahaya besar bagi yang menolak al-haq setelah al-haq itu datang menghampirinya, dan nasehat-nasehat hal yang senada.

Kemudian tentang mereka yang melaksanakan amar ma'ruf nahi mungkar, hendaknya berperilaku dengan adab-adab yang syar'i, ikhlas karena Allah dalam beraktifitas, berakhlaq dengan akhlaq para dai, yaitu lembut dan tidak kasar kecuali jika itu memang diperlukan, misalnya saat menghadapi kezhaliman, kesombongan dan penentangan, maka saat itu perlu menggunakan kekuatan, sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zhalim di antara mereka." [Al-Ankabut: 46]

Dan sabda Nabi Shallalahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan lisannya, dan jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman."[3]

Adapun untuk selain mereka, dalam rangka menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar, hendaknya menggunakan metode para dai, yaitu mengingkari kemungkaran dengan halus dan disertai hikmah, mengungkapkan hujjahnya agar pelaku kemungkaran bisa menerima al-haq dan menghentikan kebatilannya. Ini pun dilakukan sesuai kesanggupan, sebagaimana firman Allah.

"Artinya : Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu." [At-Taghabun: 16]

Dan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran."

Ayat yang menghimpun itu terdapat pada firmanNya.

"Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar." [At-Taubah: 71]

Dan ayat.

"Artinya : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." [Ali Imran: 110]

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengancam dan melaknat orang-orang yang tidak menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar melalui lisan Dawud dan Isa bin Maryam, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ma'idah,

"Artinya : Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan 'Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu."[Al-Ma'idah: 78-79]

Jadi, perkara ini sangat agung dan tanggung jawabnya pun besar, maka wajib atas ahli iman, para penguasa, ulama dan kaum muslimin lainnya yang memiliki kemampuan, kesanggupan dan ilmu, untuk mencegah kemungkaran dan mengajak kepada kebaikan. Kewajiban ini bukan untuk suatu golongan saja, walaupun memang ada golongan yang lebih wajib dan lebih bertanggung jawab, tapi keberadaan golongan tersebut tidak begitu saja menggugurkan kewajiban ini dari yang lainnya, bahkan golongan lain itu wajib membantu golongan tersebut agar tercipta kondisi yang saling mendukung dalam rangka mencegah kemungkaran dan mengajak kepada kebaikan, sehingga kebaikan semakin marak, sementara keburukan semakin berkurang. Lebih-lebih lagi jika golongan tersebut (yang paling bertanggung jawab) tidak mampu melaksanakan dengan sempurna dan belum mencapai maksud yang diharapkan, kendati wejangan dan ajakan telah banyak di-sampaikan, namun keburukan tetap bertebaran, maka wajib bagi yang mampu untuk ikut membantu.

Jika golongan tersebut telah melaksanakannya, maka kewajiban ini telah gugur dari golongan lainnya di tempat tersebut atau di negeri tersebut, karena amar ma'ruf nahi mungkar itu hukumnya fardhu kifayah. Jika orang-orang yang bertugas atau orang-orang shalih telah melaksanakannya untuk menghilangkan kemungkaran dan mengajak kepada kebaikan, maka bagi golongan lainnya hukumnya sunnah. Adapun kemungkaran yang tidak dapat dihilangkan oleh orang yang selain anda, umpamanya, karena anda berada di desa tersebut atau kabilah atau perkampungan tersebut, dan di sana tidak ada orang yang mengajak kepada kebaikan, maka anda harus menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar selama anda mengetahuinya, karena anda bisa mencegahnya, maka hukumnya wajib atas anda. Jika ada orang lain bersama anda, maka hukumnya menjadi fardhu kifayah. Jika salah seorang dari anda telah melaksanakan, maka tercapailah maksudnya. Tapi jika anda semua tidak melaksanakannya, maka anda semuanya berdosa.

Kesimpulannya, bahwa hukumnya adalah fardhu kifayah, jika telah ada yang melaksanakan dari antara masyarakat atau kabilahnya dan mencapai tujuannya, maka kewajiban ini gugur dari yang lainnya (dalam masyarakat tersebut).

Demikian juga dakwah, jika semua meninggalkannya, maka semuanya berdosa. Tapi jika telah ada orang yang mapan dalam berdakwah, memberi wejangan dan mencegah kemungkaran, maka bagi yang lainnya sunnah saja, karena ini merupakan kerjasama dalam kebaikan dan saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

[Majmu' fatawa Syaikh Ibnu Baz, juz 4, hal. 24O]


[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul Haq]
_________
Foote Note
[1]. HR. Muslim dalam Al-Birr wash Shilah (2594).
[2]. HR. Muslim dalam Al-Birr wash Shilah (2592).
[3]. Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya, kitab Al-lman (49).

Sumber: Al Manhaj

~

Masa Depan Pergerakan Islam di Indonesia

Disampaikan dalam Mudzakarah Ilmiah di Masjid Fathullah Syarif Hidayatullah UIN Jakarta, 19-Desember-2010
Oleh: Dr.H. AMIR MAHMUD, S.Sos., M.Ag.(Pengamat Pergerakan  Islam,  Dosen Pasca Sarjana UNU, UMS dan beberapa Perguruan Tinggi Swasta)
I. PENDAHULUAN

Between Napolleons’s Egyptian Expedition of 1798 and the death of Lord Cromer in 1907, The core regions of the household of Islam came under either direct European control or indirect mandatory super vision.
  (Semenjak ekspedisi Napoleon ke Mesir tahun 1778 sampai kematian Lord Cromer tahun 1907, wilayah yang menjadi inti Darul Islam secara langsung berada di bawah kontrol kekuasaan Eropa, dan di bawah supervisi global secara langsung)

Kita sedang menghasilkan dan sekaligus terlibat dalam revolusi global umat manusia, keadaan yang mencolok adalah tatkala gaung globalisasi itu hadir di negara-negara muslim seperti Afghanistan tak dapat merubah kultur ataupun perubahan-perubahan di aspek lain. Maka dengan mudah negara hegemoni yang dipimpin oleh Amerika membuat isu teroris untuk kepentingan berkampanye ke negara sekutunya untuk memerangi teroris yang menghasilkan peralihan kekuasaan dari Taliban kepada kekuasaan boneka Amerika. Hingga kini isu tersebut berlanjut kepada umat Islam di Asia Tenggara khususnya Indonesia.
Dari keterangan di atas sesungguhnya ada hal yang harus direnungkan sebagai evaluasi, sebab peristiwa-peristiwa yang terjadi terhadap umat Islam  merupakan rencana (makar) yang telah direncanakan oleh musuh-musuh Islam internasional sejak beberapa tahun yang silam, sehingga Islam tidak dapat hadir menjadi kekuatan internasional (international forces) yang dapat menghantui dan menghancurkan negara adikuasa seperti Amerika.

 II. DUNIA ISLAM  DEWASA INI

Tidak diragukan lagi tersebarnya Islam merupakan ancaman bagi pengaruh dunia Kristen dan Yahudi. Bahkan orang-orang Islam sempat mendongkel penguasa-penguasanya di beberapa tempat dan wilayah satu per satu.

Daerah mereka jatuh ke tangan Islam, hingga ibu kotanya Konstantinopel yang merupakan benteng terkuat di dunia saat ini jatuh pula ke tangan penakluk muslim dari kerajaan Bani Utsmaniyah.
Dapat dicatat di sini diantaranya dunia Islam antara lain Maroko, Tunisia, Libya, Mesir, Afghanistan, Saudi Arabia, Malaysia, Filipina, Indonesia, dan lain-lain. Oleh karena potensi kekayaan yang ada dalamnya, maka dunia Islam semenjak berabad-abad dijajah oleh bangsa asing, yang berideologi dan beragama lain. setelah Perang Dunia II, satu demi satu negeri-negeri Islam melepaskan diri dari belenggu penjajahan menjadi negeri yang merdeka dan mempunyai pemerintahan sendiri.
Istilah dunia Islam muncul baru seabad yang lalu dan dikategorikan sebagai kelompok kekuatan Dunia ke-3 atau negara terbelakang. Mereka sejak mendapatkan kemerdekaannya dari para penjajah dipenuhi dengan tarik-menarik oleh berbagai ideologi untuk membentuk pemerintahan masing-masing.

Sejumlah besar umat Islam menderita akibat dominasi musuh Islam, Palestina diduduki Israel sedang penduduk asli muslim diusir mereka dari tanah airnya, muslim Turki di Cyprus tidak diberi tempat hidup oleh umat Kristen Orthodoxm dan di Jerman ditindas. Umat Islam di Filipina bagian selatan sejak lama mendapat tekanan dan penindasan dari penguasa yagn beragama Katholik, umat Islam di Arabia Selatan berkorban selama perang saudara. Barat telah melakukan segalanya untuk menyatukan kekuatan yang berawal dengan British Commonwealth, NATO, USA dan terakhir kesatuan Eropa Barat.

 III. ISLAM INDONESIA DALAM SOROTAN SOSISO-SEJARAH

Sejalan dengan proses penyebaran Islam di Indonesia, pendidikan Islam sudah mulai tumbuh meskipun masih bersifat individual. Pengembangan dakwah Islam yang dipelopori oleh pemuka-pemuka, tokoh-tokoh di masyarakat secara persuasif tersebut dengan memanfaatkan lembaga-lembaga masjid, langgar, surau. Maka terbentuklah lembaga khusus untuk pelaksanaan pendidikan bagi umat  Islam di Indonesia bernaam pesantren, yang diperkirakan pada abad ke-13 dan mencapai perkembangan yang optimal pada abad ke-18.

Walaupun didasarkan pada versi yang sangat disederhanakan atas suatu proses sejarah yang sebenarnya sangat kompleks, namun cukup alasan untuk menyimpulkan bahwa sejak akhir abad ke-15, Islam telah menggantikan Hinduisme dengan senjata utama bagi langkah-langkah dan kegiatan politik di Jawa, dan tak ayal lagi, munculnya dakwah sebagai kerajaan yang paling kuat pada waktu itu, menjadi panah yang ampuh bagi penyebaran Islam di Jawa

Selanjutnya sesuai dengan posisi elite santri dalam proses sosialisasi ajaran Islam melauli khutbah, ceramah agama dan pengajian-pengajian telah menempatkan mereka sebagai referensi sosial umat. Posisi tersebut memberikan peluang mereka untuk memobilisasi umat baik secara sosial dan politik. Proses ini pemerintah kolonial mengatur dan melakukan pengamatan yang ketat terhadap berbagai gerakan sosial Islam dimana elite santri bertindak sebagai pemimpin. Poses perubahan dalam masyarakat tsb kadang bisa ditandai oleh pertentangan yang terus menerus diantara unsur-unsur. Sejalan dengan itu tidak bisa dipungkiri bahwa anggota masyarakat itu kadang bisa terikat secara informal oleh norma-norma, nilai-nilai, dan moralitas umum, dan kadang bisa juga karena adanya tekanan atau pemaksaan kekuasaan dari atas oleh golongan yang berkuasa.
Secara historio-Kultural, Islam di Indonesia memiliki citra yang sangat positif, Islam datang dengan citra damai dan telah memberikan andil yang sangat besar dalam meningkatkan  peradaban nusantara, organisasi Islam (pergerakan sosial, seperti: politik, ekonomi, pendidikan) telah memainkan peranan penting dalam perlawanan terhadap kolonial sejak masa awal gerakan nasionalisme, namun akhirnya mereka harus menerima kenyataan atas peranannya kurang sentral dalam institusi pemerintahan dikemudian.

- Di abad ke-19 telah tercatat 4 perlawanan santri (santri insurection) melawan imperalis Belanda :

Pertama
: Di Sumatera Barat (1821 – 1828) – tidak dinamakan pemberontakan santri sebagai Perang Padri. Hanya disebutkan munculnya sejumlah pemberontakan santri di Sumatera Barat sebagai akibat Haji-haji yang menentang golongan adat Pemberontakan ini diakhiri setelah adanya invasi militer Belanda.
Kedua : Di Jawa Tengah (1826 – 1830) – tidak menyebut-nyebut nama Pangeran Diponegoro. Seorang pangeran yang merasa berhak atas tahta kerajaan Jawa tetapi dikarenakan dalam harapannya itu mempermaklumkan perang jihad secara besar-besaran melawan pemerintah kolonial dan orang-orang pribumi yagn menjadi kaki tangannya.

Ketiga: Di Jawa Barat Laut (1940 – 1880) Pemberontakan-pemberontakan rakyat yang di pelopori oleh ulama-ulama setempat telah memusnahkan hampir seluruh komunitas orang-orang Eropa dan bagian terbesar dari tokoh-tokoh pribumi yang bekerja sebagai pamong raja. sebagai response dari umat Islam Banten yang berusaha melepaskan dirinya dari tindasan tanam paksa dan pemberontakan santri ini terjadi pada tahun 1834, 1836, 1842 dan 1849.

Keempat
: Di Sumatera Utara (1873 – 1903) tokoh ulama Aceh yang masih terkenang akan kejayaan mereka di masa lampau, yang pada umumnya menganggap rendah semua orang asing berhasil memerangi Belanda selama 30 tahun.

Di tahun 1900 – 1952 bahkan jauh sebelum tahun tersebut telah berjalan gerakan sosial, da’wah, politik dan pendidikan dalam bentuk surau (pengajian) yang dari bibit inilah muncul berbagai ormas seperti :

- Terbentuknya Pengajian Surau Jembatan Besi Padang Panjang dibawah Asuhan Syaikh Abdullah, kemudian tumbuhlah Sumatera Thawalib Padang Panjang yang kemudian menjadi pusat pertumbuhan ulama dan zuama Islam di Indonesia.
- SDI (Serikan Dagang Islam) tanggal 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhudi, yang diubah namanya menjadi SI (Serikat Islam) pada tahun 1911,

- Muhammadiyah, tanggal 18 Nopember 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan.

- Al-Irsyad tahun 1914 oleh Syaikh Ahmad Surkasi al-Anshari,

- Mathla’ul Anwar tahun 1916 di Banten,

- Persis (Persatuan Islam) tahun 1923 oleh A. Hassan,

- NU tahun 1926 oleh Syaikh Hasyim Asy’arie

Dalam gerakan politik sebagai berikut :

- PSI (Partai Sarikat Islam) tahun 1923, - PEMI (Persatuan Muslimin Indonesia) di Sumatera, - MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) tahun 1937 sebagai wadah Federasi   Kumpulan Islam, - Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) tanggal 7 Nopember 1945 sebagai partai politik Islam di Indonesia, - PPP (Partai Persatuan Pembangunan) sebagai wadah fusi partai-partai: NU,  Parmusi, PSII tahun 1973, dll.
Pada masa awal kemerdekaan tahun 1945, para pemimpin Islam sendiri terpecah belah dalam perdebatan negara Islam. Sebagian menginginkannya, sebagian yang lain hanya menuntut pemerintah mendukung pelaksanaan syariat Islam atas pemeluk-pemeluknya saja, sedangkan yang lain lagi menyuarakan sebuah demokrasi plural dan liberal.

Perkembangan nasionalisme di negara-negara Islam atau yang berpenduduk mayoritas muslim berjalan bersamaan dengan gerakan modernisme Islam. Salah satu pembaruan dengan gerakan modernisme itu adalah  dibidang politik yang  di pelopori oleh Jamaludin Al-Afghani, yang terkenal dengan gerakan pan Islamisme. Semangat perlawanan berbasiskan kesadaran Islam yang dilakukan  oleh Afghani segera  mendapat sambutan di banyak negeri muslim. Afghani dan dua murid utamanya Rasyid ridha, dan muhammad Abduh, dengan segera menjadi icon bagi bagi semangat persatuan dan Pergerakan Islam. Meskipun tidak banyak perannya dalam kehidupan politik umat Islam di Indonesia, namun minimal khilafah masih merupakan kebutuhan. Wacana ke Islaman sebagai kekuatan penentang kolonialisme telah lama digunakan di wilayah nusantara. Resistensi dengan ideologi Jihad juga sangat berkembang di Indonesia sebagai cri khas gerakan sosial abad ke 19 dan ke 20, yang mendasarkan diri pada basis magis-keagamaan, yakni perang jihad. Beberapa contoh resistensi dalam skala yang terbatas antara lain, pemberontakan ciomas (1886), pemebrontakan Banten (1888).
IV. Ideologi Islam sebagai Perlawanan

Adapun faktor penyebab perubahan masyarakat itu bermacam-macam antara lain : ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi serta penggunaannya oleh masyarakat, Agama, juga perubahan harapan dan tuntutan manusia.  Dalam perwujudan perubahan sosial itu bisa berupa kemajuan ( progress ) ataupun kemunduran ( regress).
Pada Dunia ketiga yang umumnya memiliki pandangan keagamaan yang kuat, agama bukan semata ritual dan seremonial yang sakral, lebih dari itu menjadi kekuatan besar sekaligus spirit, sumber inspirasi dalam melawan penindasan. Dan ketika penindasan itu berlaku kepada kaum muslimin, segenap kaum muslimin seluruh dunia melihat dirinya telah berada di bawah telapak kaki Barat terhentak untuk membangun kesadaran akan ketertinggalan Islam berhadapan dengan Barat dan antek-anteknya., sebab itu tidaklah mengherankan  justeru Islamlah yang paling reaktif menentang dominasi Barat bahakan munculnya berbagai konsepsi peradaban, ideologis, sistem politik dan sebagainya. sebagai tandingan dan penentangan terhadap Barat yang membawa ideologi sekulerisme.

Dengan munculnya berbagai kekuatan Islam yang dimulai gerakan pemurnian ajaran Islam dengan gerakan wahabi sampai kepada gerakan penyatuan kesadaran politik kaum muslimin dengan Pan Islamismenya, Ikhwanul Muslimin, Jama’at Islam, Hizb Tahrir,  JAT ( dalam riset penulis) dan  masih ada sejumlah beberapa

Gerakan yang menjadi  kajian dan riset penulis di Indonesia, yang membuktikan bahwa masih adanya Gerakan Islam sebagai terobosan ijtihad telah mampu membakar kembali api semangat pembaruan para pemikir Islam  untuk merebut kebali harga diri umat ditengah percaturan dan konflik peradaban Timur dengan Barat.
a. Tuduhan Fundamentalisme

Fenomena agama sebagai kenyataan sosial sesungguhnya tidak pernah dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Wilayah kerja agama secara sosiologis, adalah kehidupan manusia konkrit-Historis dari sejak lahir sampai matinya. Dalam realitas agama mengandung wajah ganda ( double face ), disatu sisi agama memberi dorongan atas terwujudnya etos saling menghormati dan menghargai sesama manusia. Agama juga dicirikan sebagai pemersatu aspirasi manusia yang paling sublim .

Fundamentalisme Islam sering  dianggap sebagai ancaman besar bagi kehidupan seluruh umat manusia karena selalu dikaitkan kepada ‘radikalisme’, ‘ekstremisme’, dan lain sebagainya sehingga merupakan  wujud perlawanan bagi setiap yang berbeda Ideologi khususnya bagi negara Barat. Sedangkan menurut Sayyed Hussein Nasr, setidaknya ada empat tipe pemikiran Islam dimuka bumi ini, yaitu Muslim modern, Messianis, Fundamental ( revival ), dan tradisional, yang kesemuanya dalam panggung sejarah kemanusiaan Dapat dipastikan bahwa Ideologi sekuler seperti, Marxisme, Sosialisme, dan Kapitalisme, maupun ideologi lainnya yang tidak memiliki basis teologis mereka saling bersatu untuk melawan  gerakan-gerakan yang berlabelkan Islam untuk menegakan Syari’at Islam dimana saja berada.

Senada dengan itu  Ustadz Abu Bakar Ba’syir menolak dan mengkritisi klaim fundamentalis yang dituduhkan kepada umat Islam karena hal tersebut merupakan istilah dari Amerika yang memiliki ma’na mengkotori umat Islam, lanjut beliau jika saja fundamentalis itu diartikan kembali kepada ‘dasar’, ‘fundamen’ dengan pengertian adalah  seorang muslim yang menjalankan Al-Qur’an dan Hadist, maka hal tersebut bisa dimaklumi  namun demikian tentunya berbeda dengan pemahaman yang ada pada tradisi Protestan khususnya di Amerika  yang disertai menegakkan perlawanan tehadap Ilmu pengetahuan.   Para politisi dan praktisi Barat, Khususnya Amerika Serikat, suka meracunkan istilah Islam dengan menggenaralisasi sebagai kekuatan politik secara sempit. Islam  dipandang sebagai ideologi yang berbasis pada kekuatan agama. Wujud gerakan Islam fundamentalis yang kaku sering diartikan sebagai perwujudan masyarakat Islam secara keseluruhan, sehingga mendorong lahirnya banyak gagasan dari kalangan Barat yang berhaluan pragmatis untuk merekayasa penghancuran Islam sebagai kekuatan politik dan ideologi.
b. Gerakan Islam
Para pimpinan dan pemikir gerakan islam senantiasa “menengok” ke pusat dunia Islam, baik langsung maupun melalui Barat dan usaha mengalihbahasaan atau penyaduran karya ulama dan sarjana muslim dari luar guna memperkaya bahan rujukan yang dapat dibaca langsung dalam bahasa Indonesia, sehingga menghasilkan karya pemikirannya sendiri, seperti Munawar Khalil dengan bukunya Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, Kelengkapan Tarikh Muhamamd saw; Hasby Ash-Shiddiqy dengan bukunya Pedoman Shalat, Puasa, Zakat; Hamka dengan bukunya Tafsir Al-Azhar, Tasauf Modern.

Tahun 1980-an, usaha perkenalan buah pikiran para ulama dan sarjana muslim dari luar, khususnya dari Mesir seperti Sayid Quthb dengan karya Tafsir al-Qur’an Fii Dzilalil Qur’an; Abul hasan al-Hasany an-Nadwy dengan karyanya Mua dza khasiral ‘al alamu bin Nhithathil Muslimin. Hingga kini telah ribuan kitab dari luar telah diterjemahkan.

Gejala tersebut di atas memberi petunjuk kepada kita bahwa gerakan Islam Indonesia bukan saja ingin tetap menjaga dan menneruskan kesinambungannya dengan sejarah tapi juga ingin tetap melestarikan syariat Islam serta Islam yang dipadukan dengan analisis-analisis tentang perkembangan sosio-kultural masyarakat dan bahkan kritisme yang tajam terhadap barat berdasarkan madzhab empat yaitu Hambali, Maliki, Syafi’i dan Hanafi.

Secara keseluruhan sejarah umat Islam Indonesia mesti melacak gerakan mendasar atas lahirnya suatu peristiwa, terutama yang berkenaan dengan gerakan Islam kontemporer. Tahun-tahun pembentukan apa yang disebut sebagai Islam politik juga dengan kuat diletakkan pada konteks geografis Timur Tengah.

Untuk itu kedudukan agama dalam persfektif kehidupan manusia, secara perseorangan dan sosial memberikan pengaruh yang sangat besar dalam berbagai aspek. Secara sosiologis sekurang-kurangnya agama memiliki 3 fungsi sosial, yakni ;

a. Fungsi pemeliharaan ketertiban masyarakat
b. Fungsi pengintegrasian nilai
c. Fungsi pengukuhan.

Dalam kaitannya dengan Islam sebagai pemeliharaan ketertiban masyarakat, pengintegrasian nilai, dan pengukuhan nilai, sejalan dengan pernyataan Gellner, “ Islam tidak lahir ditubuh 2 kerajaan…., Islam muncul sebagai semen bagi kerajaan, bukan sebagai karat yang menggrogoti kerajaan-kerajaan itu. “.

Hal ini jelas sekali Islam sebagai perekat dan pandangan hidup bagi pemeluknya yang dapat membangkitkan umatnya dalam aspek-aspek hidup dan kehidupan secara menyeluruh.

Menurut Muzaffar, kebangkitan Islam memiliki 3 parameter, yakni ;

A. Munculnya kesadaran dari dalam kalangan umat Islam sendiri akan pentingnya Islam sebagai sistem hidup.
B. Dijadikannya kerajaan masa lalu, yaitu masa nabi Muhammad saw dan  khulafaurasyidin sebagai pola, model dan rujukan sekaligus sebagailandasan perjuangan.
C. Islam dipandang sebagai alternatif dan karena itu dianggap sebagai ancaman Ideologi lainnya.
Disi lain Mutalib ,menyatakan bahwa kebangkitan Islam ditandai 4 ciri, yakni :

A. Adanya keinginan yang lebih besar untuk memandang Islam sebagaiagama   ( ad-dien ), dimaksudkan agama sebagai pandangan hidupmenyeluruh, mencakup seluruh aspek kehidupan.
B. Kecendrungan untuk memandang kaum muslimin yang berbeda-beda di dunia ini sebagai satu kesatuan komunitas muslim.
C. Rasa tegar dalam mendukung nilai-nilai cita-cita dan solusi-solusi Islam yang mendasar.
D. Pembentukan Badan-badan atau organisasi-organisasi tipe gerakan yang bertujuan untuk membuat orang Islam lebih terorganisir.

Kajian mengenai gerakan Islam kontemporer sesungguhnya tidak hanya memerlukan konstruksi teoritik, tetapi juga memerlukan tersedianya pengetahuan empiris yang dapat menjelaskan dan mengidentifikasi gerakan.

Gerakan Islam di abad ke 20, sesungguhnya merupakan  konstruksi dari Gerakan Islam di masa modern melawan pengaruh, kekuasaan dan kekuatan para adikuasa didalam wilayah Islam. Jansen mengatakan, bahwa gerakan anti dominasi Barat telah merata keseluruh kawasan Asia, dari India sampai ke Indonesia.  Oleh sebab itu tidaklah berlebihan bila saja disimpulkan bahwa gerakan Islam merupakan salah satu “kekuatan dunia” yang besar, potensial dan berbeda cara pandang ideologis dalam membangun tata sosial, politik, ekonomi, bahkan peradaban dunia, sebagaimana ditegaskan oleh Raschke Kirk dan Taylor, tugas agama dalam  hal ini adalah menggerakkan agama atau melindungi pengikutnya dari tekanan dan kehidupan yang tidak menyenangkan serta menghalangi manusia untuk boleh hidup sempurna, termasuk dalam partisipasi sosial dan politik.

Guna memahami pergarakan Islam kontemporer, telaah ini bertolak dari sebuah tinjauan terhadap pandangan yang memahami islam Indonesia dari dua paradigma, yaitu Islam tradisional dan Islam modernis.

Pada umumnya, gerakan Islam baik yang tradisional maupun modernis muncul sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Akar gerakan Islam tradsional mulai bersemi sekurang-kurangnya bersamaan dengan masuk dan semakin meluasnya pemeluk Islam di pedalaman Jawa pada saat mana Islam mulai mengalami proses menyerap dan diserap oleh unsur budaya lokal.

Ada bermacam jenis gerakan perubahan, pengelompokkan ini tentu saja dapat berubah-ubah karena suatu pergerakan biasanya ingin mencakup berbagai aspek dari kehidupannya, seperti pergerakan politik nasionalis, komunis atau kaum umumnya ingin merubah bentuk pemerintahan dan lain-lain.

Dengan mengikuti pencirian ini, gerakan pembaharuan agama berkeinginan untuk sistem agamanya. Pada pembaharuan Islam misalnya  upacara agama harus diluruskan, kebenaran harus dicari bukan dari penafsiran yang berlebih-lebihan dari pihak penguasa melainkan langsung dari ayat-ayat kitab suci.

Gerakan Islam sebagai Islamic Ideology adalah  gerakan sosial dan keagamaan yang mengajak umat Islam kembali kepada  “Pinsip –prinsip Islam yang fundamental, kembali kepada kemurnian etika dengan cara mengintegrasikannya secara positif (dengan doktrin agama) pada tataran culture structure, dana kembali kepada keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dan masyarakat pada tataran social stucture. Di dalam Islam secara sosio-historis gerakan Islam ditemukan  kaidah-kaiadah”Islami” yang di nampakan secara berbeda oleh pemeluknya pada masa kurun waktu yang sama dan ditempat yang berlainan seperti ada dari gerakan Islam mentransformasikan diri  ke arah political rupture (tindakan kekuatan) sebagai bentuk perlawananya dengan Jihad,  Juga ada dengan menggunakan cara melalui  pengembangan pendidikan,sosial, budaya, ekonomi sebagai wujud perlawananya melepaskan segala keterikatannya dengan sistem Jahiliyah.

c. Perang Ideologi dan Kebudayaan.

Teknologi Barat dengan segala penemuannya yang sangat menakjubkan dan telah membanjiri seluruh dunia, membawa pula kebudayaan materialisme dan sekularisme yang sangat bertentangan dengan Kebudayaan Timur (baca Islam) yang berdiri teguh di atas dasar kebutuhan dan keagamaan. Seorang Austria yang telah memeluk agama Islam pada tahun 1922, bernama Leopold Weiss, menulis sebuah buku bernama “The  Road to Mecca”, dikatakannya:” Sekarang kita hidup pada suatu masa, di saat Timur tidak dapat tinggal apatis dan berpangku tangan terhadap barat yang mulai mendesak mereka, karena beribu ribu kekuatan , baik politik, kemasyarakatan. Dan ekonomi datang mengetuk pintu dunia Islam. Maka apakah dunia Islam ini akan tunduk dan menyerah pada peradaban barat.

Dr. Edward J. Byng, menulis buku pada tahun 1954, dalam bahasa Jerman , berjudul “Die welt der Araber” ( Dunia arab ) yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa  Inggris dengan nama “The World of the Arab” yang ketika itu di rubah kedalam Bahasa Belanda dengan persyaratan harus dirubah menjadi “De Derde Macht” ( kekuatan ketiga), dan dimintakan kata pengantar bagi buku itu kepada Sultan Otsmaniyah yang paling akhir yang sudah dima’zulkan, yaitu Sultan Abdul Majid II.

Dia menceritakan  bahwa kebangkitan suatu umat yang jumlahnya mencapai 400 juta manusia yang memeluk agama yang satu, agama Islam, yang mendiami daerah yang membentang luas, yang memanjang dari Tanger di sebelah  barat (Afrika Utara ) sampai ke Irian ( di Indonesia ) disebelah timur, dan garis melebarnya dari tanah tinggi Pamir ( Asia Tengah) disebelah utara sampai ke daerah timur dan selatan dari Benua Afrika di sebelah selatan. Lebih di  uraikan lagi bahwa  umat  yang jumlahnya mencapai 1/6 penduduk dunia itu pasti akan datang masanya mendesak maju ke depan, bergandengan bahu dengan dua kekuatan dunia yang sudah ada, menjadi kekuatan ketiga. Digambarkannya, bahwa kalau Amerika dengan sekutunya mempersatukan diri di dalam “Pakta Atlantik”, dan Rusia dengan seluruh satelitnya mempersatukan diri di dalam “Pakta warsawa”, maka kekuatan Ketiga sedang mencari bentuk persatuannya dengan berdasarkan”Pan Islamisme”  dan dia mengatakan  bahwa masanya pasti datang tidak lama lagi, umat Islam tampil ke depan menjadi kekuatan ke Tiga, dengan Dunia Arab menjadi pelopornya.
Sekiranya dapat dijelaskan dari kedua ideologi kekuatan tersebut, yaitu:

Marxisme terdiri dari tiga unsur: Pertama, Filsafat dialektik yang diambill dari Hegel (1770-1841 ), dari dilectical Materialism  muncullah apa yang dinamakan :Historial Materialism” walaupun contoh yang diberikan kepada dialektiknya Hegel bahwa feodalisme dilawan oleh kapitalisme menjelma menjadi sosialisme adalah suatu contoh yang arbitraire. Kedua, Sistem ekonomi tertentu, diantara bagian-bagian pentingnya adalah gagasan bahwa nilai itu terdapat dalam kerja, dan bahwa ekonomi liberal, yang dinamakan keuntungan itu  pada hakekatnya adalah nilai kelebihan  ( surplus value) yang dimakan oleh golongan bermodal (kapitalis). Ketiga, adalah tentang ketatanegaraan dan revolusi . Bagi Kaum komunis negara adalah suatu mesin bagi suatu lapisan masyarakat untuk menindas lapisan lain, untuk  sampai pada kekuasaan tersebut mereka memakai segala upaya termasuk kekerasan dan kekjaman.

Kapitalisme, merupakan  lawan dari komunisme, terutama dalam pandangannya tentang masalah kerja dan nilai kerja. Bila komunisme menitik beratkan, bahwa jasa hasil produksi yang terbesar adalah pada tenaga kerja (buruh), maka kaum kapitalis beranggapan bahwa jasa terbesar adalah pada kapital atau pemilik kapital ( modal). Dengan demikian mereka beranggapan, bahwa kapital adalah merupakan kunci suksesnya dunia usaha. Didalam masyarakat kapitalis setiap Individu memiliki hak dan kebebasan yang luas dalam dunia usaha. Dalam perjuangan hidup berlaku semboyan yang terkenal Laisser faire, Laisser passer, yakni biarkan apa yang terjadi menurut kodrat masing-masing dan jangan diadakan pembatasan. Segala bentuk persaingan adalah bebas menurut kadar kemampuan nya. Siapa yang kuat adalah yang menang, siapa yang lemah dialah yang ditendang. Dari sinilah muncul liberalisme..

Untuk mempelajari perubahan-perubahan pada suatu masyarakat perlu dilakukan pengambilan contoh dan pembuatan sintesa data yang berbeda. Gejala-gejala perdebatan di  sektor yang berbeda-beda seperti sektor ekonomi, politik, agama, pendidikan serta dari bermacam daerah, dan golongan. Oleh karena itu implikasi paling fundamental dari gerakan Islam kontemporer adalah usaha yang giat untuk mengerahkan segala tatanan masyarakat pada sebuah bentuk visi dan realitas yang berinspirasikan ideologi.

d. Issue pemahaman  Kelompok Islam Keras vs Moderat

Adanya   pengelompokan yang  dikembangkan  oleh beberapa intelek muslim yang sekuler  yang juga merupakan Jaringan asing maupun ormas  tertentu dalam mencitrakan  pemahaman  dan karakter,  dimaksudkan untuk  memberikan penilaian buruk terhadap pelaku-pelaku Islam yang komitmen, Seperti  dengan sebutan Islam Keras atau ekslusif yaitu suatu kelompok  yang berusaha keras mempertahankan kemurnian ajaran agama   ( ortodoksi ) dengan melakukan cara-cara aksi-aksi kekerasan dan ini dapat terlihat pada kehidupan  keagamaan dan kemasyarakatan, maupun dalam pandangan  dan sikap politiknya berkaitan dengan  negara. Kebijakan dan tindakan negara terhadap kelompok ini di tafsirkan sebagai politik kekerasan dapenindasan serta peminggiran Islam dari proses dan kehidupan politik, serta melanggar hak-hak sipil dan bahkan lebih luas lagi.
e. Tuduhan Aksi Jihad  adalah  Teror

Perjalanan sejarah menyebutkan bahwa orang yang menjadi aksi kekerasan di Indonesia maupun di negara lain, selalu diawali dengan sikap keberagamaan yang militan dan menginduk pada organisasi dan sejumlah tokoh spiritualnya Dalam hal ini kita dapat melihat bagaimana dunia menilai gerakan Pan Islamisme, Ikhwanul Muslimin Mesir (Hasan Al-Banna tahun 1927), Jama’tul Muslimin Pakistan (Abul’ala Al-Maududi), Revolusi Islam Islam Iran (Ayatullah Khumaini 1979), Jama’ah Jihad Fisabilillah Lampung (Warsidi), Komano Jihad Warman, Jama’ah Imran (Bandung) dan lain sebagainya, merupakan kelompok keagamaan yang memperjuangkan prinsip-prinsip keagamaan secara mendasar dengan cara yang ketat, tegas, dan keras tanpa kompromi, yang disebut dengan fundamentalis, militan.

Mochtar Buchori, menjelaskan, Aktivitas yang dilakukan oleh kelompok radikal keagamaan secara realistik memang sering menimbulkan ketegangan dalam kehidupan masyarakat. Meskipun demikian, adanya ketegangan tersebut bukan berarti mereka bisa begitu saja disebut radikal.

Menurut Bruce Lawrence, memasukan sosiologis fundamentalisme kedalam suatu “tuntutan kolektif”, yaitu tuntutan agar keyakinan dan nilai-nilai etika yang diajarkan oleh agama diterima oleh mayarakat dan secara legal wajib dilaksanakan.

Suatu keniscayaan bagi setiap kelompok untuk dapat menanamkan apa yang menjadi tujuan padangan hidupnya.

Maka berangkat dari pengertian tersebut radikalisme muncul karena adanya suatu keterkaitannya atas pertentangan secara tajam antara nilai-nilai yang diperjuangkan oleh kelompok tertentu dengan tatanan nilai yang berlaku atau dipandang mapan pada saat itu, sehinga pandangan tersebut lebih menafikan pluralisme dan kecendrungan untuk menggolongkan manusia hanya berdasarkan agama atau kepercayaan yang dianutnya.

Meskipun keberadaan predikat aksi kekerasan itu sangat santer terhadap pandangan fundamentalis, namun bukan berarti  final dan berhenti tanpa suatu kajian-kajian ilmiah. Sebab aksi-aksi yang dipandang sebagai suatu perbuatan sadis itu dapat dipertanggungjawabkan oleh sebuah penelitian, sebagai tindak lanjut mencari akar kekerasan, sehingga apakah  cara pandang dan penghayatan atas agama yang selama ini menjadi fokus pemberitaan berbagai media adalah keliru, atau merupakan ekspresi dari ketidak adilan  dan kedzhaliman dari suatu aksi hegemoni kekuasaan atau juga merupakan suatu gerakan dari jaringan internasional yang menanamkan rasa solidaritas. Sebagaaimana adanya isu jaringan teroris Jama’ah Islamiyah dan Al-Qaedah pimpinan Usamah Bin laden. Serta sejumlah peneliti asing yang mempunyai kepentingan-kepentingan terhadap ideologi global seperti Sidney Jones dan pengakuan Mantan Anggota Jama’ah Islamiyah Nasir Abas  yang menulis buku “Membongkar Jama’ah Islamiyah”

Pada dasarnya aksi kekerasan merupakan suatu ekspresi dari perilaku yang menggunakan sauatu kekuatan sebagai pembelaan diri dengan motif yang berbeda-beda. Dari aksi kekerasan tersebut tidak sedikit mendatangkan banyak korban, sehingga kekerasan dipandang sebagai wasilah untuk mencapai tujuan. Dan hal ini banyak dijadikan landasan pada  semua faham atau ideologi tertentu, dimana langkah tersebut diambil sebagai proses siasat memperoleh suatu perubahan yang diinginkan.

Menyikapi kekerasan, sudah jelas bahwa kekerasan berbeda dengan ‘jihad’ atau ‘irhab’ yang selama ini selalu menjadi sterotype bagi sebagian kalangan. bahwa definisi teror yang merupakan perbuatan dengan menggunakan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai suatu tujuan, terutama tujuan politik dan bahkan istilah ‘teror’ dalam bahasa Arab sering disalahartikan dengan dicantumkannya kata ‘irhab’, selalu yang tertuju kepada umat Islam. Dengan tegas bahwa pengertian dalam bahasa Arab ini tidak sama dengan kata ‘irhab’ yang dipergunakan dalam Al-Qur’an, ketika memerintahkan agar orang beriman melakukan ‘irhab’ terhadap orang kafir .

Ada kekeliruan orang –orang yang tidak suka terhadap  syariat Islam , Jawahir Thantawi, dalam tulisannya menjelaskan bahwa timbulnya persepsi keliru tentang syariat Islam yang diidentikan dengan kekerasan yang pada umumnya karena dikaitkan dengan pelaksanaan hukum pidana Islam. Misalnya, ada hukuman mati (qishash) yang dikenakan kepada kejahatan nyawa, murtad, dan pemberontakan, sanksi hukuman potong tangan bagi pencuri lelaki atau perempuan, sanksi hukuman lempar batu (rajam) bagi pezinah lelaki permpuan.

Karena itu, kekeliruan pemahaman yang menyamakan syari’ah Islam sebagai kekerasan karena diidentikan hukuman pidana Islam itu tidak tepat.

Jika melihat  berbagai gerakan jihad sepanjang sejarah muslim dapat diketahui terdapat kelompok-kelompok muslim yang menggunakan atas nama jihad untuk mencapai agenda sendiri. Namun terdapat pula kecenderungan yang keliru di Barat yang menganggap radikalisme jihad merupakan fenomena umum dalam masyarakat muslim secara keseluruhan. Tragedi peledakan Gedung WTC, 11 September 2001, sebagai kali pertama selogan momentum “perang melawan teroris” kepada dunia oleh Amerika, yang merupakan lanjutan dari kesepakatan Ronald Reagan dan juga George Bush, pada tanggal 14 April 1986, yang memerintahkan pengeboman terhadap dua kota di Libya, Tripoli dan Benghhazi, menyusul pada hari kamis, 21 Agustus 1998 Amerika Serikat melakukan kembali serangan militer terhadap negara Sudan dan Afghanistan.

Pada aksi tersebut, tidak sedikit  dari elemen bangsa mengeluarkan pernyataan sikap keras mengutuk pemboman oleh Amerika  Serikat atas negara Muslim tersebut. Bercermin pada aksi tersebut Aksi kekerasan merupakan fenomena didalam kehidupan modern.

Menurut seorang pakar perang Israel Martin van Craveld, jika seseorang atau negara memerangi aksi kekerasan (terorisme), maka dia akan menjadi teroris. “When you fight terrorism, you become a terrorist”.

Sementara itu gerakan-gerakan radikal tumbuh karena berbagai inspirasi, agama, sosial, dan politikMenurut Hoarce M Kallen, radikalisme ditandai oleh tiga kecendrungan umum : Pertama, radikalisme merupakan respon terhadap kondisi yang sedang berlangsung. Respons tersebut muncul dalam bentuk evaluasi, penolakan, atau bahkan perlawanan. Masalah-masalah yang ditolak dapat berupa asumsi, ide, lembaga, atau nilai-nilai yang dapat bertanggung jawab terhadap keberlangsungan keadaan yang ditolak.

Kedua, radikalisme tidak berhenti pada upaya penolakan, melainkan terus berupaya mengganti tatanan lain. Ciri ini menunjukkan bahwa di dalam radikalisme terkandung suatu program atau pandangan dunia (worldview) tersendiri.

Ketiga, kaum radikalis memiliki keyakinan yang kuat akan kebenaran program atau ideologi yang mereka bawa. Dalam gerakan sosial, kaum radikalis memperjuangkan keyakinan yang mereka anggap benar dengan sikap emosional yang menjurus pada kekerasan.

Sementara Pandangan Barat sering menghubungkan antara jihad dengan terorisme. Yang sesungguhnya dua hal tersebut mempunyai sudut pandang yang berbeda. Penggunaan kekerasan atau teror tidak langsung dikatakan sebagai terorisme. Karena teror bisa dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan kriminal dan persnal.

Sebaliknya seperti yang dikemukakan Thornton, terorisme adalah penggunaan teror sebagai tindakan simbolis yang dirancang untuk mempengaruhi kebijaksanaan dan tingkah laku politik dengan cara ekstra normal khususnya penggunaan ancaman kekerasan. Dalam lingkup pengertian ini, Thornton membedakan dua teori pembedaan teror. Pertama, adalah enforcement terror, yang digunakan penguasa untuk menindas tantangan terhadap kekuasaan mereka. Kedua, agitational terror, yakni kegiatan teroristik yang dilakukan mereka yang ingin mengganggu tatanan yang mapan untuk kemudian menguasai tatanan politik

Dengan demikian Jihad berbeda sangat dengan aksi kekerasan. Agama telah menjadi suatu kekuatan dunia yang tidak lagi terbatas memberikan pengaruh bagi kehidupan politik melalui interaksi dengan lapisan penguasa. Bahkan yang terpenting adalah perpindahan agama dari tingkat global dan kolektif ketingkat bagian-bagian atau individu. Islam sebagai kekuatan yang memiliki prinsip bahwa kebenaran tanpa kekuatan tidak memiliki arti. Islam dalam sejarahnya didominasi oleh pengertian jihad, yang berarti kemampuan seseorang dalam mengetengahkan dirinya untuk merealisasi tujuan luhur dakwah Islamiyah. Sehingga Pengertian seperti ini hanya merupakan wajah lain dari pengertian terdahulu yang dinamakan dengan ‘terorisme internasional’.

IV. KEBANGKITAN UMAT ISLAM SUATU KENISCAYAAN


Pada kawasan Islam yang luas ini terdapat puluhan bahkan ratusan Jama’ah Islam, baik bersifat lokal, nasional, maupun Internasional dengan corak dan karakter yang berbeda-beda. Namun semuanya telah memberi warna pergerakan Islam.

W.G . Palgrave pada tahun 1872 menulis, “Umat Islam selalu sadar ketidak tentuan yang selalu terjadi dan perpecahan yang membingungkan Dunia Kristen sekarang ini, juga terhadap ketidakstabilan yang menyusahkan masyarakat Eropa modern dewasa ini. Dipandang dari sudut mereka sendiri, umat Islam bagaikan orang yang berdiri tenang di tempatnya yang kokoh kuat di tengah-tengah segala yang bergejolak, yang tidak merata.

Scawen  Blunt meneruskan tulisannya sampai 15 Januari 1882, yang akhirnya dsusun menjadi suatu buku yang bernama  “The Future of Islam”, Buku inilah yang pertama kali membuat ramalan tentang kebangkitan Islam.

Dia mengemukakan 4 faktor yag penting, yang menyebabkan kebangkitan umat Islam tidak pernah berhenti, yaitu:
1. Ibadah Haji yang dikerjakan setiap tahun
2. Pemusatan pemerintahan Islam yang ditanamkan “ Khilafah”  yang ketika itu di Turki.
3. Adanya tanah suci Islam.
4. Berkobarnya gerakan reformasi (kebangunan).

Maka sasaran pertama yang harus dilakukan untuk melumpuhkan kebangkitan Islam, ialah mengroyok beramai-ramai Kerajaan Otsmaniyah di Turki yang dianggap sebagai pusat Dunia Islam, dan kemudian mematikan gerakan reformasi yang sedang dibangkitkan  oleh Jamaluddin al_Afghani dan Syaikh Muhammad Abduh dengan gerakan  yang terkenal “Pan Islamism” Adapun dua faktor lainnya sangat sukar dihapusakan, yaitu Ibadah Haji dan tanah suci Mekkah, karena keduanya merupakan dasar utama di dalm Islam.

Juga senada dengan di atas, Lothrop Stoddard dari Amerika memprediksi  yang sama pula dalam Bukunya “The New World of Islam” ( dunia baru Islam), yang diterbitkan pada tahun 1921, seusainya Perang Dunia I, tetapi menjelang turun takhtanya sultan  Ostmaniyah yang terakhir, pada 1924. Dia menegaskan bahwa meskipun khilafah sudah dapat ditumbangkan selama ummat Islam masih dapat bebas menegrjakan haji dan berkunjung  ketanah suci Mekkah, tetap ancaman bahaya bagi Barat tidak akan hilang.

Sehubungan dengan pokok-pokok pembahasan  di atas, maka ada beberapa hal yang perlu dikaji dan menjadi perhatian pada setiap muslim dan aktifis gerakan Islam  diantaranya:

1. Memahami faktor kelemahannya.

a. Adanya berbagai pemikiran tidak Islami yang menghadang dunia Islam.
b. Pola integrasi umat Islam:

   - adanya penyakit firaunisme, sektarisme dan vested-intereses yang menyebabkan disintegrasi umat Islam.

c. Pemisahan kepemimpinan addien dan siyasah.
d. Kurangnya pentarbiyahan yang baik.
e. Hilangnya tanggung jawab dakwah dan jihad pada umat ini.
f. Berjuang untuk mencapai mahamat yang bukan Islam

2.Memahami strategi musuh-musuh Islam dimanapun juga:

a.Merubah al-Islam dengan jalan memberikan gambaran yang salahtentang Islam. Sebagai contoh mentafsirkan

Al-Qur’an dengan  cara menggunakan metode Hermeneutik.
b. Memisahkan umat Islam dari ajarannya yang hakiki, yakni Al-Islam.
c. Memisahkan dan mempertentangkan golongan umat Islam yang satu dari dan terhadap golongan Islam yang lainnya.

V. PENUTUP

Akhir dari  acara seminar ini diharapkan dapat merumuskan persoalan  dan memberikan sesuatu kebaikan , dan mengembangkn  potensi umat pada kesadaran li’lakalimatillah iya ulya, dalam eksistensi seorang individu, keluarga masyarakat dan Negara.

Pada pertemuan kali ini dapatlah kiranya untuk dapat disimpulkan pada masing-masing  pribadi peserta seminar, menilai dan berpendapat dan bersikap  bagaimana seharusnya dan sebaiknya. Wallahu ‘alam, Barakallahufikum. 


Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...
Sarankan pengunjung lain untuk membaca tulisan ini juga.

Sumber: Ar Rahmah Media

~

10 Metode Mendeteksi dan Menggagalkan Rencana Mata-Mata

Dengan menyebut nama Allah Yang Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Maha Pencipta dan Penopang Alam Semesta. Segala puji bagi-Nya yang telah berfirman:

"Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati." (QS Al Mulk [67]: 13)

Dan shalawat serta salam senantiasa dicurahkan kepada Nabi Terakhir, Muhammad SAW, yang bersabda:

"Peliharalah kebenaran, karena kebenaran mengarah pada kebaikan, dan kebenaran mengarah pada Surga. Seseorang yang terus mempertahankan kebenaran sampai dia dicatat dalam buku Allah sebagai orang yang shalih. Ia selalu Menahan diri dari berbohong. Karena letaknya berbohong mengantarkan pada kejahatan secara terang-terangan, dan keburukan mengantarkan pada api neraka. Seorang pria yang terus berbohong sampai dia dicatat dalam buku Allah sebagai pembohong." (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Al-Tirmidzi).

..dan semoga rahmat juga senantiasa tercurah atas keluarganya dan para sahabatnya serta para pengikutnya.

Allah berfirman dalam Kitab-Nya:

"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya." (QS Al Anfal [8]: 30)

Dengan pemikiran ini, dan mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi baru-baru ini, terutama penangkapan saudara kita di Oregon (semoga Allah meneguhkannya dan segera membebaskannya), saya telah memutuskan untuk merekam dan menuliskan 10 metode --yang, melalui pengalaman pribadi saya sendiri-- akan memberikan pencerahan seputar taktik yang sering digunakan oleh mata-mata atau informan untuk menjebak dan akhirnya menangkap Muslim, dan berikut inilah cara untuk menggagalkan rencana ini.

#Satu#

Seorang mata-mata akan selalu memulai aksinya dengan "mencari muka". Proses ini memakan waktu beberapa bulan. Mereka bergabung dan aktif di forum atau di masjid beberapa bulan saja sebelum mereka melakukan kontak dengan individu yang akan mereka jebak. Begitu mereka membuat kontak, mereka biasanya membuat dialog-dialog kecil. Seperti topik terjemahan, menemukan nasyid, mencari suami/istri, atau tempat-tempat terbaik untuk menemukan makanan halal, dan sebagainya. Hal ini dilakukan untuk memperoleh kepercayaan dan agar tidak terus terang. Karena keterusterangan (yaitu berbicara tentang jihad dari hari pertama) akan memunculkan kecurigaan. Mata-mata itu kemungkinan akan melakukan pendekatan terhadap target mereka selama berbulan-bulan sebelum menyebutkan jihad, dan bahkan kemudian, mereka akan mulai dengan hal-hal kecil, dengan topik-topik seperti "apakah Anda menyukai video baru As-Sahab" atau "apa nasyid Jihad favorit anda."

#Dua#

Anda mungkin bisa juga mendeteksi dan memberikan bendera merah kepada mata-mata dari kebohongan dan inkonsistensi. Inkonsistensi ini dapat dilihat termasuk perubahan dalam cerita, yang biasanya dielaborasi setelah anda menyadari perubahan dalam cerita mereka. Sebagai contoh, mata-mata mungkin adalah mahasiswa di sebuah universitas Amerika. Namun, anda melihat dia online atau di masjid selama jam kuliah. Ketika anda mengatakan "Saya pikir kamu di sekolah" mereka dengan cepat akan mengubah cerita mereka dengan pernyataan seperti "Saya mengambil kelas online" atau "Saya mengambil kuliah malam." Perhatikan hal-hal kecil yang mungkin tampak tidak berarti, seperti menyebutkan anggota keluarga, pekerjaan, atau pengetahuan tentang suatu topik tertentu. Jika diketahui bahwa orang tersebut sudah melakukan suatu kebohongan, bahkan meskipun kebohongan itu kecil, maka ambillah tindakan pencegahan.

#Tiga#

Hal lain yang harus diwaspadai adalah pernyataan-pernyataan besar. Ini biasanya mencakup klaim untuk menjadi anggota suatu organisasi mujahidin, atau untuk berhubungan dengan Mujahidin atau 'Shuyuukh' tertentu, atau mengaku sudah tahu pribadi atau bertemu dengan berbagai pemimpin Mujahidin. Ini harus dipastikan. Siapapun yang membuat klaim ini adalah pembohong, atau jika mereka jujur, maka mereka sangat Jahil ketika mereka ingat masalah keamanan, baik bagi dirinya dan bagi para mujahidin.

#Empat#

Seorang mata-mata biasanya akan mengaku sibuk, kemungkinan besar dengan studi sekolah. Secara pribadi ia akan sering meminta maaf karena tidak bisa sering ditemukan karena sibuk dengan berbagai ujian atau harus belajar untuk ujian tengah semester atau mengerjakan pekerjaan rumah. Mata-mata menggunakan taktik ini untuk membuat diri mereka tampak normal. Ini tidak berarti bahwa seorang Mujahidin bukan selalu mahasiswa dan tidak bekerja keras dengan studi mereka. Namun, jika seseorang benar-benar ingin terlibat dalam jihad, dan Syahadah khususnya melalui misi Istisyhadi atau 'Fidaye', tidak mungkin fokus utama mereka adalah sekolah. Alasan sekolah ini paling sering digunakan, bukan alasan kesehatan atau pekerjaan, karena mungkin target mata-mata mungkin merasa bahwa orang yang tidak sehat tidak layak untuk jihad atau orang yang memiliki pekerjaan ikut membayar pajak adalah kolaborator. Mereka sering meminta maaf atas ketidakhadiran atau keterlambatan, bahkan pemberitahuan ini dilakukan satu atau dua hari setelah pesan anda dikirim kepada mereka, ini adalah hal yang sangat umum.


#Lima#

Mata-mata akan bertanya pada target mereka menjadi lebih "spesifik" dan "jelas." Misalnya, jika anda mengatakan anda tertarik dalam Jihad, mereka akan bertanya apakah yang anda maksud Jihad fisik. Jika anda menyebutkan anda memiliki pengetahuan senjata api, mereka akan menanyakan senjata api jenis apa dan apa saja yang anda ketahui. Kita harus benar-benar mencermati kata-kata mereka setiap saat, atau lebih baik tidak berkata apapun. Alasan mereka mempertanyakan hal semacam ini bukan karena mereka mengerti, tetapi lebih karena jika dan ketika anda tertangkap, mereka ingin memastikan bahwa hakim akan semakin mudah menjatuhkan anda. Jika anda terus mulut Anda tertutup, maka ada kemungkinan anda bahkan tidak akan ditangkap. Mata-mata itu mungkin tidak membuat ancaman itu sendiri, tapi akan menunggu anda berbicara terlebih dahulu. Mereka ingin membuat anda membicarakan hal-hal yang lebih spesifik.


#Enam#

Dalam proses pendekatan ini, mata-mata akan selalu menerima anda. Mereka akan menerima manhaj anda dan tidak memperdebatkannya, bahkan saat mereka mengatakan manhaj tersebut berbeda dari mereka sendiri. Perilaku khas seperti merokok, mendengarkan musik, atau menempelkan foto, tidak pernah dikutuk oleh mata-mata. Mereka selalu akan menjawab pertanyaan-pertanyaan pribadi dan tidak tersinggung ketika anda bertanya, karena mereka akan menjawabnya dengan kebohongan. Jika anda kembali pada Islam dan menyebut perilaku berdosa dalam hidup anda sebelum menerima Islam, mata-mata tidak akan peduli sama sekali. Spies tidak pernah tampak marah atau tidak setuju dengan target mereka, kecuali dengan satu syarat. Kondisi ini jika mereka menemukan targetnya akan melepaskan diri dari jihad. Kemudian mata-mata akan berusaha untuk mengingatkan target mereka, biasanya dengan membawa kata-kata masa lalu mereka atau menggunakan teknik untuk membuat target mereka merasa bersalah. Hanya jika target mereka terlihat seperti menentang jihad --apakah al Qaeda maupun Jaisy Muhammad-- maka mata-mata itu akan terlihat marah dan kecewa.


#Tujuh#

Tanyakan kepada diri sendiri, apakah orang yang anda percaya? Dalam dunia di mana setiap orang dapat benar-benar menjadi mata-mata, mengapa orang ini yang anda percaya? Mengapa mereka mengaku sebagai seorang mujahid, dan menceritakan ini pada orang-orang yang mereka temui melalui komputer atau di masjid-masjid? Mengapa mereka mengatakan mereka ingin melakukan operasi Jihad atau hijrah? Anda tidak bisa mengetahui apakah ada orang yang ikhlas, dan ini adalah kenyataan yang menyedihkan. Pikirkan tentang mengapa mereka akan mempercayai anda dari semua orang, dan bukan orang lain. Jawabannya adalah karena mereka sedang berusaha untuk menangkap anda, dan ini adalah bagian dari proses pendekatan mereka.

#Delapan#

Sekarang tanyakan pada diri anda, jika mereka sudah mempercayai anda, mengapa mereka membutuhkan anda? Jika mereka ingin anda untuk berhijrah dengan mereka, tanyakan pada diri anda mengapa mereka tidak pergi sendirian atau dengan orang lain. Jika mereka membutuhkan seseorang untuk melaksanakan operasi, apakah mereka menjemput anda. Jika anda melihat peristiwa dari Oregon dan belajar dari mereka, Anda akan melihat bahwa itu adalah kelompok dari orang-orang yang telah direkrut menjadi mata-mata, semoga Allah membebaskannya. Siapapun saat ini bisa bertanya kepada dirinya sendiri "jika sudah ada sekelompok saudara, dan di antara mereka ada seorang pembuat bom, mengapa mereka membutuhkan orang lain untuk mengemudikan mobil? Jika seseorang sudah mengklaim tahu bagaimana membangun bom, mengapa mereka meminta anda untuk menanamnya? Apakah karena mereka takut mati? Apakah karena mereka ingin membuat lebih banyak bom? Atau, atau mungkin, karena mereka ingin menjebak anda? Hal ini sering terjadi dalam skenario beberapa mata-mata. Jika sudah ada kelompok yang mengaku mujahidin dan menyiapkan serangan, lantas apa yang mereka butuhkan dari anda?

Jika mereka mengaku 'Fidayeen', mengapa mereka membutuhkan satu lagi?

Mengapa tidak merekrut lebih banyak, mengapa tidak menggunakan satu orang saja?

Mengapa mereka meminta anda untuk membantu mereka melatih jika mereka telah mengklaim memiliki pengetahuan tentang senjata api dan bahan peledak?

Mengapa mereka membutuhkan seorang kameraman, tidak bisakah salah satu dari mereka merekamnya?

Kadang-kadang ketika operasi harus dilakukan, jika anda yang diminta untuk menanam bom, tanyakan pada diri anda mengapa mereka ingin anda menanam bom mereka atau menjadi 'Fidaye'? Dan jika mereka sudah punya rencana, kenapa mereka mempercayai anda, sedang anda adalah orang yang relatif asing untuk membantu mereka? Pertanyaan-pertanyaan harus diajukan.

#Sembilan#

Mata-mata akan berbicara dan berlatih berlebihan. Kebanyakan operasi, terutama operasi istisyhadi, tidak perlu latihan berbulan-bulan, tetapi mata-mata akan membuatnya tampak seolah-olah harus seperti itu. Perhatikan juga mata-mata akan meminta untuk dilatih menggunakan properti dan senjata api yang anda miliki. Jenis operasi biasanya tidak memerlukan perencanaan seperti yang ditentukan oleh mata-mata. Alasan pertama mereka untuk melakukan hal ini adalah untuk mendapatkan kepercayaan anda. Dan alasan kedua adalah pada akhirnya menunda operasi itu sendiri. Berkaitan dengan berbicara yang berlebihan, lakukanlah metode pencegahan yang kelima. Mata-mata ingin anda melakukan semua mereka bicarakan. Mereka biasanya akan meminta ide dan masukan anda. Mereka akan menanyakan apa yang anda pikirkan dan akan menjadi sasaran yang cocok. Mereka ingin anda mengatakan anda ingin menjadi pelaku istisyhadi atau anda ingin berusaha untuk membunuh orang lain. Ingat, diam adalah emas.

#Sepuluh#

Akhirnya, jika Anda menduga bahwa anda telah jatuh ke dalam mata-mata, ada tindakan yang harus diambil. Pastinya, anda harus memotong semua kontak dengan orang yang anda dicurigai mata-mata. Namun, sebelumnya mungkin bermanfaat untuk berpura-pura memberitahu mereka bahwa anda sebenarnya telah kecewa dengan Jihad. Bahkan mungkin bijak untuk mengklaim bahwa anda telah kehilangan minat dalam Islam! Berbohong, berbohong, berbohong! Ingat, mata-matalah yang anda ajak bicara. Setelah itu, mungkin lebih baik untuk menghilang. Tidak perlu memberikan alasan, atau mereka mungkin akan menggunakan alasan seperti istrinya hamil atau mereka yang pindah untuk membuat mereka tetap menghubungi anda. Mungkin bijaksana untuk mengubah nama pada forum atau mengganti email. Juga penting, jika mungkin, jangan biarkan orang ini tahu bahwa anda menyadari mereka adalah mata-mata. Jika tidak, mereka mungkin menyadari bahwa anda berbohong kepada mereka, dan masih akan terus menyelidiki anda. Dan terakhir, memperingatkan orang lain yang mungkin telah jatuh menjadi korban mata-mata, dan mengungkapkan kepada mereka metode yang bisa digunakan oleh mata-mata.

Saya memohon agar Allah menerima semua amal ibadah saya dan menjadikan informasi ini bermanfaat bagi saudara-saudara yang lainnya, insyaAllah.

Saudaramu dalam Islam

Sumber: Theunjustmedia diterjemahkan oleh Althaf, redaktur pelaksana arrahmah.com

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...


Sarankan pengunjung lain untuk membaca tulisan ini juga.

Sumber: Ar Rahmah Media

~

Konsep Kerahasiaan Dalam Dakwah dan Jihad

Oleh:  Budi Yahya (Aktivis Syabab Institut)

Jenderal Mahmud Syaith Khathab, mantan perwira tinggi militer Syria, pernah mengungkapkan komentar dan kekaguman beliau seputar strategi perang Rasulullah. Dalam karyanya “Rasulullah Qaid”, pada bab Fathu Makkah, beliau menyatakan bahwa salah satu factor kunci kemenangan kaum muslimin adalah unsure kejutan kepada musuh dan komitmen menjaga rahasia tingkat tinggi yang diperagakan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum.
Lain dari itu, dalam buku kecil “Kitman” beliau menyebutkan, bahwa salah satu sebab kekalahan kaum muslimin dalam perang enam hari melawan Israel tahun 1967 adalah lemahnya kaum muslimin dalam menjaga rahasia militer. Sehingga intel Israel dapat meraup info strategis seputar detail kekuatan militer bangsa Arab saat itu.

Dua kondisi beda masa ini, pernah terjadi dalam sejarah kaum muslimin. Disatu sisi, unsur siriyah (kerahasiaan) memegang peran kunci. Keberhasilan sebuah peperangan terkait erat dengan kejelian mengatur strategi, menyembunyikan rahasia dan efek kejut yang tidak diduga oleh musuh.
Namun perlu diingat, semua kisah diatas hanyalah sepenggal roman dalam dunia militer. Satu pertanyaan menggelitik, bisakah konsep siriyah diterapkan dalam ranah dakwah ?
Kalaupun bisa, sebatas apa penerapan siriyah dalam dakwah ?. Adakah kesamaan tabiat antara keduanya ?.
Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz dalam bukunya “Al Umdah fi I’dadil ‘Uddah” membagi kajian siriyah dalam dua tema. Yaitu Siriyah dalam Dakwah dan Siriyah dalam Perang.

1. Konsep Dakwah. Siriyah ataukah Jahriyah ?
Tabiat dakwah Islam adalah Jahriyah dan terang-terangan. Karena dakwah islam adalah dakwah bagi seluruh alam dan semua makhluk.
Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah : 67).

Imam Al Qurthuby dalam tafsirnya, mengutip perkataan Ibnu Abbas tentang ayat ini, “Makna ayat ini adalah sampaikanlah semua yang diturunkan Rabb-mu kepadamu, bila engkau menyembunyikan sesuatu darinya, maka engkau tidak menyampaikan risalah. Ini adalah bentuk ta’dib (pelajaran) bagi Nabi dan para pengusung ilmu untuk tidak menyembunyikan sedikitpun syari’at Allah”.[1]
Rasulullah sendiri tidak menampakkan dakwah beliau hingga diizinkan oleh Allah.
Allah juga berfirman :

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا
“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (Al-Isra’ : 110).

Imam Al-Bukhari menjelaskan, ayat ini diturunkan sedangkan Rasulullah di Makkah dan masih menyembunyikan dakwah beliau.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam syarhnya mengatakan, “Merahasiakan dakwah di Makkah adalah dimasa awal Islam”.
Allah berfirman :

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Al-Hijr : 94).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan : “Dari Abdullah bin Mas’ud beliau berkata : “Nabi masih merahasiakan dakwahnya hingga turunnya ayat ini.”[2]
-          Menyembunyikan Keislaman
Allah berfirman :
وَقَالَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ آَلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ
“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata…  (Ghafir : 28).
Imam At Thabary berkata, “Laki-laki yang menyembunyikan imannya karena takut kepada Fir’aun atas keselamatan jiwanya.”[3]
Allah berfirman dalam surat Al-Kahfi :

وَكَذَلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا (19) إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا (20)

“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun (19) Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya.” (Al-Kahfi : 19-20).

Dari Ibnu Abbas beliau berkata, Rasululullah berkata kepada Al-Miqdad : “Jika seseorang hidup bersama orang-orang kafir, yang bila menampakkan imannya, pastilah mereka membunuhnya. Begitulah keadaanmu yang menyembunyikan iman ketika engkau di Makkah”.[4]

Dalam kisah keislaman Abu Dzar Al-Ghifari. Beliau menemui Rasulullah dan berkata : “Tunjukkan Islam kepadaku”. Kemudian Rasulullah mengajarinya tentang islam. Abu Dzar berkata : “Dan akupun masuk islam.” Rasulullah berkata kepadaku : “Wahai Abu Dzar, sembunyikan urusan keislamanmu ini dan kembalilah ke negerimu. Bila telah sampai padamu kabar terangnya urusan dien ini, maka terimalah.” Maka aku berkata, “Demi Dzat Yang mengutusmu dengan Al-Haq, sungguh akan aku tampakkan urusan ini di depan kaumku.”[5]
Al-Hajjaj bin ‘Ilath menyembunyikan keislamannya dari penduduk Makkah. Beliau juga meminta izin kepada Rasulullah tentang urusannya ini. Untuk tidak menampakkan keislamannya hingga ia selesai mengumpulkan harta bendanya di Makkah.[6]

Imam Muslim meriwayatkan dalam Kitabul Iman :
Dari Hudzaifah berkata : “Kami bersama Rasulullah, beliau berkata : “Tunjukkan kepadaku, berapa kali kalian mengucapkan keislaman ?.” Kami berkata : “Wahai Rasulullah, apakah engkau mengkhawatirkan kami dan jumlah kami antara 600 hingga 700 orang ?.” Rasul menjawab : “Sesungguhnya kalian tidak akan tahu bila kalian di uji.” Hudzaifah berkata : “Dan benarlah, kami di uji hingga sebagian dari kami shalat dengan diam-diam.”
Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan, “Sungguh aku melihat, bahwa kami di uji hingga sebagian kami shalat sendiri dalam ketakutan.”[7]

Imam An-Nawawi berkata : “Bisa jadi hal ini dikarenakan fitnah yang menimpa waktu itu.”
Dari semua kisah dan riwayat di atas, bisa diambil benang merah, bahwa menyembunyikan iman (dengan ungkapan lain melakukan siriyah) adalah sesuatu yang masyru’ untuk kondisi tertentu. Saat ujian dan fitnah yang dahsyat menerpa. Fitnah yang melahirkan ketakutan dan menyisakan penderitaan karena beratnya ancaman dan tekanan musuh-musuh Allah.

Namun yang perlu diingat, hanyasanya tabiat asli dakwah islam adalah Jahriyah. Kecuali dalam kondisi tertentu, maka tabiat asli Jahriyah dalam dakwah lebih diakhirkan demi menjaga maslahat yang lebih besar dan mendesak.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Siapapun kaum muslimin yang tinggal dalam satu wilayah atau masa dan kondisinya lemah, maka hendaknya ia mengamalkan ayat sabar, toleransi dan memaafkan siapa saja yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Yaitu Ahli Kitab dan orang musyrik. Sedangkan jika kondisi kuat, maka mengamalkan ayat-ayat perang terhadap dedengkot kekafiran yang menyerang dien  dan ayat-ayat qital atas Ahli Kitab hingga membayar jizyah sedang mereka dalam keadaan hina.[8]

2. Siriyah dalam Askari (militer)
Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, bahwa tabiat asli dakwah islam adalah jahriyah, karena ia adalah dakwah bagi seluruh alam. Kecuali dalam beberapa kondisi yang dikecualikan hingga terkadang menjadi dakwah sirri.
Adapun tabiat asli dalam urusan militer adalah sirriyah. Ini adalah menu wajib dalam setiap peperangan. Tuntutan yang selalu muncul adalah bagaimana menyembunyikan setiap gerakan, informasi, strategi, dan rahasia-rahasia militer. Semua ini perlu ditempuh untuk menghasilkan efek kejutan dan hantaman yang tepat atas sasaran musuh. Karena kejutan dan serangan yang tiba-tiba tanpa diketahui adalah penyebab kemenangan.
Beberapa dalil yang menguatkan :

1. Sabda Rasulullah :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَلَّمَا يُرِيدُ غَزْوَةً يَغْزُوهَا إِلَّا وَرَّى بِغَيْرِهَا حَتَّى كَانَتْ غَزْوَةُ تَبُوكَ فَغَزَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ وَاسْتَقْبَلَ سَفَرًا بَعِيدًا وَمَفَازًا وَاسْتَقْبَلَ غَزْوَ عَدُوٍّ كَثِيرٍ فَجَلَّى لِلْمُسْلِمِينَ أَمْرَهُمْ لِيَتَأَهَّبُوا أُهْبَةَ عَدُوِّهِمْ وَأَخْبَرَهُمْ بِوَجْهِهِ الَّذِي يُرِيدُ[9]

Artinya : “Adapun Rasulullah shalallahu aliahi wa sallam bila ingin keluar berperang, maka beliau menyembunyikan urusan dengan selainnya. Hingga perang Tabuk beliau lakukan dalam kondisi panas yang sangat, menempuh jarak yang jauh dan memayahkan serta menghadapi musuh yang banyak. Beliau hanya memerintahkan kaum muslimin untuk bersiap menghadapi musuh dan mengkhabarkan sesuatu yang beliau ingin.”
Hadits ini menunjukkan, betapa tabiat asli dalam urusan militer adalah siriyah. Faidah lainnya adalah seorang amir boleh memerintahkan pasukannya untuk bersiap-siap dan keluar menuju medan tempur, meski tanpa memberi tahu tujuannya kepada para pasukan.

Faidah selanjutnya adalah menyembunyikan informasi, tujuan, strategi, dan rahasia bukan hanya dari incaran musuh. Namun dari rekan sendiri juga perlu dirahasiakan. Supaya informasi tetap terjaga kerahasiaannya dan membatasinya agar hanya menyebar pada satu lingkup tertentu, sekaligus meminimalisir kemungkinan bocornya informasi kepada orang yang tidak berkompeten.
Sebuah pepatah mengatakan,
“Rahasiamu adalah harga darahmu, maka lihatlah dimana engkau menaruhnya.”

2.      Bai’at Aqabah yang juga dilakukan secara siriyah[10]
Bai’at Aqabah dilaksanakan secara rahasia. Pada bai’at Aqabah kedua, Rasulullah dan beberapa sahabat Madinah menjalin hubungan sembunyi-sembunyi di sebuah bukit di Aqabah pada pertengahan hari Tasyriq atau tatkala melempar Jumrah pertama setelah dari  Mina. Agar pertemuan lancar, harus dilaksanakan sembunyi-sembunyi pada malam hari yang gelap.[11]

3.      Hijrah Nabi
Dalil lain adalah peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah yang dilakukan sembunyi-sembunyi.
Allah berfirman :

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita…” (At-Taubah : 40).

Abu Bakar berkata : “Aku berkata kepada Rasulullah : ‘Kalau saja mereka melihat ke bawah kaki mereka, niscaya mereka akan mendapatkan kita.’ Rasulullah berkata : ‘Apa pendapatmu wahai Abu Bakar, jika ada dua orang sedangkan Allah menjadi yang ketiga ?.”
Nabi juga berkata kepada Suraqah bin Malik yang membuntuti hijrah beliau, “Rahasiakan urusan kami ini… !”

4.      Sariyah Abdullah bin Jahsy
Rasulullah menulis pesan kepada Abdullah bin Jahsy, sekaligus memerintahkan beliau untuk tidak membukanya hingga melalui dua hari perjalanan.

5.      Mata-mata dan spionase atas musuh
Telah menjadi sebuah kelaziman, dimana Rasulullah sering mengutus mata-mata untuk beberapa tugas. Seperti mencari informasi, melakukan penyergapan tersembunyi maupun menimbulkan perpecahan dan kekacauan dibarisan musuh. Sebagaimana beliau mengutus Hudzaifah untuk menyusup ke perkemahan pasukan Ahzab, juga Zubair bin Awwam sebagai spion seorang diri.

6.      Nu’aim bin Mas’ud merahasiakan keislamannya
Hal ini beliau lakukan untuk melicinkan misi dalam memecah belah dan mengadu domba antara musyrikin Quraisy dan Yahudi Bani Quraizhah dalam perang Ahzab.
Ibnu Ishaq mengatakan, “Nu’aim mendatangi Rasulullah dan berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sudah masuk islam dan kaumku belum mengetahui keislamanku. Maka perintahkanlah aku sesukamu.” Rasulullah bersabda : “Hanyasanya bagi kami, engkau adalah seorang lelaki. Maka hilangkanlah beban ini jika engkau mampu. Sesungguhnya perang adalah tipu daya.”[12]

Dakwah dan jihad ibarat dua sayap bagi seekor burung. Ia tidak akan terbang sempurna bila salah satu sayapnya terluka. Dakwah dan jihad dengan berbagai romantikanya, ternyata memiliki tabiat yang berbeda. Dakwah lebih bersifat jahriyah, sesuai dengan ruhnya sebagai rahmat bagi seluruh alam. Sementara sirriyah adalah tabiat asli dalam ranah militer.

Kesalahan dalam memahami dua tabiat ini, tentu menghasilkan ketimpangan dalam perjalanan Iqamatuddin. Karena hal ini berarti menaruh sesuatu tidak pada tempatnya. Ibarat seekor ikan yang ditiriskan di atas nampan kering. Sejenak ikan itu terlihat hidup, namun bukan untuk waktu yang lama. Jangan sampai sesuatu yang seharusnya diungkap dan diobral untuk kaum muslimin, hanya menjadi santapan pribadi lantaran beralasan siriyah. Atau sesuatu yang harus dirahasiakan, malah menjadi konsumsi orang banyak.
Wallahul Musta’an. 

[muslimdaily.net]

~